George duduk termenung, pikirannya melayang jauh ke segala hal. Panggilan berulang kali dari pria di depannya, sama sekali tak masuk ke telinga. Perkataan Sean beberapa menit lalu, masih membekas di kepalanya. Kata ayah yang selalu terlontar dari mulut Sean, kini hanya dapat didengarnya dari dalam benak. Tatapan penuh harap itu, kini hanya ada tatapan penuh kebencian yang terarah padanya. George tertunduk lesu, rasa sesak membuat keningnya mengernyit. Apa ini? Mengapa rasanya sangat sakit? Bukankah selama ini dirinya terbiasa hidup dalam kegelapan, tetapi mengapa sekarang begitu gelap gulita. Dia berdiri, tetapi tubuhnya terlalu lemah sehingga limbung dan akhirnya jatuh terduduk. George terus memukul d4danya, berharap dapat mengurangi rasa sesak. Dia mendongak, linangan air mata perlaha

