Bab 23. Penjebakan

2012 Words

Melamun. Tampaknya akan menjadi kegiatan baru bagiku setelah hati ini terjangkiti virus Rifat. Kami gagal berciuman dan kami khilaf. Itu faktanya. Dia hanya terbawa suasana, aku juga. Lalu, apa yang mesti dibingungkan? Aku hanya perlu bersikap biasa saja. Tapi ... aku malu! Bisa-bisanya aku menutup mata pas dia mendekatkan wajahnya? Kenapa aku mudah sekali terpancing? Murahan sekali aku ini! Apa kata si Rani? Kalau tahu kakaknya seperti ini. Ah, entah! Pokoknya mulai detik, menit dan ke depannya aku tak mau tergoda. Karena Pak Rifat juga kayaknya nggak terpengaruh. Seakan kejadian itu tak berefek apa-apa pada hatinya. Nggak adil. Fiuuh! Setelah menghembuskan napas berulang kali, aku siap membuka pintu kamar. Cklek. Kulongokan kepala sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. "Aman!"

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD