Di sinilah mereka berada, sebuah kafe dekat rumah sakit yang menjadi pilihan Sean untuk berbicara. Pandangannya tak pernah beralih sosok pria setengah baya yang duduk berhadapan dengannya, dia memandang lekat pada pria itu. Dilihat seperti apa pun, tidak ada yang berubah dari pria itu. Mungkin yang membedakan adalah rambut-rambut halus di sekitar rahang yang mulai lebat, rambut hitamnya pun tampak lebih panjang dan disisir dengan asal. Penampilan yang selalu rapi itu, kini seolah menjelma menjadi orang asing. "Bagaimana kabarmu? Tak aku sangka kau tumbuh dengan cepat, padahal dulu kau hanya seorang anak-anak yang merengek ketika bertengkar dengan putriku." Pria itu membuka pembicaraan, terdengar nada sendu dalam ucapannya. Gurat lelah tampak jelas di wajah yang terdapat beberapa bekas l

