“Langsung saja, saya tidak suka bertele-tele.” ujar pria paruh baya itu sambil meletakkan kedua tangannya disaku, “Jika kamu ingin menikah denganku, tinggalkan anak perempuan itu. Itu syarat yang cukup mudah menjadi istri saya.”
Seorang anak perempuan kecil segera menyembunyikan dirinya di balik tembok.
Sejak kepergian ayahnya dua bulan lalu, rumah mereka memang lebih sering didatangi orang-orang asing. Padahal rumahnya sudah sepenuhnya kosong tak tersisa apapun, lantaran hutang bank Ayahnya untuk perusahaan cukup besar.
Dan kini setelah sekian lama, ternyata ada pria asing yang mendatangi mereka lagi.
“Kamu butuh uang, saya butuh istri penurut seperti kamu.” kata pria itu lagi, “Ditambah kita sudah tidur bersama, kamu cinta pertama saya. Dan jika nantinya kamu hamil, bukankah saya harus bertanggung jawab?”
Anak kecil, jelas tidak terlalu mengerti pembahasannya mengarah kemana. Namun satu hal yang ia pahami, pria itu sedang meminta sesuatu dari Ibunya.
Dan entah mengapa, Ibunya terlihat sangat sedih.
“Kamu gila?” suara wanita itu bergetar, “Aku ingin kamu menikahi aku, tapi tolong terima anak-anakku juga.”
Pria paruh baya tersebut hanya tersenyum tipis.
“Tidak semudah itu.” jawab pria itu akhirnya, “kamu dulu meninggalkan saya, saya pernah menikah, dan saya memiliki anak perempuan juga seusia anakmu.”
Pria itu berhenti sejenak, lalu menatap wanita di hadapannya lurus.
“Jangan sampai putriku merasa posisinya terancam.” lanjut pria itu lagi, “Apalagi saya harus menafkahi kedua anak dari pria yang membuat saya dulu merasa kalah.”
Pria itu kemudian mengelus pipi wanita itu.
“Jangan lupa...” pria itu berbicara pelan, “Saya masih ingat bagaimana kamu mengatakan kalau pria itu adalah pilihan terbaik daripada saya yang saat itu bahkan belum memiliki apa-apa.”
Wanita itu menundukkan kepala.
“Mahes...”
“Tidak.” Pria itu memotong ucapannya. “Biarkan saya menyelesaikannya.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Kita meninggalkan kota kecil itu bersama-sama. Kita merantau ke ibukota, kuliah di kampus yang sama, hidup dengan uang pas-pasan, dan bermimpi tentang masa depan yang sama.”
Tatapannya perlahan berubah dingin.
“Saya pikir kita saling memahami.”
Ia tertawa pelan, tetapi tidak ada sedikit pun kebahagiaan di sana.
“Lalu pria itu datang.”
Wanita itu mengepalkan kedua tangannya.
“Dan kamu memutuskan hubungan kita begitu saja.”
“Aku...”
“Kamu bahkan tidak memberiku kesempatan untuk memperjuangkan cinta.” Pria itu menggeleng pelan, ”Karena pada akhirnya, kamu memilih pria yang sudah memiliki segalanya.”
Kalimat itu membuat wanita tersebut terdiam.
Tatapannya turun ke lantai sejenak sebelum kembali menatap wanita di hadapannya.
“Dan sekarang lihat apa yang terjadi kepadamu.” kata pria itu.
”Jangan dilanjutkan...” suara wanita itu bergetar.
“Kenapa? Karena saya mengatakan kenyataannya?”
Pria itu tersenyum tipis.
“Setelah suamimu meninggal, setelah semua kekayaan dan kemewahan itu hilang, setelah utang-utang mulai berdatangan...” Ia melangkah mendekat, ”kamu justru datang kepada saya.”
Wanita itu menutup matanya rapat.
“Mahes, tolong...”
“Tidak.” Suara pria itu tetap tenang. “Saya tidak marah karena kamu meninggalkan saya.”
Untuk pertama kalinya, nada suaranya terdengar lebih rendah.
“Saya marah karena setelah bertahun-tahun, kamu datang kembali dan membuat saya sadar bahwa saya masih belum bisa melupakan kamu.”
Ia menarik napas panjang.
“Bahkan dengan kamu yang mau tidur dengan saya, saya akhirnya luluh begitu saja.” desis pria itu, “Murahan.”
Wanita itu langsung memejamkan mata.
Seolah satu kata tersebut lebih menyakitkan daripada semua kalimat yang baru saja ia dengar.
“Sudah puas?” tanya wanita itu lirih.
“Tidak.”
Jawaban itu datang terlalu cepat.
Pria bernama Mahes itu menarik tangannya dari pipi wanita tersebut lalu mundur selangkah.
"Tidak akan pernah puas."
Tatapannya jatuh pada foto keluarga yang masih tergantung di dinding.
Foto seorang pria, seorang wanita, dan dua anak kecil yang tersenyum bahagia.
“Saya menghabiskan bertahun-tahun membenci pria itu.”
Keheningan memenuhi ruangan, lalu pria itu tersenyum miring. Tidak perlu dijelaskan panjang lebar lagi, mungkin ia harus meringkas lebih ke inti.
Lagipula wanita di depannya bisa apa, selain memohon-mohon kepadanya.
“Langsung ke intinya saja. Jika kau ingin hidup nyaman lagi dan tidak terus-menerus dikejar utang seperti sekarang, menikahlah dengan saya,” lanjut pria itu. “Tapi syarat saya tetap sama. Tinggalkan anak perempuanmu itu.”
Wanita tersebut menatapnya tidak percaya.
“Kenapa harus ditinggalkan? Bukankah kamu sudah melihat bagaimana Sakara dan Sakaya tadi.”
Mahes menghela napas pelan, seolah lelah mengulang pembahasan yang sama.
“Sudah saya katakan, anak perempuanmu adalah ancaman untuk anakku.” tekan pria itu, “Bisa saja kamu pilih kasih, dan hanya memperhatikan anakmu saja setelah menikah nanti. Ditambah, saya tidak melihat masa depan apa pun dari dirinya."
"Dia anakku." wanita itu berusaha untuk mempertahankan egonya.
“Dan saya tidak melarangmu untuk tetap menganggapnya anak.” Pria itu melangkah mendekat, ”Saya hanya tidak ingin membawanya masuk ke dalam keluarga saya.”
“Kamu gila.”
”Lebih gila kamu yang dulu meninggalkanku begitu saja.”
”Tapi dulu kamu juga selingkuh di belakang aku demi mendapatkan uang.”
“ITU NAMANYA BERKORBAN! UNTUK KITA BERTAHAN HIDUP DI IBUKOTA!”
Bentakan Mahes membuat ruangan seketika sunyi.
Wanita itu membeku.
Untuk pertama kalinya sejak kedatangannya, pria tersebut benar-benar kehilangan ketenangannya.
Napas Mahes terdengar berat.
Rahangnya mengeras.
"Menurutmu saya bangga melakukan itu?" tanya pria lirih, “Tidak Mira! Tidak sama sekali!”
Mahes kemudian terkekeh kecil.
“Lagipula ekonomi orang tua saya, jauh lebih bobrok dibanding ekonomi orang tuamu yang saat itu cukup stabil.” pria itu memejamkan matanya sebentar, ”Apalagi kamu terlalu banyak membantu saya di Ibu kota, tidak ada salahnya saya berusaha mencari penghasilan lain agar kita semakin kuat bertahan, kan?”
“Tapi caramu juga salah!”
”Cukup! Bagiku tidak ada yang salah!”
Keheningan kembali memenuhi ruangan. Pria itu sudah kembang kempis lantaran emosinya terlalu melonjak hari ini.
Pria itu kemudian menunjuk wanita itu dengan tajam.
“Hanya Sakara yang bisa ikut kamu setelah menikah,” pria itu sudah kembali ke kewarasannta, ”Sakara menurut saya berbeda.“
Wanita itu membeku.
“Sakara laki-laki. Dia cerdas, mudah diarahkan, dan suatu hari nanti bisa menjadi aset yang berharga.”
“Aset?” ulang wanita itu dengan suara bergetar.
Mahes tersenyum tipis.
“Begitulah dunia bekerja.” tatapannya beralih ke luar jendela, “Apalagi saat ini posisi saya belum cukup tinggi. Dan jika saya ingin membangun sesuatu yang lebih besar, saya membutuhkan Sakara untuk melakukannya.”
Wanita itu mulai memahami arah pembicaraan tersebut, dan justru itulah yang membuatnya takut.
“Saya akan memberinya pendidikan terbaik. Nama terbaik. Masa depan terbaik.” lanjut pria itu, “Karena dengan begitu, tujuan saya mungkin akan berhasil.”
"Lalu Sakaya?"
Untuk beberapa saat, pria itu tidak menjawab. Seolah nama itu memang tidak masuk dalam perhitungannya.
”Sakaya tidak berguna. Tidak penting. Saya memiliki anak perempuan sendiri.”
Kalimat itu diucapkan dengan tenang. Namun entah mengapa terdengar jauh lebih kejam daripada teriakan apa pun.
"Jadi pilihlah." pria merapikan jasnya sejenak sebelum kembali menatap wanita itu. "Menjadi istriku dan membawa Sakara bersamamu..."
Pria itu berhenti sejenak.
"...atau tetap mempertahankan keduanya dan menjalani hidup seperti sekarang."
Ruangan kembali sunyi.
Dan untuk pertama kalinya, wanita itu menyadari bahwa pria di hadapannya tidak sedang memberikan bantuan.
Ia sedang memberikan pilihan yang mustahil, namun entah kenapa itu seperti satu-satunya jalan keluar untuknya.
“Maksud Sakaya tidak berguna itu... apa?” Sakaya yang menguping sejak tadi, akhirnya perlahan-lahan mundur dan pergi.
Meski bingung, namun melihat Mamahnya berkali-kali mengeluarkan air mata, sepertinya Paman yang dikenalkan kepada mereka itu jahat.
Sakaya akhirnya kembali ke kamar, dan ia duduk disamping kembarannya.
“Udah mengupingnya?” tanya Sakara kemudian menutup buku yang tadi sedang dibaca.
“Kata Mamah... Paman itu baik.” jawab Sakaya, “Tapi kenapa Mamah menangis? Mamah dan Paman itu juga bawa-bawa nama Sakaya nggak berguna.”
Mereka berumur 9 tahun. Jelas cara berpikir mereka belum mampu memahami apa yang sedang terjadi di ruang tamu.
Namun mereka cukup besar untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Sakara menatap saudara kembarnya beberapa saat.
“Lalu Mamah bilang apa?”
Sakaya menggeleng, “Aku nggak dengar semuanya. Suara Mamah pelan banget.”
Anak perempuan itu lalu naik ke atas ranjang dan memeluk boneka kesayangannya.
“Tapi Paman itu jahat.”
”Karena bilang kamu nggak berguna?”
Sakaya terdiam, beberapa detik kemudian ia mengangguk pelan.
“Iya.”
Sakara menutup bukunya lalu menghela napas panjang.
Padahal ia juga tidak terlalu mengerti arti semua pembicaraan orang dewasa tadi.
Namun satu hal yang ia tahu.
Tidak ada orang baik yang membuat Mamah mereka menangis.
”Mungkin Paman itu bohong.”
“Hah?”
“Soal kamu yang nggak berguna.”
Sakaya menoleh, Sakara kemudian tersenyum.
“Kamu cerdas, kamu berani, kamu Adik Kakak yang paling hebat.”
Sakaya berkedip beberapa kali.
“Beneran?”
“Tentu.”
”Tapi Paman itu bilang aku nggak berguna.”
”Itu karena dia nggak kenal kamu.”
Jawaban Sakara terdengar begitu yakin hingga membuat Sakaya perlahan tersenyum.
Meskipun senyum itu tidak bertahan lama.
“Apa menurut kamu, Mamah akan menikah sama Paman itu?”
Pertanyaan tersebut membuat Sakara terdiam.
Ia menoleh ke arah pintu kamar yang masih tertutup rapat. Suara dari ruang tamu sudah tidak terdengar lagi.
Entah karena mereka berhenti bertengkar, atau karena percakapan itu memang sudah selesai.
“Aku nggak tau.”
”Kalau Mamah menikah, kita bakal punya Papah baru?”
“Mungkin.”
“Terus kita bakal tinggal bareng Paman itu?”
Sakara kembali terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak. Seolah ada firasat buruk yang tidak bisa dijelaskan.
“Aku harap begitu.” jawab Sakara.
Sakaya mengangguk pelan, “Lumayan.”
“Maksudnya?” tanya Sakara bingung
”Kalau Mamah menikah, berarti Mamah nggak perlu nangis lagi.”
Kalimat itu membuat Sakara menundukkan kepala.
Ia paham.
Beberapa minggu terakhir, mereka sering melihat ibunya menangis diam-diam. Kadang di kamar, kadang di dapur, kadang saat mengira kedua anaknya sudah tertidur.
“Mamah pasti bakal bahagia lagi.”
Sakaya tersenyum kecil sambil memeluk bonekanya lebih erat.
“Aku rela kok kalau harus berbagi Mamah sama Paman itu. Yang penting kasih sayang Mamah masih besar ke aku.”
Mendengar itu, hati Sakara terasa semakin tidak nyaman. Karena entah kenapa, ia merasa percakapan di ruang tamu tadi bukan tentang berbagi. Melainkan tentang kehilangan.
Sakaya masih terlalu polos.
Mungkin karena sejak kecil, Sakara tidak pernah membiarkannya memikirkan hal-hal yang terlalu rumit.
Jika ada anak yang mengganggunya, Sakara yang maju lebih dulu.
Jika ada masalah, Sakara yang memikirkannya.
Jika ada sesuatu yang membuat Sakaya menangis, Sakara selalu menjadi orang pertama yang menghapus air matanya.
Cukup dirinya saja yang memikirkan hal-hal orang dewasa.
Sakaya tidak perlu.
Karena itulah, melihat senyum kecil di wajah saudara kembarnya saat ini justru membuat dadanya semakin sesak.
“Sakaya.”
“Hm?”
Kalimat yang hendak diucapkannya tertahan di tenggorokan.
Awalnya ia ingin berkata bahwa mereka harus berhati-hati terhadap pria bernama Mahes itu.
Bahwa ada sesuatu yang aneh dari pembicaraan tadi.
Bahwa ia memiliki firasat buruk.
Namun pada akhirnya, semua kata itu tidak pernah keluar.
Sebagai gantinya, ia mengulurkan tangan dan mengacak rambut Sakaya.
“Kalau suatu hari nanti ada yang bilang kamu nggak berguna lagi...”
Sakaya langsung menoleh.
“...Jangan percaya ya."
“Kecuali kalau yang bilang itu kamu?”
Sakara mendengus kecil.
“Aku nggak bakal bilang begitu ke Adik sendiri.” balas Sakara.
“Kenapa?” tanya Sakaya.
“Karena itu bohong.” balas Sakara, “Kamu punya segalanya. Kamu cantik, kamu juga sebenarnya cerdas kalau nggak malas.”
Sakaya tersenyum lebar, meski ada sedikit sindiran di belakangnya. Namun percaya lah, senyum itu yang selalu berhasil membuat Sakara merasa sedikit lebih tenang.
“Aku juga nggak bakal bilang Kakak nggak berguna.”
”Tentu saja.”
“Karena Kakak pintar.”
“Benar.”
“Kakak juga ganteng.”
Sakara kemudian memutar bola matanya.
"Kenapa kamu selalu panggil aku Kakak, cuma kalau habis dipuji doang?"
"Oh iya? Emang pengin banget aku panggil Kakak terus?" kata Sakaya, ”Kita kan kembar.”
“Emang kembar, tapi aku lahir duluan. Dasar nggak sopan.”
Sakaya tertawa kecil.
Untuk beberapa saat, kamar itu kembali dipenuhi suasana yang seharusnya dimiliki anak-anak seusia mereka.
Ringan.
Hangat.
Tanpa beban.
Tanpa mengetahui bahwa di luar sana, orang-orang dewasa sedang menentukan masa depan mereka.
Dan tanpa mengetahui bahwa dalam waktu dekat, mereka mungkin tidak akan bisa lagi duduk berdampingan seperti ini.
*****