Malam beranjak semakin larut, namun suasana di dalam penthouse mewah Sudirman itu bener-bener terasa mencekam. Bunyi rintik hujan yang menghantam dinding kaca raksasa menjadi satu-satunya melodi yang memecah kesunyian pasca makan malam yang bener-bener hambar. Di atas meja konter, piring-piring makanan mewah kiriman koki pribadi Hendra lagi-lagi cuma diaduk setengah oleh Vero, sementara Gavin sama sekali gak menyentuh garpunya sendiri. Vero berdiri dari kursi makannya, berniat melangkah menuju kamar tidur santai di sebelah untuk mengunci diri dan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Namun, baru dua langkah kaki mungilnya bergerak, sebuah dekapan erat yang bener-bener posesif dan gemetar kembali menyergapnya dari belakang. Gavin memeluk pinggang Vero begitu kuat, menyurukkan wajah ta

