Malam kesepuluh sejak keberangkatan Gavin ke London bener-bener menjadi malam yang paling berat bagi Veronika. Jakarta diguyur hujan deras sejak sore, menyisakan hawa lembab dan dingin yang bener-bener menusuk hingga ke dalam tulan. Di dalam penthouse Sudirman yang megah, Vero duduk meringkuk di atas ambal bulu tebal di ruang tengah, memeluk kedua lututnya sendiri di depan televisi yang menyala tanpa suara. Wajah cantiknya bener-bener tetap lempeng, datar, dan luar biasa cuek bebek. Namun, kilat di sepasang mata bulatnya gak bisa berbohong. Ada kekosongan emosi yang bener-bener dalam di sana. Sisi abai dan masa bodoh yang biasanya menjadi tameng terbaik Vero bener-bener mulai lumpuh malam ini. Hatinya yang bener-bener keras kepala dipaksa menyerah kalah oleh rasa kehilangan yang kia

