Satu minggu kemudian... Ashley duduk termenung di balkon rumah barunya. Tempat itu jauh dari hiruk-pikuk kota, menyuguhkan ketenangan yang ia butuhkan untuk menyembuhkan luka di hatinya. Pemandangan hijau di sekitarnya tampak damai, tetapi pikirannya terusik oleh kenangan yang terus menghantui. Matanya yang sendu menatap kosong ke kejauhan. Ingatan tentang Kian Hernandez kembali melintas, seperti bayangan yang sulit diusir. Setiap momen manis bersamanya kini terasa pahit, seolah menjadi bukti nyata kebohongan yang telah ia telan bulat-bulat. Ashley menghela napas panjang, suaranya pelan tetapi penuh emosi. "Berapa banyak wanita yang sudah kau bodohi, Kian Hernandez? Aku berharap istrimu di masa depan tidak akan terluka sepertiku." Ia tertawa getir, merasakan perih yang kembali menyeruak

