"Sudah pulang?" Jina tersentak saat mendengar suara ayahnya dari dapur. Sebelum ia muncul dari sana, Jina buru-buru bergegas ke kamarnya. Namun belum sempat ia sampai ke kamarnya, ayahnya tiba-tiba muncul ditangga, dengan dua cangkir teh di tangannya. "Bisa kita bicara?" tanya Jino. "Mau membicarakan apa? Ibu baru?" balas Jina sinis. "Kita tidak akan membicarakan itu..." "Lalu apa?" "Kita duduk dulu, tidak enak kan mengobrolan sambil berdiri? Ditangga pula," Jina menghela napas, dan akhirnya menuruti permintaan ayahnya. Mereka pun duduk di ruang tengah, dengan cangkir teh di masing-masing tangan mereka. Sejujurnya, dibanding semua makanan dan minuman yang dibuat Jino, Jina cukup suka dengan teh buatannya, meskipun agak sepat.

