Bab 10. Oow Ketahuan!

1593 Words
======= Tidurku tak nyenyak karena terlalu lelah dan masih memikirkan omelan Pak Rifat akibat dia sebal telah aku tuduh mencuri buku almarhumah Ibu, padahal itu buku ada di atas tumpukan bajuku sendiri. Lebih tepatnya buku kramat itu terjebak di antara lingerie dan celana dalam yang menjadi hadiah dari ibu mertua. Pantas aku tak sadar. Heran aku tuh. Bagaimana bisa itu buku nyasar ke sana? Astaga! Ceroboh sekali. Dengan rasa kantuk yang teramat, kupaksakan diriku bangkit karena kulihat keluar jendela tampaknya sudah siang. Padahal aku merasa baru tidur sebentar, itu pun setelah shalat subuh. Namun, saat kesadaranku mulai pulih aku merasa ada yang ganjil, aku tertegun. Sebentar! Perasaan sebelumnya aku tidur di sofa karena tidak mungkin sekasur sama Pak Rifat. Kok, aku ada di kasur sih? Siapa yang memindahkan? Pasti dia. Enggak salah lagi. Terus, di mana dia sekarang? Aku menyisir seluruh sisi kamar pengantin yang sebenarnya kamar Pak Rifat dan tak kutemukan lelaki itu di mana pun. Namun, saat aku sibuk bertanya-tanya ke mana suami anehku itu, tiba-tiba aku mendengar dua orang sedang bercakap-cakap di luar pintu kamar. Karena penasaran, aku pun gegas mendekat ke arah pintu dan menempelkan telinga untuk menguping. "Mamah serius tentang ini? Apa tidak ada cara lain? Saya udah mengikuti keinginan almarhum Ayah Mah, masa kalian tega melakukan ini?" Aku menegang mendengar suara Pak Rifat yang terdengar sangat kesal. Sepertinya dia sedang berbicara dengan Bu Aida. "Rifat, kami tidak tega. Kami melakukan ini karena sayang sama kamu. Kami tidak ingin kamu terus terjebak dalam trauma, inget Fat kejadian itu sudah berlalu. Kamu harus melanjutkan hidup. Lulu adalah pilihan tepat." Suara Bu Aida terdengar sangat pilu. Sebaliknya kuterka di balik pintu ini aku yakin Pak Rifat sedang memasang wajah marah itu terdengar dari nadanya. "Tepat? Yakin? Bukankah kalian hanya memaksakan kehendak? Sudahlah! Saya lelah, saya mau ke kantor." "Rifat! Dengar! Pokoknya kamu tidak akan mendapat warisan itu sampai itu terjadi dan kamu lepas dari trauma!" Kini suara Bu Aida berubah mengancam. "Terserahlah! Saya mau masuk." Melihat suara langkah yang mendekat ke arah pintu. Aku sontak membelalak. Gawat Pak Rifat mau ke sini. Aduh, gimana nih? Aku bisa ketahuan kalau sedang menguping.Tanpa pikir panjang aku gegas melompat ke tempat tidur dan langsung menyembunyikan diri di balik selimut. Cklek. Dag-dig-dug. Jantung ini berdebar sangat kencang saat aku mendengar langkah seseorang memasuki kamar. Diam-diam aku berharap Pak Rifat tak mengetahui kalau aku telah bangun. Namun, tampaknya dia bukan lelaki yang gampang ditipu karena kurasakan ranjang tiba-tiba bergerak tanda ada seseorang yang menaikinya. Matilah sudah. Aku tak menyangka hari pertama menjadi seorang istri seorang Rifat, telingaku malah sibuk menguping hal yang tak seharusnya didengar. "Lu, turunin selimutnya! Saya tahu kamu sudah bangun. Mari kita bicara," pintanya dengan suara yang dalam dan berat. Mendengar keanehan sikapnya, aku perlahan menurunkan selimut. "I-iya Pak, maaf tadi saya nguping soalnya saya nggak seng--" "Tampaknya kita gak bisa bercerai dalam waktu dekat sesuai kesepakatan," potong Pak Rifat. "Maksud Bapak?" tanyaku dengan mulut menganga. Firasatku mulai tak baik, sesuai kesepakatan seharusnya enam bulan dari sekarang setelah Pak Rifat mendapat warisan kami akan bercerai tapi tampaknya itu tak mudah. Apa ini yang membuatnya terdengar marah tadi? "Kita harus memberi mereka cucu dulu, baru warisan saya cair karena mereka tak percaya kalau kita saling mencintai." "Apa? Cucu?" tanyaku kaget. "Ya. Dan kamu tahu kan saya tidak suka anak kecil? Jadi ...." "Jadi apa?" "Itu mustahil," jawabnya sangat dingin. Dan seketika itu juga aku rasanya ingin terjun ke sumur saja. Punya anak dari Pak Rifat? Oh, no! (***) Tagih? Enggak? Tagih? Enggak? Tagih aja deh! Dibanding dia dosa, aku dosa juga nggak melaksanakan wasiat. Ya, kan? "Hash! Baiklah! Aku pasti bisa!" Aku merapikan rambut panjangku sambil memandang miris ke arah gedung kantor berlantai dua tersebut. Hari ini aku memutuskan untuk pergi sendiri karena tak ingin merepotkan Pak Rifat. Dia sudah sibuk dengan kerjaan kantornya, terlebih gara-gara syarat orang tuanya Pak Rifat tampaknya masih kesal. Dengan semangat berkobar. Aku lekas melangkah maju bersiap menghadapi misi selanjutnya. Ceu Fiyah adalah penghutang ke enam-belas, dia adalah anak dari sahabat karib Ayah yang sudah dianggap keluarga oleh Ibu. Aku memanggilnya Ceu Fiyah karena dia lebih tua dan orang-orang memanggilnya begitu. Dulu dia datang ke Ibu dengan mengemis-ngemis, meski Ibu bilang nggak ada uang tapi dia kekeuh sumekeuh meminjam dengan dalih kekurangan biaya kuliah sementara orang tuanya tak sanggup lagi membayar pendidikannya. Akhirnya, dengan berat hati Ibu memberikan uang tabungannya senilai tiga juta karena katanya berharap Ceu Fiyah bisa jadi orang sukses. Lalu sekarang? Setelah dia mendapat pekerjaan dan punya kedudukan yang baik Ceu Fiyah malah lupa daratan. Setiap aku hubungi pakai nomor Ibu selalu hanya nada operator yang terdengar. Aku kehilangan jejak sampai akhirnya aku nekat mencari info sampai ke teman-teman almarhum Ayah yang lain dan di sinilah aku. Di depan kantor tempat Ceu Fiyah bekerja. Namun, baru saja aku sampai di lobby aku melihat seorang perempuan sedang digandeng mesra oleh seorang lelaki tambun bergaya parlente. "Ceu Fiyah! Eh, Ceu!" panggilku langsung. Betapa bahagia sekali aku akhirnya bertemu dengannya tanpa perlu susah-susah. Dasar rezeki istri solehah! Ceu Fiyah celingukan dan akhirnya mata kami bertemu. Kulihat pupil matanya tampak membesar ketika pandangan kami bersirobok. Bukannya berhenti, dia malah dengan cepat membuang muka lalu mengajak lelaki yang digandengnya berjalan cepat. Wah! Alamat pura-pura amnesia lagi nih. Jangan harap! (***) "Ceu! Hey!" Aku menepuk pundak Ceu Fiyah yang hampir saja kabur masuk ke dalam mobil lelaki yang tampaknya berumur 40 tahunan. Sontak saja Ceu Fiyah berhenti dan berbalik. Dia menatapku tajam sambil berlagak sok. "Ih, kamu siapah sich? Tepuk-tepuk pundak saya? Jijay tahu gak wek! Dasar sobat miskin!" katanya dengan lidah melet-melet. Laganya udah kayak Nona besar aja mentang-mentang aku berpakaian jins belel dan kaus oblong doang. Aku bengong melihat sikap Ceu Fiyah yang sungguh berbeda. Dulu Ceu Fiyah itu polos dan nggak centil kayak gini. Mukanya pun dulu biasa saja, tapi sekarang udah glowing kayak ketiban minyak satu liter. Kira-kira skin care Ceu Fiyah apa, ya? Sumpah cantik banget kayak artis Korea. "Aku Lulu, Ceu. Anaknya almarhumah Bu Sarminah yang Eceu hutangin tiga juta itu Ceu buat nambah uang kuliah, Eceu ingat kan?" tanyaku masih sabar menjelaskan. Mungkin karena aku dulu jarang di rumah jadi dia lupa. Ceu Fiyah yang berpakaian mini itu pun menaikan alisnya satu seolah berpura-pura mengingat. Tak lama dia mengangkat dagunya sinis. "Lulu? Aku nggak kenal tuh, kamu jangam coba-coba menipu saya, ya? Minggir! Saya mau pergi," dalihnya sambil membuka pintu mobil. Namun, sesuai motoku pantang pulang sampai penghutang menyerah. Tanpa pikir panjang, aku langsung mencekal lengannya untuk menahan Ceu Fiyah masuk mobil. "Ceu! Eh, jangan pergi dulu Ceu! Bayar dulu! Saya lagi butuh Ceu buat modal toko!" sergahku langsung. Aku tak peduli jika dicap sebagai pembuat onar di depan kantor orang karena ini masalah penting. Jujur, di saat seperti ini aku kadang merindukan sosok Pak Rifat karena pasti dia akan menyelesaikannya tapi aku sudah bertekad lebih mandiri. Bagaimana pun suatu saat nanti cepat atau lambat, kami akan menjadi orang asing. Aku nggak boleh ketergantungan. "Ih, apaan sih kamu! Sana! Dasar penipu! Nama saya Alfiyah bukan Ceu Fiyah. Kamu salah orang!" Dia mendorongku keras agar menjauh dari mobil karena sang lelaki yang ada di dalam sudah mulai melihatku. Aku mendesis. "Saya gak salah orang Ceu. Ayolah Ceu, uang segitu gak berarti kan buat Eceu. Eceu kan udah bagus kerjaannya? Nanti ditagih di akhirat loh Ceu kalau gak bayar." "Hey! Diam! Jangan sok alim ya! Dasar miskin!" umpatnya lagi songong. Masih berpura-pura tak mengenalku. Asem! Jangan harap aku bakal menerima kayak artis di tv ikan salto yang diam dihina kayak gini. "Fi, siapa ini? Kamu kenal?" Tiba-tiba lelaki botak dan tambun yang tadi sudah masuk mobil keluar lagi sambil melihatku bingung. Ceu Fiyah menggelengkan kepala. "Gak tahu Pak, saya gak kenal! Hey, kamu cepet lepasin saya! Saya ada rapat! Lepas!" Ceu Fiyah mencoba melepaskan cengkraman tanganku tapi aku tetap memegangnya. "Nggak Ceu! Saya gak akan lepas sebelum Ceceu bayar!" "Hey! Miskin lepas!" Kali ini dia menggunakan kekerasan dengan menggigit tanganku hingga aku berteriak kencang. "Aaaaaww!" Sakit! Ya Allah! Saking perihnya bekas gigitan Ceu Fiyah aku reflek mundur ke belakang. Tidak terima diperlakukan demikian, aku langsung marah. "Sakit tahu! Dasar boneka plastik!" umpatku tak bisa menahan diri lagi. Kutarik saja rambutnya yang blonde itu dengan keras hingga dia kesakitan. "Hey! Awww! Kamu gila! Lepasin rambut aku!" "Nggak! Buru bayar hutangnya!" bentakku keras tanpa memperdulikan orang-orang yang memisahkan kami. "Nggak! Malas! Ngapain bayar hutang! Dasar miskin!" "Biar miskin! Penting gak sok kayak dan nggak ada akhlak kaya lo!" "Lepassss!" "Lulu!" Di tengah pergulatan kami tiba-tiba sebuah suara berteriak kencang membuat perseteruanku berhenti. "Pak Rifat?" Aku sontak membeku di tempat ketika melihat siapa yang berdiri di depanku. Habislah aku. Bagaimana dia bisa di sini? "Lulu! Ke sini cepat!" perintah Pak Rifat galak. Lelaki itu memandangku dengan sorot mata tajam. Tampaknya dia sangat marah padaku karena telah berlaku bar-bar di depan banyak orang. "Pak, maaf saya melakukan ini karena dia ...." "Saya tahu, kita akan bahas tentang kamu nanti. Dan kamu, namamu Alfiyah kan? Sebelumnya tinggal di gang kelinci?" tanya Pak Rifat pada Ceu Fiyah. "Iya Pak. Betul kenapa gitu, Pak? Bapak kok kenal saya, ya?" Ceu Fiyah mulai senyum-senyum merasa di atas angin. Dih, najong! "Oh enggak, saya cuman mau bilang selamat ya bulan depan gaji kamu dipotong senilai hutang kamu pada almarhumah Bu Sarminah--mertua saya." "Hah? Kok bisa?" "Bisa. Karena saya teman Bos kamu sehingga dia yang bayar hutang kamu sebelum kamu gajian, jadi lunas kan? Makanya kalau diminta bayar ya bayar Mbak, sebelum gaji melayang," kata Pak Rifat membuat Ceu Fiyah sontak melotot tak percaya apalagi aku. Wah ... benar-benar licik Pak Rifat! Tapi sayangnya aku suka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD