Sakaya masih terdiam. Tatapannya tertuju pada Alden cukup lama, seolah masih berusaha mencerna kenyataan bahwa remaja laki-laki yang pernah ia tolong dua tahun lalu ternyata adalah laki-laki yang sekarang berdiri di hadapannya. Namun, ada satu hal yang membuatnya masih merasa tidak masuk akal. “Tapi...” Sakaya akhirnya bersuara pelan. “Gimana cara kamu ngenalin aku?” Alden mengangkat alis. “Maksudnya?” “Saat itu kamu lagi berjuang di antara hidup dan mati. Wajah kamu juga penuh darah. Bahkan aku sendiri nggak bisa mengenali wajah kamu dengan jelas.” Sakaya menatapnya penuh rasa penasaran. “Jadi gimana kamu bisa tau kalau orang yang menolong kamu malam itu adalah aku?” Alden tersenyum tipis. “CCTV.” Sakaya mengernyit. “CCTV?” “Iya.” Alden mengangguk. “Setelah aku sadar di rumah saki

