Hampir tiga puluh menit waktu berjalan terasa seperti siksaan yang lambat bagi dua orang yang terpisah oleh pintu kayu toilet privat tersebut. Di luar, suara bariton ketat dari Komisaris Utama Lorenso Holdings terdengar menggelegar, membahas fluktuasi saham dan regulasi proyek resor baru bersama jajaran direksi senior. Gavin menanggapi setiap instruksi ayahnya dengan artikulasi yang bener-bener tenang dan tak tersentuh, meskipun fokus pikirannya tersedot sepenuhnya pada gadis yang sedang bersembunyi di dalam kamar mandinya. Begitu derap langkah kaki formal rombongan direksi itu akhirnya menjauh dan pintu jati besar ruangan CEO tertutup rapat, suasana mendadak kembali senyap. Gavin menghembuskan napas panjang, melonggarkan dasinya lagi dengan sentakan frustasi yang bener-bener kentara.

