Tidak Perlu Menjual Air Mata, Bu!

1166 Words

Aku mencebik sebal melihat ekspresi wajahnya yang terlihat puas karena berhasil membuatku kesal. Sialan memang! Benar-benar Zaki ini, nggak ada akhlak! "Hei … gue serius! Kalau butuh kerjaan, chat aja, ya!" serunya masih sambil tertawa saat menyalakan mesin mobil Aku memutar badan. Sekarang, aku benar-benar tak mau lagi percaya dengan omong kosongnya. Tak lama kemudian, kudengar suara mobilnya makin menjauh. Setelahnya, aku pun masuk ke rumah. Gegas kumatikan lampu yang subuh pagi tadi kutinggalkan begitu saja dalam keadaan menyala. [Lis, gimana? Jadi, kamu ngelabrak si Hamid rakus itu?] Seperti memiliki kontak batin, Evi mengirimi diriku pesan tak lama setelah aku merebahkan diri di atas ranjang untuk melemaskan otot dan menenangkan pikiran. Aku mendecak singkat. Bukan kesal pada E

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD