"Selamat datang di rumah, Vero. Rumah ini sekarang bukan cuma punya aku, tapi rumah kita," ucap Gavin berucap lembut saat mobil mereka berhenti tepat di depan gerbang megah kediaman pribadinya di Jakarta. Vero menatap bangunan bergaya minimalis modern yang sangat luas itu dengan tatapan takjub sekaligus gugup. "Rumah kita? Gavin, kita belum menikah, dan aku rasa ini terlalu cepat untuk membawa Kakek ke sini." "Kakek butuh ketenangan dan peralatan medis terbaik yang sudah aku siapkan di sayap barat rumah ini," ujar Gavin membukakan pintu mobil untuk Vero. "Jangan khawatir, semuanya sudah diatur. Kamu hanya perlu fokus pada pemulihan Kakek." Vero melangkah turun, namun nafasnya tercekat saat melihat seorang wanita berdiri di teras rumah Gavin, wanita yang sangat ia kenal, seseorang yang s

