Akhir pekan yang dibenci Daisy, akhirnya tiba. Sebenarnya ia tidak mau menghadiri pesta pernikahan Evan dan Lia, tetapi bossnya itu malah memaksa. "Aku nggak sanggup," gumam Daisy. Gadis itu mencengkeram kuat gaun yang ia pakai. Daisy menarik napas dalam, mencoba menetralisir debar d**a yang terasa tak biasa. Ia tahu bahwa mulai sekarang memang harus mengiklaskan sang kekasih bersama pilihan hatinya. "Kamu udah siap?" Hinga suara Daniel seolah membuyarkan lamunan Daisy. Gadis cantik itu sontak menoleh ke arah bossnya dan malam ini pria yang pernah menghangatkan ranjang Daisy itu tampak lebih menawan dengan balutan jas mahal, serta kacamata bening yang bertengger di hidung mancungnya. "Udah, Pak," jawab Daisy. "Ayo, masuk!" Daniel membukakan pintu untuk sekertarisnya itu. "Buk

