Jahn masih belum tertidur ketika Amanda, isterinya, naik ke atas ranjang dan ikut berbaring. Melihat posisi Amanda Jahn merapatkan tubuh sehingga tubuh keduanya lekat berbaring menyamping. Dengan lembut Jahn mencium ujung bahu.
“Kamu seperti galau,” katanya dalam bahasa Inggris. “Ada apa?”
“Puteri kita menerima cowok di kamarnya,” katanya tanpa membalik badan.
“Siapa?”
“Narto.”
“O.” Jahn merubah posisi sehingga kini ia berbaring telentang. Tanpa ikut-ikutan mengubah posisi berbaringnya, Amanda bertanya.
“Papa nggak marah sebentar lagi akan ada orang merenggut kegadisannya?”
“Nggak lah,” kata Jahn sambil memperbaiki posisi bantal yang ia pakai.
“Koq cuma ngomong gitu?”
“Memang seharusnya bagaimana?”
“Ucapan Papa nggak ada emosinya. Sepertinya biasa aja.”
“Memang Papa biasa aja sih menanggapinya. Papa nggak marah karena Clarice sudah dewasa. Biarkan dia menentukan pilihan. Perkara yang menidurinya orang Sunda, sudahlah. Jangan sampai kita menjadi rasis.”
Amanda sedikit tenang walaupun cuaca mulai hujan di luar sana. “Puteri kita itu nggak apa-apa kan?”
“Tenang saja, Ma. She will be OK.”
*
Narto benar-benar tak ingin mangsa di tangannya terlepas.
Mangsa itu adalah Clarice, gadis bule, remaja, cantik luar biasa, dengan tubuh kaya lekukan. Jujur saja, Narto tidak mengerti mengapa Clarice bisa dekat padanya. Memang ia banyak melakukan pendekatan bahkan sedikit rayuan. Tapi bahwa Clarice akan menjadi bersamanya sedekat dan secepat sekarang, itu jauh dari dugaannya selama ini.
Mungkin sekali kedekatan itu adalah karena faktor X yang sampai detik itu masih tak ia ketahui apa. Apakah Clarice mengalami halusinasi, dikhianati pacar di sekolah, atau diri Narto yang berubah menjadi pria paling tampan sedunia?
Semua mungkin, kecuali alasan terakhir.
Perubahan sikap Clarice atas diri Narto benar-benar luar biasa. Clarice itu awalnya sangat sangat sombong. Keangkuhannya tak jarang menjadikan dirinya sangat berani menghina orang. Mulai dari sekedar buruh level bawah sampai putera-putera pengusaha super tajir. Tapi Narto adalah orang yang suka berpikir positf dalam segala hal. Ketika di saat-saat awal ucapan salamnya hanya dibalas dengan cibiran, ia hanya diam. Ia tangguh, gigih, dan terus melakukan improviasi peningkatan hubungan demi mencapai tujuan. Dan kemudian, Clarice pun mulai mau membalas senyum. Mulai berani balik menyapa ‘hai’. Mulai berinisiatif menegur.
Perkembangan yang paling dahsyat adalah sejak 1 bulan terakhir. Entah apa yang terjadi yang jelas sejak waktu itu Clarice menjadi sangat aktif dan menggoda. Jelas, ini makin menjadi amunisi bagi Narto yang gencar melakukan pendekatan. Kelebihan Narto yang tidak dimiliki orang-orang lain sebagai pesaingnya adalah bahwa ia tinggal di rumah yang sama dengan Clarice selama 24/7. 24 jam sehari, 7 hari seminggu.
Peristiwa semprotan air selang saat menyiram tanaman menjadi kunci. Di peristiwa itu memang ia dimarahi. Tapi ia juga cukup pandai membaca mata seseorang. Dan mata, organ tubuh itu – jika mampu dibaca secara bijak – akan memberikan masukan yang jauh lebih hebat daripada mendengar apa yang terucap. Narto berani bersumpah, mata Clarice saat itu adalah mata yang lapar. Mata yang ingin dikasihani. Mata yang seolah berteriak “satisfy me!” akibat gejolak s*****t yang meninggi.
Peristiwa mirip terjadi lagi di berbagai kesempatan, waktu, dan tempat. Mulai dari Clarice yang semakin berani mengajak mengobrol, berujar jorok, berpenampilan seksi. Narto juga jadi makin berani. Di peristiwa terbaru, ia pura-pura tak sengaja menyentuh ujung p******a. Dan…. seperti yang ia duga, si bule itu pura-pura tidak merasa.
Narto kemudian menjadi sangat agresif. Dan itu ternyata keberanian yang tepat. Ia mulai memetik hasil ketika ‘diperbolehkan’ Clarice ketika dengan ‘tidak sengaja’ menjamah, menyentuh, mencuil, mencolek tubuhnya.
Gadis itu tak pernah marah dan malah tertawa-tawa kecil.
Ia juga tak marah ketika malam itu membiarkan Narto merengkuh dirinya dalam pelukan. Tak protes ketika bibir pegawai yang hanya kacung itu menyergap lehernya yang jenjang. Clarice menggelinjang akibat serangan dengan efek sengatan listrik yang menyengat sekujur syaraf.
Denyutan itu muncul lagi.
Disertai suara berupa instruksi apa yang Clarice harus lakukan.
Clarice kemudian mendorong tubuh Narto. Suatu hal yang membuat Narto sesaat merasa bahwa usahanya gagal. Bahwa cumbuannya malah membuat dirinya dibenci gadis itu. Ini menghancurkan harapan Narto yang sempat membubung. Di saat permintaan maaf akan terlontar dari mulutnya, ia buru-buru menahan.
Clarice ternyata mendorong tubuhnya agar terjadi jarak yang cukup agar gadis itu dapat melakukan langkah berikut. Dengan senyum merekah lebar, tanpa suara, dan lirikan nakal menggoda, kedua tangan Clarice memegang ujung t-shirt long sleeve-nya. Tangannya kemudian bergerak naik ke atas. T-shirt melewati perut, d**a, leher, sampai kemudian melewati kepala. Menampilkan Clarice yang mengenakan **. Ia juga masih mengenakan celana rupanya. Namun celana ini sangat pendek karena ujungnya hanya mentok ke ujung paha. Kejantanan Narto protes. Ia bergerak liar di balik celana, meminta segera dibebaskan untuk menemui pasangannya.
“Dance. Show-your-tits.”
Atas instruksi suara magis itu, Clarice kembali taat. Ia melenting badan sehingga kedua tangannya bisa bergerak leluasa ke belakang punggung. Kaitan ** terlepas tapi Clarice tak segera membiarkan ** hiteam berbahan sangat tipis itu jatuh ke lantai. Ia menahan sesaat sehingga cup ** masih menutupi kenyal dan mulusnya buah dadanya. Saat Narto mendekat untuk mengambilnya ia mengizinkan. Tak ayal dua bongkah daging itu ter-ekspos sempurna. Tegak, kenyal, mengkal, khas p******a remaja, dengan areola pink dan p****g mencuat kehitaman.
Pikiran Clarice saat itu mendadak sangat galau. Ia sebetulnya tidak sepenuhnya mencintai Narto. Narto tidak melakukan hal besar dalam hidupnya. Tapi mengapa ia menjadi begitu ‘murah’ di hadapan pria yang hanya kacung di rumahnya? Pertanyaan itu tak terjawab. Hanya denyut dan suara itu yang kembali terngiang membisiki telinga.
“Show-your-glistening-pussssy.”
Narto bagai gila rasanya ketika dengan gerak sangat pelan Clarice mulai membuka kancing hotpant. Mata Clarice menatap dengan cara menggoda. Terdengar suara retsleting dibuka. Narto menahan nafas karena melihat bahwa ternyata tak ada panty di sana. Hanya ada gundukan berbulu pirang serta belahan lobang yang sejak tadi mengalirkan cairan kental.
Sementara Clarice melepas hotpant yang membuatnya kini nudis sepenuhnya, Narto semakin berjuang ekstra keras menenangkan kelelakiannya yang semakin berontak. Protes karena tak segera menghirup udara bebas. Protes karena ia ingin segera menemui dan merangsek ke kedalaman pasangannya.
Clarice makin menggoda. Gerakannya makin s*****l ketika masih dalam keadaan berdiri, ia menari gaya ‘ngebor’ dengan kedua kaki mengangkang. Setelahnya, saat sudah kembali tegak, ia menyusup dua jari lentiknya ke dalam liang senggamanya, menjawil cairan cintanya, mendekatkan ke hidungnya, dan kemudian menghirup aromanya. Matanya melirik nakal ke arah Narto ketika ia mempermainkan dua jari berlendirnya. Narto makin tak tahan. Terlebih ketika kemudian gadis itu melahap dua jari yang masih diselimuti cairan putih pekat yang tak lain adalah cairan cintanya sendiri ke dalam mulut.
Tak tahan lagi, Narto mendekat. Dengan segenap kenekadan yang ada bibir Narto menjumput mesra bibir sang ABG bule dalam sebuah ciuman hangat. Tak ada perlawanan. Ada setengah menit bibir Narto bertemu dengan bibir Clarice, sehingga membuat Narto berinisiatif meningkatkan mutu serangan. Lidahnya menyeruak, membuka mulut Clarice, sampai kemudian lidah itu menemukan lidah lain pasangannya.
Di luar alam seolah menyambut dengan berisik atas apa yang sepasang remaja itu lakukan dalam sebuah kamar tertutup. Seolah menyelaraskan apa yang terjadi dalam kamar tadi, cuaca gerimis pun mulai berubah menjadi hujan. Derai hujan makin lama makin deras dengan ditingkahi desai angin kencang, berisik genteng, riuh talang air, dilanjut dengan gelegar petir yang membentuk orkestra alam yang menglorifikasi terjadinya sebuah peristiwa.
*