Satu jam berlalu, tapi bagi Kian, waktu terasa berjalan begitu lambat. Setiap detik yang berlalu seperti tusukan pisau yang perlahan menghancurkan jiwanya. Ia duduk di kursi ruang tunggu, menggenggam kepalanya yang berat oleh rasa bersalah dan ketakutan. Pikirannya dipenuhi bayangan tubuh Ashley yang tak sadarkan diri dan darah yang mengotori lantai. Ketika pintu ruang operasi terbuka, Kian langsung berdiri. Kakinya sedikit goyah, tetapi ia memaksakan diri untuk mendekati dokter yang baru saja keluar. Napasnya tercekat melihat raut wajah dokter yang lesu, membuat jantungnya berdegup kencang tak beraturan. "Dokter, bagaimana dengan istriku? Apa dia baik-baik saja?" tanyanya dengan suara parau, penuh harapan. Dokter menghela napas panjang sebelum menjawab, "Istri Anda sudah melewati masa

