Kepalanya terus menoleh ke kanan dan kiri, keringat dingin tampak memenuhi wajahnya yang gelisah. Cengkeraman kuat pada selimut membuat benda itu kusut, napasnya terdengar memburu begitu matanya terbuka. Tidak ada yang lebih mengerikan selain terjebak dalam ingatan aneh, meskipun hanya melalui sebuah mimpi. Chloe mengerutkan kening, remangnya cahaya ruangan membuat ia tidak dapat melihat dengan jelas sosok yang berdiri di samping ranjang. Chloe tidak dapat memastikan siapa gerangan sosok itu, tetapi ia memastikan sosok tersebut merupakan seorang pria. Hal itu bisa dilihat dari perawakan tubuhnya yang tinggi, aroma maskulin samar-samar memasuki indra penciuman Chloe. Aroma itu terasa tidak asing baginya, ia hendak menyentuh wajah itu, tetapi tangannya terlalu lemah untuk sekadar terang

