“But… “ Clarice menghentikan aksinya menciumi leher Narto. “Ada apa lagi?” “Honey, we… never… try…” katanya pada Narto yang masih menempel di belakang punggung. “Pernah koq. Kamu aja lupa.” Narto yang merasa menang dan sangat di atas angin menunjukkan sikap semakin arogan. “Kalo emang kepingin lebih ahli, ayo sekarang kita praktekin.” Dan lagi-lagi gadis itu hanya tunduk. Protesnya tak bersisa. Keberatannya tidak ditanggapi ketika Narto menekan bahunya agar ia berjongkok. Narto kini bergerak ke depan Clarice. Pennis yang selama ini terkurung kini terlepas, menghirup udara. Begitu dekat s**********n Narto dengan wajahnya sehingga saat keluar dari celana, monster ulat bermata satu itu sempat meny

