"Nyonya! Nyonya, tolong diminum dulu air hangatnya, tubuh Nyonya gemetaran banget dari tadi!" panggil Bi Minah panik sambil menyodorkan cangkir dengan tangan yang ikut gemetar, melihat Vero yang duduk membeku di tepi sofa dengan tatapan kosong menatap ponsel pintarnya. Vero sama sekali tak mengindahkan cangkir tersebut. Jarinya yang pucat terus-menerus menekan tombol panggil ulang ke nomor Gavin, lalu beralih ke nomor Reno, hanya untuk disambut oleh suara mesin operator yang sama secara berulang-ulang. "Tetap enggak aktif, Bi. Kenapa semuanya mati?! Kenapa Mas Reno juga mati nomornya?!" bisik Vero dengan suara serak yang nyaris habis, matanya yang sembab dan merah memancarkan ketakutan luar biasa. "Nyonya, istigfar Nyonya ... jangan seperti ini," tangis Bi Minah pecah, tak kuasa meliha

