Ini adalah sebuah negara bernama Iranjia. Negara yang dikenal dengan sumber daya alam melimpah ini hanya memiliki satu daratan besar dan beberapa pulau-pulau kecil tak berpenghuni. Wilayah perairannya pun dapat dikategorikan cukup luas dan dikenal dunia dengan kecantikannya.
Daratan negara ini dibagi menjadi 5 wilayah utama yang terdiri dari Distrik Pusat, Distrik Timur, Distrik Selatan, Distrik Barat, dan Distrik Utara. Segala pusat pemerintahan dan bidang vital dilaksanakan di Distrik Pusat. Masing-masing distrik di negara ini punya potensi tersendiri dan dijadikan pusat dari suatu bidang. Distrik Timur menjadi pusat ekonomi, dimana banyak industri dan perusahaan didirikan di sana. Distrik Selatan menjadi pusat militer dimana banyak pangkalan militer dibangun. Distrik Barat menjadi pusat dari bidang peternakan, kelautan, dan pertanian. Serta ada pula Distrik Utara yang menjadi pusat dari bidang pertambangan.
Untuk masalah pendidikan, di setiap distrik tentu saja sudah terbangun banyak sekolah dan universitas dengan taraf nasional yang sama. Namun, semua penduduk di negara ini tahu bahwa universitas yang paling terkenal di negara ini adalah Universitas Tenggara, dimana banyak lulusannya yang menjabat sebagai orang penting di negara ini. Universitas yang terletak di wilayah Distrik Timur dan Distrik Selatan ini bahkan memiliki puluhan dosen dari luar negeri.
Dari tahun ke tahun, sejak Iranjia merdeka dari jajahan bangsa asing, pertumbuhan ekonomi di negara ini semakin meningkat ke taraf yang lebih baik. Bahkan presiden kali ini pun yakin bahwa 20 tahun mendatang negara ini menjadi salah satu negara yang berstatus maju. Namun, sebuah pandemi telah datang menghantui umat manusia di milenium kedua ini. Semua harapan dan impian dari negara musnah. Berita kematian dimana-mana. Semua orang dalam keadaan terpuruk. Pemandangan orang bunuh diri pun menjadi konsumsi publik.
Karena sekali lagi, dunia dalam keadaan krisis akibat pandemi yang disebabkan oleh virus exitium-zero, virus yang menyebabkan penderitanya mengalami depresi berlebihan.
Jumlah pasien Ex-0 per 13 Oktober di seluruh dunia adalah 11.003.809 jiwa dengan 50% dinyatakan meninggal dunia.
Pagi ini menampilkan matahari yang bersinar cerah. Bagi kebanyakan orang ketika sepuluh bulan yang lalu, mungkin hari ini dianggap hari yang membahagiakan. Burung berkicau riang dan bau embun pagi sungguh menenangkan. Tapi kini, entah kenapa rasanya setiap pagi selalu berhawa suram. Seperti tidak ada lagi pagi indah yang selalu disambut dengan suka cita.
Meskipun begitu, semua hal tersebut tidak berlaku bagi sebagian orang yang masih memiliki semangat hidup tinggi di tengah pandemi ini. Salah satu yang tertera jelas adalah seorang gadis yang saat ini memakai kemeja kotak-kotak berwarna coklat. Senyumnya merekah lebar dibalik masker yang ia kenakan. Rambut hitamnya yang diikat tampak menari seirama dengan langkah kakinya.
“Pagi yang cerah untuk bekerja, yeah!” Tangan gadis itu turut terbentang tatkala mengucapkan hal tersebut.
“Aduh.”
Dan suara keluhan itu sontak membuat senyumnya sirna. Bodoh, apa yang telah ia lakukan? Apa ia tak sengaja meninju orang? Tanpa pikir panjang, gadis yang merupakan dokter koas itu pun langsung menoleh ke belakang.
“Loh, kau ini? Rafael Zohan?”
Seorang pemuda bersurai coklat yang tampak mengelus-elus keningnya langsung menatap gadis yang memanggilnya tersebut. Kalau tidak salah, dia salah satu dokter koas kemarin kan? Apakah gadis bernama Alexa Liezel ini yang meninjunya beberapa saat yang lalu?
Di halaman rumah sakit yang sepi karena masih jam 6 pagi ini, kedua anak muda itu saling memandang dalam diam.
Seolah baru menyadari sesuatu, Alexa langsung memandang khawatir pada pemuda bermasker hitam itu. “Kau terkena tanganku ya? Apa kau tidak apa-apa?”
Rafael yang ditanyai seperti itu sontak menurunkan tangannya dari dahi, tanda ia tidak apa-apa. “Aku tadi hanya kaget karena tiba-tiba ada tangan yang menampar dahiku. Jadi, refleks berkata aduh.”
Alexa Liezel hanya bisa memasang senyum canggungnya. Gawat, dia. Mereka bahkan belum pernah berbicara atau mengobrol tapi ia justru menggampar dahi pemuda di depannya ini.
Mengingat kejadian semalam tentang Dika membuat Alexa yakin bahwa mahasiswa dari Universitas Tenggara ini pasti membenci anak-anak koas. Dika memang keterlaluan, ia dan teman-temannya yang mengejar pemuda itu kemarin justru kena sembur olehnya. Memikirkan kejadian semalam membuat gadis ini tanpa sadar melamun. Rafa yang melihatnya hanya bisa berkedip tak paham.
“Kenapa diam? Bukankah kita harus bergegas menemui dr. Deva? Aku pergi dulu kalau begitu. Permisi.”
Melihat Rafa yang pergi berlalu, Alexa pun segera berlari kecil untuk mengejarnya. Ia berusaha menyamai langkah dengan pemuda blasteran Eropa tersebut.
“Hei, tunggu dulu! Ayo masuk bersama!”
Rafa yang mendengar itu langsung memelankan langkah kakinya. Pemuda dengan muka suntuk itu pun akhirnya berjalan beriringan dengan Alexa. Kantong matanya yang jelas langsung menjadi pusat perhatian gadis itu.
“Semalam kau tidak bisa tidur?”
“Ya, setelah rapat kemarin aku dan teman-temanku berdiskusi panjang dan lebar. Ada keanehan terjadi. Kami berusaha menghubungi rektor kami tapi tidak bisa, mungkin karena tengah malam kali ya? Tapi akhirnya karena banyak pikiran, aku pun tidur yang paling akhir. Tadi pagi ketika bangun, teman-temanku sudah pergi dulu dan aku ditinggal,” jelas Rafa.
“Malang sekali dirimu ini. Ngomong-ngomong soal kemarin, aku minta maaf atas perlakuan Dika ya? Entahlah, mood anak itu sering kali berubah-ubah. Dia memang begitu, jangan terlalu dimasukkan hati ya?” balas Alexa.
Rafa yang mendengar itu sedikit menerawang ke depan. “Sepertinya ia bersikap seperti itu karena pertemuan pertama kami kurang menyenangkan.”
“Apakah yang kau maksud itu waktu di koridor kemarin malam? Saat aku dan dokter koas lain menangkap basah kalian yang tengah berdebat dengan Dika?”
Rafa mengangguk. “Ya, beberapa saat sebelum rapat ada insiden itu.” Pemuda itu memasang ekspresi tak habis pikir, “Padahal kami hanya bertanya dimana letak ruang auditorium tapi dia justru marah-marah.”
Saat itu, Alexa yang mendengarkan penuturan dari Rafa hanya bisa tertawa riang karena tak habis pikir dengan Dika. Entah kenapa, gadis bersurai panjang ini merasa nyaman untuk mengobrol bersama Rafa. Pemuda berambut coklat ini memang telah menarik atensinya sejak mereka diperkenalkan kemarin. Ia seperti sosok yang misterius dan penuh tanda tanya. Gadis penyuka hal penantang ini pun berusaha mencari lebih dalam tentang dia.
Pertemuan mereka kali itu bisa jadi merupakan sebuah awal dari langkah besar yang akan diambil oleh keduanya.
Hari ini para dokter koas dan keempat mahasiswa dari Universitas Tenggara akan mendapat pengarahan dari Dokter Deva. Mahasiswa Tenggara yang setiap harinya berkutat di laboratorium selama ini sepertinya akan dipindahkan ke divisi baru. Di lain sisi, mahasiswa koas akan membantu setiap hal yang diperlukan keempat pemuda ini selama berinteraksi dengan para pasien. Sejauh ini, hal itulah yang Rafa ketahui.
Alexa dan Rafa yang masih berjalan di sepanjang halaman rumah sakit tampak terus menyambung obrolan. Gadis yang mendengar cerita Rafa mengenai perdebatan Mahasiswa Tenggara dan Dika kemarin hanya bisa menorehkan senyum tak percaya. Apa semua anak laki-laki itu hobinya ‘senggol bacok’ ya?
Keheningan pun menyelimuti keduanya. Langkah kaki mereka pun mulai memasuki koridor rumah sakit. Rafa tampak melihat sekeliling dengan netra hijaunya. Ia lalu menatap gadis di sampingnya itu.
“Aku harus memanggilmu siapa? Alexa?”
Mendengar pertanyaan secara tiba-tiba dari Rafa, gadis berkuncir itu langsung saja mengangguk setuju.
Rafa lalu menoleh ke arahnya, ia melanjutkan, “Sebenarnya ada hal yang ingin kutanyakan. Bukankah untuk hitungan dokter koas, jumlah kalian itu terlalu sedikit? Ini Rumah Sakit Distrik Pusat Hetalia, tidak mungkin yang diterima koas hanya lima orang kan?”
Mata Alexa tampak menerawang jauh. Langkah kaki keduanya pun membawa ke anak tangga. Mereka menaikinya dan menuju ke ruang auditorium kemarin untuk menemui dr. Deva. Melihat tatapan dan diamnya Alexa, sepertinya Rafa mulai mengerti arah pembicaraan ini.
“Apakah mereka tewas?”
Dan tebakan itu sontak dihadiahi oleh pandangan Alexa yang melebar ketika mendengarnya. Gadis itu pun sontak menghela nafas. “Sebenarnya, dulu ada sekitar 50 lulusan dokter yang daftar bersamaku untuk praktik koas di sini. Seperti yang kau tahu, Hetalia ini cukup ketat dalam seleksi. Dari 50 pendaftar yang diterima hanya 36 orang.”
Alexa lalu berhenti sejenak. Rafa yang melihat itu semakin yakin bahwa tebakannya benar. “Dari 36 orang itu, 20 orang gugur karena terinfeksi virus ini. Saat itu, kejadian ini menjadi pukulan telak bagi kami ketika 3 bulan pertama sejak virus ini menyebar. Lima orang lagi merasa depresi dan tidak kuat. Mereka bunuh diri walaupun kondisi mereka dinyatakan non-reaktif.”
Mendengar hal itu, Rafa sontak melebarkan matanya dalam sekejap. Ia tahu virus ini gila, tapi entah kenapa mendengar orang membuang nyawanya begitu saja membuat hatinya miris. Ia tidak tahu bagaimana rasanya orang seperti Alexa. Dirinya yang hanya bisa karantina di rumah sebelum ada proyek vaksin ini saja sudah miris mendengar begitu banyak berita dari pasien yang terpapar virus ini. Para dokter di sini benar-benar berhati baja.
“Lalu sisanya yang sebelas orang ke mana?” tanya Rafa.
“Setelah kejadian itu, rumah sakit tidak mau menanggung amarah dari wali kami karena mereka khawatir dengan nasib anaknya. Jadi, pihak rumah sakit membuka kesempatan bagi siapa saja mahasiswa koas yang ingin undur diri untuk keluar dari rumah sakit ini. Sebelas orang itu pun akhirnya undur diri dari program koas,” jelas Alexa pada Rafa yang sedari tadi memperhatikannya.
“Jadi, mereka menyerah pada mimpinya sebagai dokter?”
Alexa yang ditanyai itu sontak menorehkan senyum sumbang ke arah Rafa. “Entahlah ya, kau bisa pikirkan jawabannya sendiri.”
Rafa yang dibalas seperti itu hanya bisa diam. “Kau tahu, virus gila ini benar-benar mengerikan,” celetuknya.
“Hei, kau juga memanggil virus ini dengan sebutan virus gila? Kukira hanya aku saja.”
Alexa sontak tertawa receh ketika ada orang yang menyebut virus ini dengan sebutan sama dengan yang dibuatnya. Tawa itu sontak dibalas Rafa dengan kekehan kecil. Sepertinya obrolan ia dengan gadis ini menghasilkan timbal balik yang baik. Tak terasa, di depan sana pintu ruang auditorium sudah terlihat.
“Hei Rafa, pernahkah kau berpikir bahwa virus ini dibuat oleh seseorang?”
Rafa yang mendengar itu sontak tertawa kecil. “Kau ini apa-apaan, Alexa? Bercandamu itu tidak lucu. Kau ini dokter. Kenapa percaya dengan ilmu cocoklogi yang beredar bebas di media sosial seperti itu? Sudah jelas bahwa virus ini berasal dari sapi jenis hereford di Negara Seraphin, negara tetangga kita.”
Melihat Rafa yang tak kunjung berhenti tertawa membuat Alexa mendecih tak suka. “Aku hanya terpikirkan saja. Bagaimana kalau teori itu benar? Mungkinkah pembuat virus ini punya tujuan atau motif tertentu di balik ini semua?”
Tawa Rafa semakin pecah, ia bahkan sampai berhenti melangkah sejenak dan terbatuk-batuk. Gadis ini sepertinya terlalu banyak melihat film.
“Tujuan seperti apa? Aku tahu jika mungkin saja sebuah virus dibuat oleh seseorang, tapi ayolah. Pemikiranmu ini benar-benar liar. Menyelamatkan dunia begitu?” tanya Rafa yang sudah berjalan lagi mengiringi Alexa. Mereka berdua berdiri di depan pintu ruang auditorium pas.
“Mungkin saja kan? Si pembuat virus ini bisa saja menargetkan seseorang atau suatu kelompok kejahatan agar merasa bersalah. Tapi yang terjadi justru salah sasaran,” ujar Alexa sambil tersenyum aneh dan membayangkan apabila teorinya mungkin saja benar.
“Kalau seperti itu, tak bisa kubayangkan sedepresi apa dia sekarang. Bayangkan seluruh dunia menjadi suram karena ulahnya. Bisa saja dia sekarang tewas karena rasa bersalah,” ucap Rafa bercanda.
Pemuda itu berusaha mengimbangi imajinasi yang dibuat Alexa.
“Atau bisa saja dia seorang psikopat atau masokis. Sekarang ia pasti tertawa habis-habisan karena seluruh dunia menderita,” balas Alexa penuh semangat kepada Rafa.
Keduanya pun sontak tertawa habis-habisan dengan ide-ide konyol tadi. Mereka langsung merasa pantas jika ide ini dijadikan film.
Tawa keduanya terus berlangsung sampai kehadiran pria dewasa di depannya kini tidak disadari oleh mereka. “Wah wah, sepertinya kalian berdua sudah akrab ya?”
Suara itu sontak membuat tawa yang keluar dari mulut mereka menghilang. Saat kedua pasang mata anak muda itu menengadah, mereka dapat melihat sosok dr. Deva yang matanya tersenyum ke arah mereka.
“Eh dokter? Sejak kapan?” pekik Alexa kaget. Sementara Rafa yang melihat itu langsung mengangguk hormat ke arah pria berambut gelap tersebut.
“Baru sampai. Aku melihat kalian dari kejauhan yang tampak tertawa di depan pintu. Sepertinya mengasyikkan sekali ya? Aku bersyukur kalau kalian bisa akrab,” ujar Dokter Deva. Tangan sang dokter pun membuka pintu. Ia lalu memandang ke arah Rafa dan Alexa.
“Ayo masuk.”
Ketika pintu ruangan dibuka oleh sang dokter, pemandangan yang terdapat di ruang auditorium ini sontak membuat ketiga orang itu mengaga tak percaya. Mata Alexa, Rafa, dan dr. Deva membulat kaget ketika mereka memasuki ruangan ini.
Di lantai ruangan, mereka dapat melihat Dika yang kini tersungkur dengan sudut bibirnya berdarah. Sementara di sisi lain, Rino tampak menatap tajam ke arah dokter koas itu. Sorot mata yang tercipta antara dua orang itu penuh dengan percikan rasa benci. Dokter koas dan anak Mahasiswa Tenggara lain hanya bisa berusaha untuk melerai keduanya meskipun sia-sia.
Rafa menyipitkan mata tak suka. Pemuda itu memijit pelipisnya yang berdenyut. Ia yang memiliki tanggung jawab sebagai ketua tim dari Mahasiswa Universitas Tenggara ini hanya bisa menatap ke arah tiga temannya dengan pandangan tak percaya.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”