Melukai yang ku sayangi

1024 Words
Satu setengah bulan kemudian "Tolong lepaskan!" titah Nara terengah engah "Apa hubungan Mu dengan pria tua itu" balas Prince ekspresi penuh cemburu. Prince pria bengis itu, Ia langsung menyergap Nara tanpa celah memegang pergelangan tangan Nara dengan kencang jarak tubuh mereka sangat dekat debaran jantung sekaligus nafas mereka seakan menjadi satu. Sampai Prince bisa mencium aroma wangi yang Nara keluarkan dari tubuhnya. "Apa kamu salah satu simpanannya!" Satu tamparan keras membuat setengah wajah Prince memerah. "Kamu tidak sopan!" tegas Nara seluruh tubuhnya gemetar Prince lagi lagi mendekat bahkan saat ini ia menarik pinggang ramping Nara dan membuat Nara berada dalam pelukkannya. Jujur saja ini ke dua kalinya seorang perempuan terus saja memukuli Ku tanpa rasa takut entah perempuan ini bodoh atau tidak tahu akan tindak lakunya yang bisa memicu amarah. "Bersyukurlah aku tidak mematahkan pergelangan tangan Mu!" geram Prince penuh amarah. "Kenapa!" teriak Nara "Apa?" jawab sepontan Prince nampak terkejut "Patahkan saja! melawan juga percumakan... Kamu selalu saja!" sahut Nara menghentikan ucapannya sambil menatap benci Prince. Ekspresi Nara kala itu, terlihat tak berdaya, sedih, pupil matanya bergetar seakan mengisyaratkan mengapa kejadian tidak adil selalu terjadi dalam hidupnya, padahal ia tak pernah sekalipun melakukan kesalahan. Prince yang melihat sosok Nara hatinya getar, ia melepaskan cengkramannya terlihat linglung dan baru menyadari perbuatannya yang menyakiti tubuh Nara. [ padahal wanita itu sangat rapuh! apa yang baru saja ku lakukan ] batin Prince sedikit meremas rambutnya sendiri. "Na-Nara.. Narah!" panggil Prince penuh dengan kehangatan. Ia perlahan memegang lembut kepala Nara mengelus secara perlahan, mencoba menenangkan Nara yang masih terpatung. Suaranya yang berat tetapi terdengar seksi, siapa pun wanita yang mendengar suara Prince seperti akan tersihir dan mengikuti semua kehendaknya. "Lihat Aku Nara... " "Maaf, Aku benar-benar hilang kendali entah mengapa Aku marah dan perasaan ini sangat asing bagi Ku berbeda dengan perasaan ingin membunuh." Prince Nara melirik ke arah Prince setelah terkejut akan ucapannya. "Apa Kamu akan membunuh Ku?" "Mana mungkin, Aku tidak akan membiarkan kamu terluka... Jika mati pun akan Ku pastikan Kamu hidup kembali." ujar Prince mencoba meyakinkan padahal baru saja ia melukai pergelangan tangan Nara. Mereka saling beratatapan, Mata Prince yang sedari tadi terus menatap mata cantik Nara kini mulai melirik ke arah bibir kecil tipis berwana pink Nara. Matanya memperlihatkan keinginan yang begitu besar, perlahan tangan Prince memegang tungkak leher Nara ia ingin segera melumat bibir kecil pink itu. "Tidak Prince.. kumohon ini tidak boleh!" tolak Nara mendorong tubuh Prince. Tangan Nara gemetar, walau satu setengah bulan sudah berlalu ia masih saja belum bisa melupakan kepahitan rumah tangganya yang mungkin akan kandas. Dan malah mendapat trauma berat akan laki-laki sudah lagi ia malah terus di buntuti pria yang terobsesi padanya. "Kenapa tidak boleh?" "Narahh..." Prince pria agresif itu terus mencoba mengalirkan nafsunya, ia mendekati wajahnya di depan wajah cantik Nara. Namun, Nara wanita itu masih tidak membalas pandangan panas pria yang ada di depannya. Sontak akal sehat Prince terputus, benar-benar di luar dugaan hanya wanita kecil yang rapuh tetapi mengapa dirinya tidak bisa melepaskan amarahnya pada wanita itu walaupun akal sehatnya sudah tidak bisa ia tahan. Akhirnya Prince memilih menendang guci besar yang ada di belakangnya hingga guci itu hancur. Suara pecahnya memekik di telinga kepingan hancur guci itu ada yang mengenai pipi Nara walau tergores sedikit. "Apa hanya Ayah Ku yang boleh? karena kamu simpanan orang itu?" "lihat Aku Nara tidak ada yang kurang dari Ku, Aku bisa memberi Mu lebih." "Membebaskan Mu darinya, jadilah wanita Ku jika perlu biar Aku melumpuhkan pria tua itu." ucap Prince dengan akal gilanya. Semua perkataan gilanya, membuat fikiran Nara menjadi kencang traumanya yang sudah coba ia tahan dan tetap menjaga akal warasnya tidak lagi bisa ia tahan. Perkataan kasar Prince memicu kambuhnya trauma Nara, karena Nara hampir mengalami sakit jiwa. Tiba-tiba Nara berteriak, teriakkannya sangat histeris kepalanya seakan sakit ia terus saja memegang kepalanya. "Nara?" Prince berdiri terpatung kebingungan, Sosok Nara yang seperti ini tidak pernah ia lihat, apa yang sebenarnya terjadi. "Nara sadarlah, Nara.." ucapnya sambil mencoba menyadarkan Nara yang masih histeris sampai tindakkannya itu mendapat dorongan keras dari Nara. Kala itu Nara menilik Prince dengan tatapan yang aneh, seperti mengandung kebencian, dendam, kecewa, sedih dan takut. Langkah lari menghampiri keberadaannya, datang sesosok pria bertubuh besar wajahnya menampakkan kematangan seorang pria yang siap melindungi seribu wanita. Pria kuat nan tampan itu, ia langsung menendang punggung Prince dengan keras membuat Prince tersungkur di lantai. "Dasar bocah baj*ngan! apa yang Kau lakukan pada Nara." teriak keras pria itu. Prince menatap linglung ia juga terkejut mengapa Nara jadi seperti itu di banding rasa sakit akibat di tendang, Prince lebih khawatir dengan kondisi Nara yang masih histeris bahkan saat ini tubuh Nara gemetar hebat. "Nara... Nara sadarlah, Aku Rayno kau dengar Aku Nara?" panggil resah pria yang bernama Rayno dengan nada pilu. Nara merespon panggilan Rayno, ia menatap Rayno seketika pandangannya kabur. Nara menghembuskan nafasnya dengan panjang seakan sudah bisa melepas ketegangannya walau ia langsung pingsan setelah itu. Bugh..bugh, suara pukulan keras memenuhi ruangan yang di d******i dengan warna black dan gold. Terlihat mewah dan elegant yang paling menonjol dari ruangan itu ialah simbol huruf M besar yang menempel di dinding yang terbuat dari Emas. "Anak bodoh..." "Beraninya Kau memegang milik Ku?" "Setelah ini jangan bermimpi untuk bisa menemuinya, hasrat konyol Mu itu, melukai yang kusayangi jika keluarga ini tidak membutuhkan Mu, Kau sudah mati sejak lahir jadi berhentilah bermain Raja!" ujar sosok Pria yang benar-benar bertubuh besar di bagian tangannya banyak sekali bekas luka sayat. Tes..tess, darah menetes dari bibir serta punggung Prince menjatuhi lantai yang dingin dan sunyi. Perginya pria bertubuh besar dengan bekas sayat di tangan itu berbarengan dengan rasa sakit di d**a Prince yang menguak seakan menggrogoti jiwanya. "Kau..." geram Prince sampai seluruh uratnya terlihat "Benar-benar Ayah yang terburuk!" teriaknya masih dalam keadaan ke dua tangan dan kaki terantai dan luka yang baru. Kilas balik satu setengah bulan yang lalu sebelum Nara bertemu dengan pria-pria obsesif yang menambah trauma hidupnya, dan setelah Nara memutuskan pergi meninggalkan rumah pernikahan benih dari awal kacau hidupnya. "Sayang Ku.. apa yang kamu lihat?" tanya Pria bernama Ganta. "Tidak ada, Aku hanya terpesona dengan halaman yang luas dan indah." sahut Nara tersenyum, walau jelas tadi ia memikirkan hal yang berat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD