Gisel keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk sampai atas d**a. Kenji melihati dan menggeleng kepala.
“Seandainya aku tidak seperti ini, entah berapa kali kamu sudah aku setubuhi.”
Gisel tertawa. Kenji memang serius dengan ucapannya. Alat reproduksinya dirusak ketika ia pada suatu kesempatan mengerjai seorang tokoh Yakuza dan dibalas balik dengan cara mengerikan. Itu kebodohannya yang luar bisa karena ia harus merasakkan dampaknya sampai sekarang dimana kejantanannya hanya mampu ereksi tapi teramat sangat sulit melakukan ejakulasi. Pria yang malang.
“Bagaimana pendekatang kamu pada Sheila?”
“Sudah. Tapi aku belum cukup dekat untuk membujuk dia ikut dalam proyek tiga-X berikut.”
“Kamu sudah dekati dia cukup lama. Sampai kapang aku harus tunggu?”
“Dalam 1 bulan.”
Mr. Kenji menunjukan ketidaksabarannya. “Ooo tidak bisa. Aku tak mau tunggu kelamaang. Kalau begitu cari orang laing saja ne.”
“Boss, itu berarti kita mulai dari awal kalo kita harus investigasi calon berikut.”
“Saya udah temukang satu orang calon ne. Kamu kenal dia, Gisel. Dan pilihang saya adalah gadis pemilik AA ini.”
“Clarice?”
“Ya,” jawabnya mantap. “Dia akang menjadi…. Apa itu dalam bahasa Inggris… The Next Teen Pornstar.”
*
Bubaran jam sekolah. Anak-anak sekolah yang keluar dari gerbang tidak lagi sebanyak sepuluhan menit lalu. Sudah mulai tersisa sedikit ketika Clarice muncul di keramaian. Ia menebar pandangan kesana-kemari. Ketika yang dicari tak ada di satu tempat, ia mengedarkan pandangan ke tempat lain. Terlihat jelas bahwa ia tidak menemukan apa yang ia cari.
Sebuah sepeda motor berderum dan berhenti di sampingnya. Ia terkejut ketika melihat siapa yang datang.
“Narchooo…. Is it your new motorbike?”
“Yes, this motorbike is me,” katanya dalam bahasa Inggris sangat hancur. “I buy from, anu… diler motor bekas pakai.”
Atas candaan itu Clarice menanggapi dengan senyum kecil sebelum kembali menunjukkan mimik serius.
“Koq ketawanya hambar gitu aja. Ketawa lebar dong.”
Clarice bergeming. Wajahnya yang kaku masih terlihat sulit untuk tersenyum.
Narto mendekat ke telinganya. “Masih marah sama yang semalam?”
Clarice tidak menjawab. Narto menawarkan helmnya dan meminta gadis itu memakai. Setelah dituruti, motor melaju meninggalkan gerbang sekolah tempat Clarice belajar.
“Clarice sayang, kamu masih marah?” terdengar Narto bertanya lagi.
Masih belum terdengar jawaban. Narto lantas meminggirkan motor di bawah keteduhan bayangan pohon-pohon besar.
“Sepertinya aku menyakitimu. Maafkan, sayang.”
Mata Clarice berkaca-kaca.
“Clarice, kamu begitu penuh pesona. Cantik. Anggun. Sebagai lelaki normal, aku juga memiliki ketertarikan sangat besar terhadapmu.” Narto kembali melontar kata-kata rayuan. “Ketika kamu ada di bawahku, tertindih, kamu menampilkan seluruh keindahan alam yang terukir padamu. Permukaan kulitmu halus dan bercahaya dengan nafas yang hangat. Jadi, laki-laki manapun pasti akan ingin memilikimu.”
“Tapi sakit.”
“Sekarang udah nggak kan? Lama-lama kamu nikmatin juga kan?”
“Iya sih.”
“Sebentar lagi kamu akan addict lho. Pengen, pengen terus.” Narto tertawa penuh kemenangan.
“Kamu berlebihan,” ujar Clarice menanggapi otak ‘ngeres’ itu. “Kita pulang sekarang.”
“OK, tapi kamu duduknya jangan nyamping lagi ya. Duduknya lurus aja seperti aku.”
Clarice menurut saja. Tapi ia kemudian tersadar bahwa posisi ini membuat roknya tersingkap jauh ketika ia harus duduk mengangkang. Menyisakan pemandangan kedua paha bule nan mulus miliknya untuk terekspos di hadapan publik. Ia lalu meminta Narto menghentikan motor kembali tapi Narto menolak. Bagi Narto adalah suatu kebanggaan bahwa ia bisa memamerkan bukan hanya kecantikan Clarice sebagai pacarnya, tapi juga kemolekan tubuhnya.
Clarice protes dan meminta Narto untuk berhenti. Saat Narto akhirnya luluh dan mau mengikuti kemauannya, tiba-tiba saja denyutan di bawah perut terjadi lagi disertai bisikan di dekat telinga.
“B-i-a-r-k-a-n… B-i-a-r-k-a-n…”
Clarice kemudian diam dimana diamnya itu dianggap Narto bahwa Clarice tidak lagi protes dan menyetujui kemauannya. Ini benar-benar pengalaman mengasyikkan bagi Narto.
“Kita muter-muter ya, beb. Sekalian tes motor baru.”
“Chidak punyalang dulu?”
“Pulangnya nanti aja. Kita singgah dulu sebentar.”
“Memang mau singgah kemana?”
“Semak-semak.”
“What?”
“Aku tau semak-semak yang asyik. Hehehe…”
Ah, Narto yang nakal. Clarice jadi gemas dan mencubit punggungnya.
Ketika kedutan terjadi lagi, Clarice menyandarkan dadanya ke punggung Narto. Kedua tangan Clarice pun kini melingkari pinggangnya. Hasrat itu muncul lagi.
Dua bongkah daging kenyal di punggung Narto membuat kejantanannya mengeras. Narto langsung menambah kecepatan untuk sesegera mungkin menuju semak-semak yang tadi ia maksud. Beberapa polisi tidur pun ia libas demi mendapat sensasi goncangan p******a Clarice.
“Kita coba di suasana baru ya, beb. Sekarang kita coba ML di tempat terbuka.”
*
“Wait!”
Gisel yang sedang bersiap menurunkan barang belanjaan menoleh dan melihat Jahn mendekat ke arahnya.
“Let me help you,” katanya. Tanpa diminta ia langsung mengambil sekaligus beberapa kantong plastik besar berisi aneka belanjaan.
Gisel lagi-lagi kagum atas perhatian yang diberikan Jahn.
“Anda berbuat baik begini ke semua orang, atau aku yang ge-er dengan mengira ini hanya ke aku saja?” tanyanya merendengi jalan Jahn yang tangannya penuh membawah hampir 10 kantong plastik besar.
“Hanya ke kamu.”
“Aku tersanjung. But why?”
“Kamu tahu berterimakasih, tidak bawel, tidak sok tahu. Saya menghargai karena tabiat itu langka di tempat kost Anyelir Arcade.”
“Maksudmu hanya aku penghuni yang seperti itu?”
“Ya. Ada CCTV kalau kamu mau melihat buktinya. Umumnya mereka menyebalkan. Mungkin karena merasa sudah membayar mahal. But you, Gisel…. You’re different.”
Gisel mengalah. “Ya sudah, aku percaya.”
Mereka tiba di depan kamar. Jahn mau menaruh di lantai tapi Gisel berteriak.
“No. jangan di lantai. Itu kotor. Jangan simpan di situ.”
“Lantas kusimpan di man…” Ucapannya tak berlanjut karena Gisel sudah membuka pintu kamar dengan kartu masuknya. Jahn tahu maksudnya dan langsung memasukkan belanjaan itu ke dalam kamar yang pintunya kini terbuka.
“Jadi benar menurutmu aku tahu berterimakasih, tidak bawel, dan tidak sok tahu?”
Jahn membulatkan mata karena Gisel masih mempermasalahkannya.
“Tak hanya itu. Kamu juga cantik. Tapi itu tertutup wajah murungmu. Tersenyumlah.”
“Rasanya aku sudah banyak tersenyum sejak ketemu dirimu. Aku juga sudah mudah bergaul. Betul kan? Hayo ngaku.”
“Good. Very good. Tapi tetap masih kurang cantik. Kamu harus memperbaiki penampilanmu. Pakaian, makeup, aksesoris. Kamu tahu kan, semua itu bisa meningkatkan s*x appeal seseorang.”
“Kamu menanyakan soal s*x appel aku?” tanya Gisel dengan wajah menggoda. “Kamu meragukan s*x appeal aku? OK, aku akan tunjukkan seperti apa yang aku punya.”
Di luar dugaan Jahn, ia lalu melepas panty dari balik rok yang ia kenakan, mendekati Jahn, dan membentangkan panty yang barusan dicopot di depan muka Jahn.
“Bagaimana dengan yang satu ini?”
*