Jina meletakan dagunya di atas bahu Jiles, sembari berucap. "Halo,"
"Aaaaaa!!!" teriak Jiles.
Jina memasang ekspresi datar, sembari menutup mulut Jiles dari belakang.
"Berisik," ucap Jina.
Jiles menolehkan kepalanya ke arah lain, agar tangan Jina yang menutup mulutnya bisa terlepas.
"Ba-bagaimana kau bisa masuk ke sini?" tanya Jiles dengan nada tinggi.
"Aku sudah memasang tanda pada tubuhmu, jadi aku bisa teleportasi ke tempat dimana kau berada,"
'Gila! Gila!' Jiles berteriak di dalam hatinya frustasi.
"Kenapa? Kau tidak merindukan aku?" tanya Jina sembari memajukan bibir bawahnya.
Jiles tidak menjawab. Kepalanya terasa pusing, dengan jantung yang berdecak sangat cepat. Ia berusaha mencerna apa yang terjadi, dengan diiringi rasa takut yang membuatnya berdebar. Apa lagi ditambah posisi Jina yang sangat dekat dengannya. Seumur hidup dia tidak pernah berada dalam jarak sedekat ini dengan seorang perempuan.
"Wah, aroma tubuhmu enak ya?" komentar Jina sembari menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Jiles tanpa permisi.
Membuat Jiles terkejut dan otomatis menjauh, untuk menghindari Jina.
Kalau Jiles tidak pernah punya kontak fisik lebih dengan perempuan, Jina juga tidak punya. Tidak hanya pada laki-laki, tapi pada perempuan juga. Lebih tepatnya, Jina hampir tidak pernah bersosialisasi dengan orang, jadi tidak mengerti harus bersikap atau bertingkah bagaimana.
Dia hanya bersikap sesuai kemauan dirinya sendiri —tapi itu tidak bisa dia lakukan di sekolah, kecuali malam hari—.
Jina tidak protes saat Jiles menghindar, matanya malah tertuju pada s**u yang baru Jiles buat. Ia pun meraih gelas kaca berisi s**u rasa vanilla itu, dan meneguknya sampai habis tak tersisa tanpa izin.
Jiles hanya bisa melongo melihatnya. Orang seperti Jina, benar-benar ada ya? Batin Jiles.
"Wah, enak!" seru Jina. "Aku tidak pernah minum s**u, kecuali saat bayi mungkin. Ternyata enak ya? Aku lebih suka darah yang segar, itu jauh lebih enak, kau harus coba." Ujar Jina dengan polosnya, bahkan sampai nyengir seolah perkataannya bukanlah sesuatu yang mengerikan.
Padahal Jiles bergidik mendengarnya. Tetapi sempat tertegun melihat gadis itu tersenyum untuk pertama kalinya.
"Masih ada?" tanya Jina.
Jiles melengkungkan bibirnya ke bawah, sembari menggeleng. "Itu s**u terakhir, sekarang sudah habis," kata Jiles.
"Ah, payah," gumam Jina, sembari meletakan gelas yang telah kosong ke tempatnya semula.
Jina kemudian berkacak pinggang, sembari menggaruk alisnya dengan jari tengah. "Aku ingin minum sesuatu, aku haus sekali," gumam Jina.
Jiles menelan ludahnya. "Kau tidak... tidak akan minum darahku 'kan?"
Jina langsung menjentikan jari. "Aku tidak kepikiran, untung kau bilang,"
Jina kemudian menatap Jiles yang langsung ambil ancang-ancang untuk kabur.
"Aku 'kan tamu, tidak apa-apa dong kalau aku minum," ucap Jina sembari mengangkat sebelah alisnya, dan tersenyum simpul.
"A-ada minuman lain, jangan aku..." kata Jiles lirih, dengan kaki yang mulai melangkah perlahan ke belakang.
"Aku itu sejujurnya agak sulit untuk minum minuman yang lain selain darah. Paling aku minum air mineral dan soda. Ck, tenanglah, aku hanya minum darahmu sedikit saja, karena aku tidak lapar, aku hanya haus,"
"Kau gila ya?! Makhluk apa kau sebenarnya?!"
Jina menggendikan bahu. "Aku juga tidak tahu aku ini makhluk apa. Kakekku sih vampire, nenekku manusia, ibuku manusia, tapi ayahku vampire yang punya kelainan. Karena aku anak perempuan, aku kira aku seperti nenek dan ibuku, manusia biasa. Tapi ternyata... aku punya keahlian yang tidak masuk akal untuk dikuasai manusia," celoteh Jina, sembari melipat kedua tangannya di depan d**a.
Ia sama sekali tidak terlihat hendak mengejar Jiles yang sudah berjalan cukup jauh darinya. Karena mau ia kabur sejauh apapun, Jina tetap bisa menemukannya.
"Kau pasti sebenarnya iblis!" seru Jiles sembari berlari keluar dapur, lalu tak lama kembali lagi dengan membawa salib berukuran sedang yang biasa dipajang di ruang tengah.
Jiles kemudian menodongkan salib tersebut ke arah Jina, dengan jarak cukup jauh.
Jina menatap datar Jiles. Jiles sepertinya benar-benar bodoh, pikirnya.
"Ya ampun, tenanglah. Sudah aku bilang aku tidak akan menghisap darahmu sampai habis, aku hanya mau minum sedikit. Paling kau hanya lemas. Kalau kau akhirnya sampai kekurangan darah, tinggal ke rumah sakit dan dapat donor. Gampangkan?"
Jiles tidak menggubris apa yang Jina katakan, ia malah memejamkan matanya sembari merapalkan doa-doa. Padahal ia selama ini bukan orang yang religius juga, ia bahkan awalnya sedikit kebingungan apa yang harus ia katakan saat berdoa.
Jina pun memilih diam, sembari memperhatikan Jiles tanpa membuat suara apa-apa.
"Hah, ya sudahlah, aku tidak akan menghisap darahmu," ucap Jina.
Jiles sontak membuka matanya, sembari menghela napas lega. "Hah, akhirnya iblisnya keluar!"
Jina menepuk keningnya. "Aku tidak kerasukan iblish bodoh! Astaga..."
"Tapi tingkahmu seperti iblis!"
"Ya anggap saja aku iblis, terserah kau. Tapi ada satu hal yang aku minta, kalau kau tidak mau aku hisap darahnya,"
"Jadi kau benar-benar minum darah ya?"
Jina mulai kesal. Ia menatap Jiles dengan tatapan jengkel sembari berdecak. "Kau benar-benar aku hisap ya darahnya?"
Jiles langsung melindungi lehernya dengan kedua tangan, dan mengunci rapat bibirnya agar tidak bicara lagi.
"Bisa tidak kau melihatku sebagai teman? Dan memperlakukanku seperti orang biasa, bukan monster, apa lagi iblis. Aku tahu tingkahku aneh dan tidak lazim, begitu pula dengan fisikku. Tapi aku memang begini, aku memang seperti ini. Aku bahkan tidak tahu aku manusia atau bukan, ayah dan ibuku tidak pernah memberitahuku soal itu. Aku hanya bertingkah, sesuai instingku,"
Jiles terdiam, sembari meremat ujung piyamanya.
"Tapi aku takut padamu, kau mengerikan." Ucap Jiles jujur, yang membuat Jina terdiam.
Jujur saja Jina terluka mendengarnya. Namun dia tidak mengelak ataupun marah, dia memang mengerikan, dan dia sadar akan hal itu.
"Aku sebenarnya tidak tahu kenapa aku ke sini, lagi-lagi aku hanya mengikuti insting dan pikiran bodohku. Kalau begitu aku pulang dulu, sampai jumpa di sekolah besok,"
Jina menarik tudung jaketnya, dan menutupi kepalanya sampai sebagian wajahnya ikut tertutup. Ia kemudian menghilang begitu saja, meninggalkan Jiles sendiri.