Kangen Ibu

822 Words
“Assalamualaikum , Bu.”sapaku sama Ibu “Wa alikumus’salam wa rahmatullah“ jawab Ibuku di seberang sana.“Ibu lagi apa, Ibu sehatkan?” tanyaku pada Ibu. Aku bertanya pada Ibu terkait kesehatannya. Karena usia Ibuku saat ini sudah tidak muda lagi yaitu 62 tahun, begitupun Ayah, usia beliau sudah mendekati 70 tahun, sehingga kami khawatir dengan kondisi kesehatannya. Dulu waktu Aku tinggal bersama mereka, semua kebutuhan mereka berdua, Aku dan suamiku yang menyediakannya. Begitupun dengan anak-anakku, dari mulai yang kecil hingga anak yang besar, Ayah dan Ibu lah yang mengurusnya setiap hari kecuali hari sabtu dan minggu, karena kerjaku libur. Kebetulan kedua Anakku di asuh sama beliau berdua dari usia 4 bulan, sebab jatah cuti melahirkanku sudah habis, Aku harus kembali lagi bekerja seperti biasa. “Ibu baru selesai dari lapangan olah raga, bareng Ayah, Ini baru saja selesai ganti baju rumah. Ibu sama Ayah sehat, cuma terkadang lutut Ibu sakit kalau di gunakan untuk naik tangga” jawab Ibu, sambil sedikit mengeluh tentang penyakitnya. “Iya, bu. Jangan melakukan aktivitas yang berat dulu ya, Bu. Kalau bisa obat dari dokternya terus di konsumsi. Kalaupun nanti ibu mau minum tradisonal, silahkan sebagai tambahan saja.” Pesanku sama Ibu. Aku mengingatkan Ibu agar tidak melakukan aktivitas yang berat-berat terlebih dulu, agar tidak sakit kakinya. “Mau main ke rumah Ibu? anak-anak bagaimana kabarnya, ibu sama Ayah kangen juga sama cucu-cucunya. Kalau nanti Ayahmu tidak ada kegiatan ,Insha Allah besok Ibu yang main ke rumah kamu, ya” ucap Ibuku. Ibu mungkin sudah kangen-sama kedua cucunya,yang biasanya hampir setiap week end, kami selalu datang ke rumahnya Ibu, tapi sudah dua bulanan ini, belum sempat berkunjung. “Enggak usah bu, biar nanti kita saja yang ke rumah Ibu, Ibu Istirahat saja, jangan terlalu capek, ya” jawabku . ‘Ya sudah kalau begitu, salam buat Anak-anak dan Ayahnya juga. Ibu mau selonjoran dulu, sama nanti mau rebusin daun salam sama daun bidara buat Ayahmu”. “Iya, Bu makasih ya. Nanti Rahma sampaikan salamnya, sehat terus ya, Bu. Sampai ketemu besok. Assalamualaikum” pamitku sama Ibu. Ibuku memang sudah lama suka mengeluh nyeri pada lututnya kalau habis jalan jauh ataupun menaiki anak tangga. Saat beliau masih aktif mengajar tidak pernah mengeluh sakit apapun, tapi semenjak dari pensiun mengajar, Ibu sering mengeluh nyeri di bagian lutut kaki kanannya. Beberapa bulan yang lalu beliau sempat diperiksa ke Rumah Sakit, Dokter nya menyatakan jika diagnosa penyakit ibu adalah Artritis( radang sendi). Menurut dokter, Nyeri sendi adalah rasa sakit dan tidak nyaman pada sendi, yaitu jaringan yang menghubungkan dan membantu pergerakan antara dua tulang. Sendi terdapat di seluruh tubuh, termasuk bahu, pinggul, siku, lutut, jari-jari, rahang, dan leher. Terus kata dokter tersebut, salah satu penyebab nyeri sendi yang di rasakan Ibu adalah, karena Ibu juga menderita Penyakit asam urat (gout dan pseudogout) yang biasanya menyebabkan nyeri pada sendi jempol atau lututnya saja. Sedangkan keluhan pada Ayahku, saat ini hanya pada tekanan darahnya .Tensi Ayahku lumayan tinggi bisa mencapai 150/90, tapi Alhamdulillah Ayah tidak pernah mengeluh dengan penyakitnya dan beliau masih rutin mengkonsumsi obat tradisional. Terkadang sebelum berkunjung ke rumah Ibu, kami sellau menanyakan terlebih dahulu, mau di belikan makanan atau buah-buahan apa, karena kalau kami langsung membelikannya tanpa tanya dulu apa yang di mau, gak pernah habis. Jadi darpida mubazir makanannya atau membusuk buahnya, lebih baikku tanyakan dulu apa yang di maunya. Pokoknya saat ini Aku, Adiku dan Kakaku berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka dan berusaha memenuhi apa yang mereka mau, itung-itung membalas budi kami yang sudah dirawatnya dari kecil hingga dewasa.Di tambah lagi Aku, selain Ibu mengurusku, kedua anakku pun di rawatnya. “Sehat-sehat terus ya Ayah dan Ibu,Aku kangen kalian berdua. Insha Allah kami akan merawatmu hingga Akhir hayat kalian, Amiin..” gumamku dalam hati. Tidak terasa kedua sudut mataku meneteskan air mata, ketika Aku selesai menutup percakapan degan Ibu. Aku tahu besok tidak mungkin berkunjung ke rumah Ibu bareng Mas Herman, sebab Dia sudah mempunyai kegiatan untuk besok. Mungkin nanti Aku dan Anak-anak naik kendaraan umum. Kebetulan untuk menuju ke rumah Ibu ada beberapa altrenatif transportasi. Bisa menggunakan bis umum, nanti turun di depan terminal, lalu menyambung naik angkot yang ke arah kompleks,Ibu. Selain itu bisa memilih menggunakan kereta listrik Commuter Line yang menuju arah Banten, turun di Stasiun Sudimara selanjutnya langsung menyambung menggunakan angkutan kota yang menuju kompleks. Hanya repotnya, bawa Anak- anak hatua berpindah-pindah kendaraan dan sudah pasti dengan barang bawaan yang ku jinjing nanti. Paling yang lebih simple untuk menuju ke rumah Ibu adalah memesan Taxi, naiknya dari depan rumah dan bisa langsung turun di depan kompleks Ibu. “ Andaikan Mas Herman mau membatalkan acara besok untuk mancing di bogor, mungkin Aku dan Anak-anak bisa dengan kendaraan sendiri " gumamku. Aku harus bilang sama Mas Herman, agar Dia bisa mengantarkan Aku dan Anak-anak lebih dulu ke rumah Ibu, setelah itu baru pergi ke tempat pemancingan. Mudah- mudahan Mas Herman mau mengantarkan ku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD