Tok tok tok....
"Masuk." suara dingin Dani terdengar menggema.
Cekreek....
"Ngantarin makan siang mas." senyum OB menatap Dani.
"Ooooh... tarok aja disana, oya... buatin kopi yah bang." perintah Dani.
"Iya mas." tunduknya patuh akan permintaan Dani.
"Mba minum kopi juga?" tanya OB lanjut pada Cua.
"Hmmm... nggak usah, terimakasih." senyum Cua.
Dani menatap Cua.
"Ya udah, saya permisi mba, mas." senyum OB menunduk kemudian berlalu.
Cua terkekeh mendengar sebutan mas untuk Dani.
"Emang kamu Cowok?" kekeh Cua menatap Dani.
"Hmmm..." jawab Dani dingin.
"Hmmm... kamu marah ama pertanyaan aku.?" tanya Cua khawatir.
"Kenapa mesti marah, lo nggak tau, terus nggak nanya, kenapa gue mesti marah." jawab Dani kaku.
"Mau makan sekarang? atau nanti?" Cua mengalihkan pembicaraannya.
"Hmmm... kamu lapar?" tanya Dani lembut.
"Belum seeeh... karena tadi pagi ribut ama kamu." wajah Cua berubah kurang senang mengenang kejadian tadi pagi.
"Eeeeeh... listen... gue, temenan ama lo bukan maksud jahat, gue kasihan ama perantau kayak lo dimanfaatkan pria kayak sahabat lo itu, ngerti." tegas Dani.
"Iya... aku ngerti, udah aaaagh... jangan dibahas, puyeng aku." rungut Cua.
Dani berdiri menghampiri cua.
"Denger yah, gue seneng sama kepolosan lo, tapi gue benci sama kebodohan lo, lo anak cewek jauh dari keluarga, kalau nggak bisa jaga diri dari pria kayak Angga, hancur lo, emang lo mau masa depan lo suram?" sarkas Dani.
"Haaaaah...???" kaget Cua.
"Kamu ngomong apa seeeh, yaaah, aku mau dari muda sukses dong, apalagi usia ku masih muda gini, aku seneng kamu membantu dan membuka mata ku, but, aku masih penasaran, kenapa kamu mau membantu aku? Itu doang." jelas Cua polos.
"Heeeiii... Gue tu awalnya suka ama lo, tapi karena Angga, gue urungkan niat gue buat macarin lo." senyum Dani sinis seakan remeh.
"Haaaah... maksud kamu? kamu suka dan mau pacaran ama aku? kan tadi aku dah bilang, aku tuh sehat."
Cua berlalu menuju sofa.
"Menurut lo, gue sakit?" sinis Dani.
"Yaaaah... nggak gitu, aneh aja rasanya." kekeh Cua.
"Heeeeeiii... gue suka doang, bukan untuk serius." tegas Dani.
"Iya, tapi tetep aja aneh, karena di daerah aku nggak pernah ada yang begini." tambah Cua.
"Udah aaagh... ganti topik, makan dulu, biar lo nggak begok, besok kalau lo ke Bandung, gue ikut lo."
Dani menatap laptopnya.
"Haaaaah....????" wajah Cua jelas terlihat tidak menyukai keputusan Dani.
"Ntar mama ku pasti marah, kalau aku berteman dengan mu." jujur Cua.
"Heeeeiii... gue anak bos lo, bukan kawan atau pacar lo, tenang aja by the why... lo bisa nyetir?" tanya Dani.
"Ya bisa lah, kelas 2 SMA aku udah bisa nyetir." sombong Cua.
"Baguslah." Dani melahap makan siang yang sudah terhidang di hadapannya.
Cua dan Dani makan bersama.
Cua berusaha mendekatkan diri agar nyaman dalam menerima kehadiran Dani sebagai teman barunya.
Jujur tidaklah mudah, memiliki teman baru dari dunia yang berbeda, tapi Cua teringat soal perjanjiannya pada Hartono secara pribadi agar dapat merubah sang putri,
'tapi dimulai dari mana.' Cua membatin.
"Dek Cua, di panggil bapak di ruangan yah." suara Laras terdengar dari intercom.
"Iya mba, segera saya ke ruangan bapak, terimakasih." sahut Cua.
"Aku ke ruangan Papi mu dulu yah, selesai dari ruangan papi kita persentasi di hotel Agro." jelas Cua berlalu meninggalkan Dani yang masih menatapnya.
"Permisi om. Om panggil saya?" tanya Cua bersalaman, mencium punggung tangan Hartono.
"Ooooh yah, silahkan duduk." sahut Hartono.
"Ini anak rekan saya dari Jogja, menawarkan tempatnya menjadi hotel dalam naungan perusahaan kita, bisa kamu persentasi kan diruangan meeting?" tatapan Hartono terkagum pada penampilan Cua hari ini, sangat modis, elegan, dibalut mini dres, blazer dan sepatu booth 12cm.
"Oooh." Cua menatap rekan Hartono, mendekati dan mengulurkan tangan untuk berkenalan.
"Randy." senyum rekan barunya.
"Cua." Cua melepaskan tangannya dari genggaman Randy.
Mendudukkan bokongnya ke sofa empuk ruangan Hartono.
"Kita mulai persentasi sekarang, atau kapan pak Randy?" tanya Cua sopan dan lembut.
"Hmmmm... terserah, kamu bisanya kapan, saya menunggu." jawab Randy hangat.
"Tapi jangan panggil pak dong, tua banget, panggil mas aja." godanya tetawa menatap Hartono.
"Oooough ya mas, maaf, saya nggak tau." jawab Cua.
"Ya udah, kamu minta siapkan ruang meeting sama OB, 15 menit lagi Randy akan menyusul." perintah Hartono.
"Baik om... saya permisi." senyum Cua berlalu meninggalkan ruangan Hartono.
Cua meminta OB membantunya menyiapkan ruangan. Mengambil semua bahan persentasi di ruangan.
"Kamu ikut persentasi ama aku yuuukz." suara Cua mengalihkan perhatian Dani sedang bermain Game.
"Sama siapa?" tanya Dani kaku.
"Mas Randy." Cua membalikkan tubuhnya berlalu.
"Randy anak om Tio.?" tanya Dani serius menatap Cua.
"Nggak tau, mas Randy sendiri." jelas Cua.
"Mas...?? Randi tu anak om Tio, dari Jogja kan? dia itu temen sekolah gue." jelas Dani.
"Ooooh... seumuran kita? tapi ini asli ganteng lhoo... meluluh lantahkan hati aku." kekeh Cua mengejek kearah Dani.
"Hmmm... dasar cewek matre lo." balas Dani.
"Kok matre, aku seneng karena ganteng yah, bukan kaya." kekehnya.
"Oooh iya, gue lupa, tipe lo kan Angga." balas Dani dingin.
"Daniiiii..." mata Cua menatap kesal ke arah Dani.
Dani tertawa mengusap kepala Cua, menuju ruang meeting.***