1 minggu berlalu...
Ospek hari pertama, banyak sekali barang bawaan yang Kanya bawa. Namun bukan hal yang menyusahkan. Hanya beberapa kerajinan, sangkar burung dan yang pasti burungnya. Tidak ada resitasi ospek yang menyulitkan mahasiswa baru, tahu sendiri zaman sekarang ini sudah dilarang mempersulit jalannya ospek.
Hari ini pula, tepat satu minggu tanpa Cesa, tepat satu minggu yang lalu dua sahabat itu berpisah tanpa kata yang membahagiakan. Semua itu membuat hari Kanya tak sebahagia biasanya. Tidak secerah biasanya, sorenya juga tanpa senja. Tetapi, apapun itu Kanya telah bertekad untuk mendekap semuanya. Meski tanpa Cesa, dia masih bisa hidup. Tidak ada kata konyol dan omong kosong soal, "Aku tidak bisa hidup tanpamu." Hanya orang tak ber-Tuhan yang berkata demikian.
“Selamat datang, Maba Universitas Sebelas Maret,” sapa seorang Kakak Tingkat, Presiden BEM yang sudah memperkenalkan diri sehari sebelum ospek ini berlangsung. Menyapa adik tingkat barunya via i********:, kemarin sore.
Yah, di zaman yang serba canggih ini tidak perlu meminta mahasiswa baru datang ke kampus hanya untuk menyampaikan resitasi. Cukup meminta semua mahasiswa baru memngikuti akun resmi BEM dan semua infomasi tetang ospek akan dibagikan melalui media sosial. Mudah dan tak banyak membuang tenaga, sayangnya banyak membuang kuota.
Kanya terduduk lesu di antara ribuan mahasiswa baru, mengenakan kemeja putih, rok hitam, dan sepatu pantofel bersejarah, teman setia yang mengantarnya menjadi juara satu lomba baris-berbaris tingkat Kabupaten dan juara tiga BB-TUB tingkat eks-karesidenan Surakarta.
Tiga baris di samping kanan Kanya ada Anna yang paling bersemangat. Dia memang orang yang selalu riang hidupnya, seolah tanpa beban meskipun sebenarnya yang dia alami adalah yang lebih berat dari sahabatnya. Papi dan maminya sudah berpisah sejak beberapa tahun silam, ada sedikit kecelakaan di rumah tangga mereka. Tetapi Anna selalu tersenyum seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Acara demi acara berlangsung sejak tadi pagi, tepatnya pukul 07.00 WIB. Mulai dari opening ceremony, sambutan-sambutan, materi-materi, dan masih banyak pula acara yang belum terselenggara. Ini baru hari pertama, masih siang pula.
“Kanya Bhakti Mayanetra.” Ada yang memanggil nama Kanya dari pengeras suara. Semua orang bersorak, bertepuk tangan sangat luar biasa. Kanya tidak mengerti, rasanya baru beberapa detik dia hilang fokus dari acara ospek ini tetapi seperti telah terjadi banyak hal.
“Mana ini yang punya nama lengkap Kanya Bhakti Mayanetra?” Pengeras suara itu kembali bersuara. “Dari Program Studi Informatika. Maba dari Karanganyar.”
Seorang perempuan di samping kanan Kanya menunjuk ke arahnya. “Di sini, Kak!" teriaknya, mengangkat tangan kanan Kanya tinggi.
Mahasiswa baru dengan rambut panjang yang tergerai itu masih tidak mengerti, kenapa tiba-tiba namanya dipanggil begitu saja? Apa yang barusan terjadi?
“Maju, Dik!” Sang pembawa acara memintanya maju.
Tetap duduk di tempat dengan tampang yang super duper bingung. Pikirannya saja tidak di tempat dan tiba-tiba namanya dipanggil kemudian diminta untuk maju.
“Maju, maju, maju!” Semua mahasiswa baru termasuk Anna bersorak keras.
“Ayo maju, Dik!" Kakak Tingkat datang menghampirinya, menyibak barisan rapi.
“Kenapa sih, Kak?” Dengan polosnya bertanya.
Kakak Tingkat perempuan yang berkerudung syar’i ini tersenyum tipis. Ya, menyejukkan siapapun yang melihatnya. “Kamu maju saja dulu, Dik."
Dengan kebingungan yang belum terpecahkan, Kanya melangkah maju ke depan. Sesekali menundukkan pandangan, malu karena semua mata tertuju padanya sekarang. Bak tersangka kasus korupsi yang baru saja keluar dari gedung KPK setelah pemeriksaan lebih lanjut. Bedanya Kanya menundukkan pandangan, bukan melambaikan tangan.
Naik ke atas panggung, menghampiri pemanggil nama yang tak lain adalah Presiden BEM juga sang pembawa acara. Tertunduk tidak mengerti apapun.
“Dik, Kanya?” tanya sang Presiden, memegang selembar kertas lusuh di tangan kanannya.
Mendongakkan kepalanya, menatap wajah sang Presiden yang ternyata tampan. Setampan Erwin Ramdani, pemain sepak bola asal klub PS TNI. Tatapan matanya juga teduh, potongan rambutnya yang ala babershop itu tertata rapi.
“Coba saya bacakan suratmu, ya?” ucapnya kemudian membuka kertas di tangannya.
Itu kertas yang Kanya tulis beberapa hari yang lalu. Surat yang ditujukan kepada yang dia cintai. Semua mahasiswa baru memang diminta untuk menulis surat kepada yang mereka cintai sebagai salah satu syarat mengikuti ospek. Aduh, malunya jika sampai surat itu dibaca oleh Presiden BEM. Didengarkan pula oleh ribuan umat manusia.
“Kepadamu sang pemilik cintaku.” Presiden BEM bernama Dava itu mulai membacakan surat itu. Ingin sekali rasanya Kanya menghentikan, sayang, tidak akan mungkin. Itu hanya akan membuatnya lebih malu di depan seluruh mahasiswa baru juga Kakak Tingkat yang menjadi panitia ospek. Tak baik bertingkah seperti anak kecil yang memalukan.
Kamu bukan lagi merah darahku
Bukan lagi putih tulangku
Tetapi kamu adalah nyawa kedua bagiku
Bukan lagi tanah kelahiranku
Bukan juga tanah tempatku menyatu
Kamu adalah hidupku
Bukan lagi garuda di dadaku
Karena kamu adalah jiwa ragaku
Jika hari ini berperang dan aku memiliki dua nyawa
Maka hari ini pula dua nyawa itu aku pertaruhkan
Untuk membelamu, Negeri tercintaku
Aku mencintaimu lebih dari mencintai nyawaku
Tetapi maaf tak lebih dari mencintai Tuhanku
Hidup matiku adalah pengabdian untukmu dan Tuhanku
Indonesiaku, aku mencintaimu
Kanya menunduk namun semua orang bersorak, bertepuk tangan dan tatapan mata mereka seolah tersihir. Itu hanya ungkapan yang kanya rasakan. Pikirnya, dibanding menulis surat cinta tentang Cesa, suratnya untuk negeri ini lebih berarti. Karena cinta pada manusia bisa saja berbalik arah kepada manusia lain, sementara negara? Tuhan bahkan punya alasannya sendiri kenapa Dia menempatkan Kanya di negeri ini.
“Ini puisi atau surat?” tanya Kak Dava, melipat kembali kertas lusuh.
Kanya takut jika apa yang dia tulis menjadi masalah, baru musim kan orang menulis justru membawanya ke dalam masalah? Tetapi tulisannya tidak bernada hatespeech.
“Itu surat yang berisi puisi, Kak," sahut panitia lainnya.
“Oke bolehlah ya.” Dava menanggapi. “Kanya, kenapa kamu menulis surat untuk Indonesia?”
Terdiam.
“Dari sekian ribu mahasiswa baru, hanya kamu yang menulis surat untuk Indonesia. Sementara orang lain menulis untuk orang tuanya, pacarnya, dan ada pula yang menulis untuk Tuhan-nya. Kenapa kamu berbeda?” lanjut Dava.
Menelan ludah. “Cinta kepada orang tua bisa saya ungkapkan langsung, Kak. Karena kalaupun saya menulis surat itu untuk orang tua saya, mereka tidak akan membacanya, surat itu akan dikumpulkan.”
Dava manggut-manggut.
“Untuk pacar.” Terhenti, yang diingat adalah Cesa. Padahal dia hanya sahabat bagi Kanya. “Saya tidak punya pacar, dan saya pikir terlalu alay jika saya menulis surat di sini untuk pacar. Itu privasi saya, tidak untuk dibaca oleh Kakak Tingkat.”
Dava kembali manggut-manggut, entah paham atau pura-pura paham.
“Untuk Tuhan.” Tersenyum tipis. “Saya selalu menyampaikan rasa cinta saya dalam setiap sujud dan setiap saya bersimpuh di hadapan-Nya. Menulis surat ini untuk Tuhan? Bahkan Tuhan sudah tahu apa yang saya pikirkan tanpa harus saya tulis. Tuhan lebih dulu tahu soal surat itu daripada Kakak Tingkat dan cinta kepada Tuhan tidak perlu dipamerkan, orang-orang bisa menilai sendiri.”
Kembali hanya anggukan paham.
“Untuk Indonesia. Bagaimana saya harus mengungkapkan? Siapa pula yang mau mendengarkan? Surat itu adalah ungkapan dan acuan.”
Semua orang terdiam. Hanya Anna yang bertepuk tangan dari tengah-tengah lautan manusia. Dia memang tidak tahu malu.
“Indonesia butuh kerja nyatamu, Dik. Bukan surat semacam ini yang harus dibaca banyak orang.” Dava menyahut.
Tersenyum getir sedikit jahat. “Anda yang memerintahkan saya untuk menulis surat kepada yang saya cintai, dan Indonesia adalah yang saya cintai. Letak kesalahannya di mana?” Seolah menantang. “Lalu, saya pun sudah katakan bahwa surat itu adalah ungkapan dan acuan, agar saya bisa terus mengabdi dan mengingat bahwa saya mencintai negeri ini. Saya juga tidak meminta semua orang membaca surat itu, Kak. Justru Anda yang telah membacakan dan membuat semua orang ikut mendengar, mengetahui isinya. Di mana letak kesalahan saya?” Mengangkat naik kedua alisku.
“Huuuuuu.” Semua orang bertepuk dan bersorak, yang di atas panggung diam tak berkutik. Rasanya Kanya baru saja membuat sang Presiden mati kutu.
Kakak Tingkat berkerudung syar’i yang meminta Kanya segera naik ke atas panggung tadi mendekat. Mengambil alih pengeras suara yang berada di tangan sang presiden BEM. “Jadi bagaimana teman-teman? Apa surat ini pantas menjadi surat terbaik untuk ospek tahun ini?”
“Pantaaasss!” Mahasiswa baru menjawab serempak.
“Oke, selamat untuk teman kita, Kanya Bhakti Mayanetra. Mengingatkan kepada kita semua agar kita terus mencintai negeri ini. Kepada Presiden BEM supaya berkenan memberikan penghargaan,” lanjutnya.
Kanya baru tahu jika dia dipanggil ke depan karena memang surat yang ditulisnya menjadi surat terbaik ospek tahun ini. Risiko orang tidak fokus memang begini, hanya bisa plonga-plongo. Untungnya tidak separah itu juga.
Prosesi penyerahan dan lain sebagainya telah terlewat. Kembali ke tempat dan melalui segala macam acara ospek yang tersisa. Hari ini berlalu tanpa Cesa dan masih tidak telalu masalah. Tujuh hari, mudah bagiku melaluinya. Tidak fokus sesaat? Itu biasa, hanya kurang air mineral saja.
***
4 bulan berlalu...
Kuliah ternyata ribet sekali, sedikit-sedikit makalah, sedikit-sedikit presentasi. Ini baru semester pertama dan sudah semembosankan ini. Apalagi bertemu kembali bahasa-bahasa komputer yang sangat memusingkan, penuh dengan kode juga bahasa alien. Kepala Kanya seolah akan pecah beberapa menit lagi.
Seandainya saja dia menurut apa kata Papa, mengambil jurusan Ilmu Politik di Universitas Negeri Semarang. Setidaknya dia lebih menyukai dunia itu. Sayangnya dia juga tidak mau menyia-nyiakan ilmunya di SMK. Rasanya mubazir sekali meninggalkan ilmu yang telah dia pelajari selama tiga tahun lalu. Ya, walaupun ilmu komputer itu tidak ada mubazirnya. Apalagi di dunia modern sekarang ini.
“Kanya,” panggil teman perempuan barunya, maksudnya teman kuliahnya.
Menengok saja.
“Kamu tuh sudah beberapa hari ini tidak fokus, ada masalah?” tanyanya berhati-hati, sembari memegangi laptop di pangkuannya.
Mereka sedang mengerjakan tugas kelompok tentang konsep pemrograman. Seharusnya dia yang lebih paham tentang materi ini dan bisa menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain. Karena konsep pemrograman sudah pernah disinggung di masa SMK. Tetapi sekarang? Justru dia yang lebih banyak diam dan tiga orang temannya lagi yang sibuk membolak-balikkan lembaran buku.
Gelengan saja sebagai jawaban.
“Lagi kangen kali sama pacarnya yang TNI,” sindir salah satu teman laki-laki.
Dahinya mengkerut. Rasanya Kanya masih jomlo akut sampai sekarang. Sejak kapan seorang prajurit mau dengan perempuan informatika? Bukankah prajurit lebih suka yang bisa mengobati diri mereka ketika terluka daripada yang bisa membetulkan komputer rusak atau membuat sebuah program?
“Pacarnya Kanya TNI?” Salah satu teman perempuan yang lain ikut nimbrung, melupakan buku tentang konsep pemrogramannya.
Teman laki-laki yang bernama Valdo mengangguk. Seharusnya Kanya yang menjawab, bukan Valdo. Dia hanya sok tahu saja. Kanya yang menjalani dan orang lain yang sok tahu. Hidup memang semacam itu, orang lain sok mengenal diri kita. Padahal mereka hanya tahu nama saja.
“Lihat saja instagramnya. Banyak foto sama cowok tuh, yang paling sering muncul itu yang namanya Cesa. Coba deh stalking cowok yang namanya Cesa itu. Post terakhirnya, 'Calon ibu Persitku, tunggu aku sampai menjadi Sertu.' Ibu Persit itu istri tentara, kan?” jelas Valdo.
Ah, Cesa. Kenapa juga mereka harus membahas Cesa? Kanya sudah mulai lelah karena setiap hari rindunya membumbung tinggi.
“Oke, Ibu Persit itu istri tentara. Yang aku bingung, Valdo Yohannes. Ngapain kamu stalking sampai sejauh itu? Suka ya sama Kanya?” Teman perempuannya yang sempat terkejut, Riana.
“Ya, iyalah. Aku suka sama Kanya. Perlu diperjelas? Selama ini kan hanya Kanya yang aku perhatikan, aku love semua foto instagramnya, aku temenin dia kemanapun, tepatnya menguntit sih dan...”
Kanya tidak tahu soal itu, tidak terlalu peduli juga dengan si Valdo. Dan menguntit? Itukah alasan Kanya sering bertemu Valdo di luar jam kuliah? Wah, hebat juga.
Dua teman perempuan Kanya mengerutkan dahi. “Jujur amat lu, Tong!” serempak. Mereka tidak kembar tetapi mereka sering kali bersama, mungkin itu alasan kenapa mereka bisa satu suara kali ini.
“Aku sudah capek pakai kode-kode. Karena selihai apapun seorang programmer menciptakan kode belum tentu orang lain bisa mengerti kode yang kita buat. Kalau ada yang lebih mudah dari membuat kode, kenapa harus pakai kode? Katakan begitu saja, dan semuanya tidak akan jadi rumit.” Valdo masih santai saja.
“Tapi enggak gitu juga kali, Do!” bantah Riana. “Terus gimana tanggapan kamu, Kanya? Mau melepas tentaranya atau pilih sama Valdo aja, mahasiswa semester satu Prodi Informatika. Kalau aku sih pilih TNI-nya kemana-mana, Kan. Pasti ganteng ya?"
Kanya terdiam, menghela napas. “Aku tidak punya pacar, itu sahabatku dan aku sedang tidak mau berpacaran. Terimakasih untuk ungkapan mendadaknya, Valdo,” katanya dingin-dingin bagaimana begitu.
“Beneran cuma sahabat, Kan?” Mata Valdo berbinar.
Anggukan.
“Puji Tuhan. Masih ada kesempatan,” bersorak gembira.
Seandainya yang mengungkapkan perasaan seberani itu adalah Cesa, bukan Valdo. Betapa bahagianya diri Kanya saat ini. Bisa jungkir balik, rol depan hingga rol belakang. Sayangnya harapan hanyalah harapan, asa hanya sebatas asa berasap.
Empat bulan tanpa Cesa berjalan lancar, namun kerinduan semakin memancar.
“Tapi jangan seneng dulu, Valdo.” Riana angkat bicara. “Yang namanya sahabat itu pasti jadi cinta. Apalagi antara cowok dan cewek begini.”
“Hey, itu kemungkinan besar saja. Sementara manusia tidak boleh mudah menyerah hanya karena ada kemungkinan yang kecil. Tuhan Yesus akan selalu menolong hamba-Nya,” sahut Valdo tak mau kalah. “Jangan mudah pesimis-lah. Masih ada kesempatan meski kecil.” Percaya diri sekali.
Sayang, bagaimanapun, meski Indonesia terdiri dari beragam budaya, bahasa dan agama. Kanya tidak mungkin bersama dengan Valdo, keyakinan mereka tidak menyatukan.
“Hemmmm.” Riana menyerah. “Eh, berarti si sahabat kamu itu Bintara ya, Kan?” Beralih pada Kanya.
Mengangguk.
“Wah, boleh juga tuh.” .
“By the way, enggak ada gitu perasaan sedikitpun, Kan? Berapa lama bersahabat? Ganteng enggak sih?” berondongan pertanyaan dari Riana.
Tersenyum tipis. “Sudah tiga tahun. Kamu lihat saja sendiri. Tapi lebih baik nanti, kita kerjakan dulu power point-nya.” Mengalihkan topik pembicaraan.
Kembali berjibaku dengan kata, slide presentasi dan beberapa kasus. Meski fokus, pikiran Kanya tetap pada Cesa seperti tidak ada lelahnya dia berlari dipikirannya. Lama tak bertemu membuat rindunya menggebu. Empat bulan merindu.
***
7 bulan berlalu...
Hidup Kanya semakin membosankan saja tanpa Cesa. Semakin tidak jelas karena fokus pikirannya tetap sahabat tercintanya yang jauh di sana. Nilai semester satu yang keluar tidak begitu memuaskan. Iya, cumlaude, tetapi ada beberapa bagian yang harusnya bisa lebih bagus. Terlebih semester satu itu mata kuliahnya belum terlalu sulit. Semuanya karena rindu.
“Nyung?” panggil Anna yang datang dari sisi kanan. Membawa tentengan kantong plastik putih berlogo salah satu resto donat ternama di Indonesia. Wajahnya terlihat ceria, dia memang tidak memiliki beban apapun.
Kanya mengangkat kedua alisnya ketika Anna sampai. “Pergi sama siapa lagi kamu, An?”
Beberapa bulan ini Anna sering kali pergi dengan orang-orang yang berbeda. Kemarin dengan kakak tingkatnya, kemarinnya lagi dengan teman sekelasnya, kemarinnya lagi dengan kenalannya. Dia hidup melalang buana dengan laki-laki yang berbeda setiap waktu. Sahabat Kanya ini memang macam mafianya laki-laki, jika karma sudah datang baru tahu rasa dia.
“Sama...” Terhenti.
“Sama aku, Kan.” Seseorang datang dan langsung menyahut percakapan mereka. Dava?
“Iya, tadi Kak Dava ngajakin gue beli donat. Katanya biar lo enggak murung-murung lagi,” jelas Anna yang belum sempat Kanya tanyakan kenapa dia bisa bersama Dava.
Sejak kejadian ospek waktu itu, Dava sering sekali menemui Kanya. Meski sesekali hanya bertegur sapa dan Kanya menjawabnya dengan dingin. Dia tidak terlalu berminat. Walaupun dingin, Dava seperti tidak pernah mau menyerah terhadap Kanya. Hari ini dingin, maka besok dia akan kembali lagi.
Awalnya Kanya berpikir bahwa ini hanyalah taktik Dava untuk memintanya bergabung dengan BEM, besok jika sudah memenuhi syarat, mungkin semester tiga. Tapi Kanya masih ada tanggungjawab di SMK. Dia masih menjadi pelatih esktrakulikuler PASKI di almamater dulu. Kanya sudah yakin 100% bahwa dia tidak akan bisa membagi waktu jika mengikuti banyak kegiatan. Terlebih satu hal yang tidak dia suka dari organisasi kampus adalah demo. Terserah orang bilang dia mahasiswa apatis atau yang lain sebagainya, tetapi kenyataannya itulah hal yang tidak dia sukai.
“Terima kasih, Kak. Tapi aku tidak apa-apa. Aku memang begini orangnya. An, aku sudah ditunggu adik-adik di SMK. Kamu masih ada keperluan di kampus atau tidak?” Mengalihkan pembicaraan.
“Loh, Kanya.” Dava sedikit tidak terima.
“Maaf, Kak. Tapi aku harus pergi, sudah dari setengah jam yang lalu aku menunggu Anna di sini. Tidak ada lagi waktuku untuk bersantai.” Masih saja dingin.
“Sudah enggak ada sih,” jawab Anna melirik Dava takut-takut.
“Boleh aku ikut, Kan?” Dava nimbrung.
“Terserah!” singkat saja langsung menuju tempat parkir sepeda.
Dava memang tak mudah menyerah dengan sikap dingin Kanya. Dia benar-benar mengikutinya dan Anna ke SMK. Heran juga, dia Presiden BEM, tidak ada acara gitu? Enak sekali hidupnya.
Cukup 20 menit perjalanan bagi mereka sampai di SMKN 2 Karanganyar. Sudah banyak orang yang menunggu. Hari ini hari Selasa. Latihan PASKI memang hanya diadakan setiap hari Selasa sore dan Sabtu siang. Itu juga karena harus menyesuaikan jadwal kuliah Kanya sebagai pelatih.
“Siang, Dik. Maaf ya telat satu menit empat puluh dua detik,” ucapan maafnya lengkap dengan perhitungan waktu.
“Tidak apa-apa, Mbak. Baru selesai cek perlengkapan lomba juga kok,” jawab salah satu anggota PASKI.
“Oh iya, event terdekat apa? Kemarin Mbak ketemu sama Bapak Purwanta. Katanya ada satu event dalam waktu dekat dan beliau bilang surat tembusannya sudah kalian terima.” Duduk di antara anggota. Anna dan Dava? Mereka lebih memilih duduk di tepian lapangan tenis, tempat berlatih dari tahun ke tahun.
“Iya, Mbak. Undangan mengikuti perlombaan KALIBER jilid dua yang diadakan oleh SMA N 1 Sragen. Tingkatnya eks-karesidenan. Enggak resmi sih, Mbak. Maksudnya hanya event khusus yang biasa diselenggarakan oleh SMA N 1 Sragen setiap tahunnya, untuk memperingati HUT sekolah mereka. Terserah Mbak sih mau ikut atau tidak. Keputusan apapun kami siap berangkat.” Komandan Peleton yang sudah Kanya tunjuk beberapa bulan yang lalu menjawab. Sekaligus memberi pernyataan tegas.
“Oke, nanti Mbak rundingkan dulu sama Pak Purwanta ya? Kalau Mbak sih maunya kalian berangkat, setidaknya bisa jadi ajang pemanasan buat kalian sebelum lomba di kabupaten. Tapi rasanya kok mepet sekali dengan lomba kabupaten ya, Dik? Ah, nantilah Mbak rundingkan,” tanggapan Kanya.
“Setuju, Mbak.” Semua bersorak penuh semangat.
“By the way, itu pacar baru Mbak Kanya? Terus Mas Cesa gimana, Mbak?” Sang Komandan Peleton berbisik pada Kanya. Dia kelas XI sekarang, setidaknya selama setahun dia sempat menikmati cerita persehabatan Kanya dengan Cesa. Dia kelas X, saat pasangan sahabat itu kela XII.
“Itu Kakak Tingkat kok, Dik. Temennya Mbak Anna,” jawabnya santai.
“Langsung lesu begitu Mbak pas denger nama Mas Cesa, kangen ya?” menggoda Kanya.
Hanya tersenyum tipis.
“Kangen itu, Dik,” sahut Anna yang ternyata mendengar percakapan mereka. “Tapi, Nyung. Bukannya ini sudah tujuh bulan ya, Nyung? Kok Cesa enggak ngasih kabar kapan dia pelantikan? Kita enggak penting atau bagaimana nih?”
“Kita memang tidak penting buat Cesa, An. Lupakan saja, lebih baik bantu aku melatih seperti biasanya,” balas Kanya.
“Cesa siapa, An?” tanya Dava yang memang tidak tahu banyak hal. Meski tujuh bulan ini dia selalu menguntit. Bahkan permintaan mengikutinya belum Kanya setujui. Jadi, dia memang tak tahu soal Kanya dan Cesa.
“Cesa itu, emmm, tanya Kanya aja deh, Kak.” Untung Anna tidak menceritakan soal kisah Kanya dan Cesa.
“Mbak Kanya, Mas Cesa itu siapa sih? Kok Mbak-mbaknya kelas XI sama kelas XII sering sekali membicarakan Mas Cesa itu. Katanya dia mantan Ketua PASKI yang sekarang lagi pendidikan tentara, terus katanya pasangan serasinya Mbak Kanya tapi kok katanya cuma sahabat.” Anak kelas X nimbrung, ini lebih baik untuk mengalihkan pembicaraan. Mereka memang tidak banyak tahu soal Kanya dan Cesa. Maklum, anak baru.
“Itu semua benar dan berhenti membahas soal Mas Cesa, waktunya latihan!” potong Kanya geram.
“Ya, begitulah kalau rindu tak kunjung bertemu,” sindir sang Komandan Peleton.
Hanya menggeleng saja. "Fokus Kanya, fokus. Kamu datang ke sini bukan untuk mempermasalahkan pembicaraan mereka. Kamu datang untuk memberikan ilmumu," batinnya menenangkan diri.
Latihan terus berjalan. Dari mulai gerakan dasar di tempat, gerakan berjalan, gerakan berhenti ke berjalan, berjalan ke berjalan dan berjalan ke berhenti. Waktu perlombaan tingkat eks-karesidenan biasanya 30 menit. Ada sekitar 60 gerakan yang harus terlaksana dan runtut, sementara sisa waktunya akan di gunakan untuk gerakan variasi. Yang menjadi masalah adalah gerakan variasi. Setiap tahun gerakan variasi tim dalam mengikuti lomba tingkat Karesidenan selalu sama. Tidak pernah ada bedanya, kali ini rasanya bosan jika harus menampilkan hal yang sama. Bisa-bisa juara tiga terus di karesidenan Surakarta.
Kanya sedang memikirkan variasi terbaiknya.
“Mbak, ada tentara ganteng tuh. Gila, mau cari siapa, ya?” Salah satu anggota kelas X bersuara, perempuan. Maklum saja, perempuan seringkali tergoda oleh seragam seorang tentara. Kanya tidak begitu peduli, mungkin tentara dari Yonif 413/Bremoro yang datang untuk urusan pendidikan karakter di markasnya.
“Mau ketemu Bapak Purwanta kali, Dik. Urusan pendidikan karakter mungkin.” Komandan Peleton satu hati dengan pikiran Kanya.
Kembali membicarakan formasi variasi yang harus segera mereka temukan, sementara tentara tampan yang dimaksud semakin mendekat, langkahnya mantap semantap rindu yang dia bawa. Dia juga nampak tak sabar.
“Tapi dia berjalan ke arah sini, Mbak.” Anggota kelas X itu masih saja ribet.
“Aaaakkk!” Anna tiba-tiba berteriak girang. Kanya menoleh, mengerutkan dahi untuk tingkah Anna yang aneh. Sementara Dava memasang tampang datar di samping Anna. Bukannya membantu, Anna justru berteriak-teriak tidak jelas. “Sorry-sorry, Nyung. Ada berita terbaru dari Song Joong Ki soalnya,” jawabnya ragu, menyembunyikan sesuatu. Menunjukkan layar ponsel yang tak menyala.
Kembali ke urusan variasi. Sedikit terganggu karena banyak yang mengalihkan pandangan dari Kanya, membuatnya enggan melanjutkan penjelasan formasi variasi. Semua anggota menoleh ke arah utara kemudian menunduk, satu per satu.
Penasaran, Kanya ikut menoleh. Benar-benar keajaiban ketika bola matanya melihat obat dari kerinduan. Hormon bahagia memuncak, semacam pingsan langsung dapat terbangun lagi, semacam jatuh langsung dapat berdiri lagi, tidak butuh waktu yang lama.
Kanya bangkit dari tempatnya, melangkah cepat menghampiri penawar rindu. Jatuh ke dalam dekapannya. Dia memeluknya begitu erat. Seluruh dinding kerinduan runtuh dalam sedetik. Di pelukan hangatnya yang baru tiga kali ini dia rasakan.
“Kamu pasti sangat merindukanku, Kanya. Maaf tak memberimu kabar pelantikanku. Hanya orang tuaku yang datang,” bisiknya di telinga kanan Kanya. “I miss you.”
Air mata Kanya jatuh dalam dekapannya.
“Adik-adik, hayo yang belum delapan belas plus dilarang menonton adegan ini. Peringatan keras! Harus dengan bimbingan orang tua.” Anna menutupi Kanya dan Cesa dari Adik-adik. Konyol.
Cesa melepas pelukannya. Sementara Dava yang tadinya duduk jadi berdiri dan kebingungan, sedikit ada warna merah padam di wajahnya.
“Dik, pinjam Mbak Kanya-nya dulu atau kalian mau pulang saja, gimana?” Cesa tanpa sungkan mengatakan itu. “Anna, kami pamit dulu, ya?” Menarik perempuannya pergi bahkan belum mendapatkan jawaban persetujuan dari Adik-adik maupun dari Anna.
Senyum Kanya telah kembali. Tujuh bulan tanpa Cesa dia lalui dengan kerinduan yang menggumpal, menggebu, dan siap meledak. Rindu memang semacam bom waktu yang terus berjalan dan semakin membahayakan penikmatnya. Dan Cesa, dia datang tepat waktu. Saat bom waktu tinggal hitungan detik. Seorang tentara menyelamatkan Kanya dari bahayanya rindu.