Tiga Belas

1753 Words
"Sejujurnya pendapatmu yang terakhir itu sangat benar. Tapi kan, sikapnya yang selalu repot setiap berhubungan denganku itu sangat manis." Aku menghempaskan punggung pada sofa. Apanya yang manis? Cih, dasar lidah. "Selamat datang, nyai." Laki-laki dengan rambut brush on top tersebut mengatupkan tangan di depan lututku seraya sedikit menunduk. Otaknya benar-benar tinggal setengah. Heran benar kenapa dulu aku mau berteman dengannya. Sampai kagum malah. Pasti saat itu aku sedang tidak waras. "Silahkan, nyai." Dia membukakan kotak makan berisi pisang goreng yang aku yakin pasti sudah dingin. Mengangkat tinggi melewati kepalanya seakan menyuguhkan kepada seorang penguasa. Gila memang. "Aku kan sudah bilang, aku tidak suka pisang goreng." "Ya udah sih kalau maneh tidak mau. Aing makan sendiri." Dia berbalik, meletakkan kembali kotak lalu mengambilnya satu. Hari ini dia membawa laptop. Menonton drama entah apa judulnya dari sana. "Drama apa tuh?" tanyaku berbasa-basi. Hari ini matanya sedikit redup. Aku tidak tahan untuk menduga bahwa dia baru saja tekena masalah. "True Beauty. Jangan bilang kalau kamu tidak tahu? Kemarin ini sangat populer loh." "Tidak." Aku tidak suka menonton. Kalaupun iya itu pasti hanya acara lifestyle, make up, gossip dan beberapa kartun tertentu. "Yee maneh mah selalu ketinggalan zaman. Sini." Dia menepuk karpet di sebelahnya. "Malas ah, aku mau mandi." Aku mengeratkan tas dan beranjak. Keringatan banget rasanya. Mungkinkah karena pengapnya warung tadi? Entahlah. "Ser.." "Iya?" Dia sedikitpun tidak menoleh, fokus pada film yang tampil di layar laptop. "Maneh beneran sudah tunangan sama tuh raja iblis?" "Maksud kamu Sam?" "Hmm." "Iya, malam minggu kemarin aku bertunangan dengannya. Kenapa?" "Gak ada. Selamat menempuh hidup baru ya. Semoga sakinah mawadah warahmah." Kudorong pelan kepalanya. "Aku belum menikah, dodol." Dia cengengesan. "Nanti kan ujung-ujungnya bakalan begitu." "Tidak akan." Aku melanjutkan langkah, meninggalkan ruang tamu menuju anak tangga ke lantai dua. "Seri, aku mau jadi pangeran kamu." Ia mengulurkan tangannya dan menatap penuh harap. "Kamu mau kan jadi puterinya?" Tidak-tidak. Dia tidak mungkin sedih karena itu. "Selamat kembali, Nona." Kepala pelayan Ran merendahkan kepala saat keluar dari arah dapur. Aku tersenyum untuk menyambutnya. "Bagiamana dengan sekolah anda hari ini, nona?" "Baik-baik saja." "Bagus sekali. Nona selalu bisa melewatinya dengan baik. Oh iya, Nona. Tuan meminta anda ke ruang kerjanya. Dan lagi, tuan dan nyonya tidak akan pulang malam ini." "Oke, aku akan segera kesana." Apalagi coba yang kali ini papa berikan? Papa tanpa takut membiarkan aku masuk sesuka hati ke dalam ruang kerjanya, ruang yang menyimpan begitu banyak rahasia penting. Kalau aku jahat mungkin papa sudah terancam. "Mau kemana kau?" Aku memutar leher, Aera baru keluar dari kamarnya. "Seingatku kamarmu bukan di lantai 3." "Papa memintaku ke ruangannya." Maniknya berubah menjadi kekesalan. "Apalagi? Dia pasti ingin memberikan kamu hadiah. Pilih kasih sekali!" Matanya berputar malas kemudian. "Kenapa aku memiliki papa sepertinya? Cih! Memuakkan." "Aera!" Dia ini tidak pernah belajar dari kesalahannya. Selalu saja berbuat atas emosi. Tidak pernah menggunakan otaknya sedikitpun. "APA? Dia memang sangat menjijikkan. Pilih kasih! Otoriter! Tidak pernah mau dibantah. Dia pikir dia siapa? Tuhan? Selalu saja memikirkan diri sendiri. Tidak pernah sama sekali mendengar suara aku, suaramu atau bahkan suara mama. Aku heran, kenapa kamu selalu patuh padanya? Apa suaramu sama tidak berharganya dengan dirimu sendiri hah?" "Beruntunglah kamu papa tidak ada di sini hari ini." Aku melanjutkan langkah. Bukannya aku tidak mendengar suaraku, tapi aku memang tidak mau membantah papa. Aku telah berjanji padanya dan aku juga sangat menyayanginya. Aku harus selalu menjadi putri yang baik terlepas dari suara hatiku yang menginginkan kebebasan. Kakiku berhenti di depan pintu coklat besar tersebut. Aku menempelkan tangan pada sensor. Bip. Warna hijau menyala dan pintu pun terbuka. Aku mendorongnya lebih lebar dan lampu secara otomatis menyala. Ruangan papa seperti biasa selalu rapi. Folder dan buku tertata sempurna di rak, mejanya bersih, tidak ada pena atau kertas yang berserakan. Semuanya rapi, sesuai keinginannya. Papa biasanya menyimpan hadiah di laci bawah rak buku. Aku berjongkok, menarik pelan lacinya. Ada satu kotak berukuran sedang di dalamnya. Setelah dibuka ternyata itu sebuah jam tangan rose gold yang sangat berkilau indah. Aku suka desainnya yang tidak terlalu besar namun lebih bekesan sederhana. Tadinya aku memang ingin mandi, namun melihat kursi kerja papa entah kenapa aku malah tertarik untuk duduk di sana. Aroma nikotin dan woody dari parfum papa masih terasa saat aku duduk di atasnya. Aroma itu tidak pernah meninggalkan meja dan kursinya. Kuputar-putar kursi seraya menatap ke langit ruangan. Selalu saja. Perasaan senang menguar setiap aku berada di ruangannya. Memang aneh mengingat sebenarnya di hati kecilku ada kebencian akan sikap otoriternya tersebut. Papa masih memasang foto yang sama di mejanya. Foto saat aku dan papa pergi ke kebun jeruk di jepang. Sebenarnya kami tersesat, namun terus berjalan dan akhirnya malah bersenang-senang membantu memetik jeruk. Sore harinya mama menemukan kami. Mama sudah berpikir bahwa aku dan papa hilang diculik orang jahat. Ada-ada saja. Lagipula papa sih. Sudah tahu tidak tahu wilayah jepang dengan baik dan plusnya tidak bisa berbahasa jepang pula eh malah nekat mengajakku jalan kaki tanpa pemandu. Kadang aku rindu masa-masa kecilku, namun menyadari bahwa aku akan membangun masa depan membuat perasaan itu surut. Tidak penting seberapa bahagia dan sedihnya saat itu atau seberapa ingin aku kembali dan memperbaiki. Karena yang terpenting saat ini aku maju dan mempersiapkan yang terbaik. "Sudah dapat?" Aku tersentak. "Loh papa?" "Oho, kamu mengacak-ngacak meja papa lagi ya?" "Tidak-tidak." Aku buru-buru berdiri dan mengambil kotak jam. "Aku cuma duduk." "Kamu ini." Papa menyentil dahiku. Sakit tahu. "Sana ke bawah, bantu mama menyiapkan makan malam. Tunangan kamu juga sudah di sana." "Makan malam?" Aku melihat jam yang melingkar di tanganku. "Baru juga pukul enam sore, Pa." "Papa kan menyuruh menyiapkan bukan makan, Seria!" Eh iya juga. "Bagaimana?" Papa menjatuhkan punggung ke kursinya. "Kamu suka jamnya?" Aku mengangguk. "Sangat suka. Papa pandai deh memilih warnanya." "Tentu saja." Sombong sekali. Dasar papa! "Oh iya. Satu tahun lagi kamu akan naik ke kelas dua belas. Mulai lah bertanya pada Sam dimana dia akan memutuskan pendidikan selanjutnya. Papa juga perlu mempersiapkan untuk kamu." "Maksud papa aku harus melanjutkan pendidikan di tempat yang sama dengan Sam?" Papa mengangguk. "Kamu tidak keberatan kan?" Bibirku otomatis tersenyum sementara isi kepalaku menggeleng. "Bagus. Kamu memang anak papa. Sudah, sana turun. Papa mau mengerjakan beberapa hal dulu." "Oke, Pa." Aku mendorong pintu, menghela pelan setelah keluar dari sana. Masa depanku sudah diatur. Mungkin papa tetap membebaskan apa yang ingin aku lakukan, tapi tetap harus di dalam lingkaran yang ia buat. Papa, kenapa papa tidak bisa membantu aku untuk mengatakan bahwa papa sebenarnya sangat baik? *** "Ada apa dengan wajahmu itu?" tegur Mama saat aku mendekati meja. "Tidak kenapa-kenapa." Mama malah mengerenyit penuh selidik. "Apaan sih, Ma?" "Tidak ada." Mama lanjut memotongi wortel. "Di mana kakakmu?" "Tadi saat bertemu dia sudah rapi. Aku pikir dia pasti sudah keluar." "Anak itu. Kenapa selalu lari dari masalah. Umurnya padahal sudah bukan muda lagi." Aku mengedikkan bahu. Juga tidak mengerti alasan Aera suka lari dari masalah. Padahal jika dia sedikit berkata manis saja papa akan kembali luluh. Meskipun sedikit tapi kebenciannya akan berkurang. "Ser.." Mama memelankan suaranya. Barangkali menjaga agar Sam di sebrang sana tidak mendengar. "Papa kamu baik. Kamu tahu itu kan?" Aku mengangguk. "Aku tahu, Ma. Kadang aku memang kesal dengan sikap papa, tapi aku tidak bisa menolak bahwa papa sangat baik." "Syukurlah kalau kamu mengerti. Jangan membuat papa marah. Itu saja yang perlu kamu ingat. Sisanya, percaya lah. Semua yang papa lakukan untuk kebaikan kamu." "Termasuk bertunangan dengan dia?" Mama mengangguk. "Mama memang belum tahu alasannya, tapi mama yakin papa pasti memiliki alasan sangat baik atas perjodohan kamu dan dia. Kamu itu selalu seperti berlian bagi papa. Dia tidak mungkin akan membiarkan kamu jatuh kepada Sam jika anak itu memiliki keburukan." Dia memang memiliki keburukan, Ma. Wajahnya. Itu sudah membuktikannya. "Lihat tuh tunangan kamu sudah membantu. Sana!" Sam di depan pantry. Kelihatannya tengah menumis. Penasaran juga apa yang dia tumis. Oh iya "Mama, tadi Zion ada di depan. Sekarang di mana dia?" "Pindah ke pos satpam main catur. Tadinya mengajak mama nonton drama oh tentu saja langsung papa jitak karena cemburu. Anak itu memang suka memancing emosi." Gelakku pecah. Zion-Zion, masih saja suka menggoda papa. "Sam, apa yang kamu masak?" Dia berhenti mengaduk saus merah yang ada di wajan. "Seafood saus padang." "Kamu yakin rasanya enak?" "Yakin." Aku mendorong pinggul ke pembatas pantry dan bersandar. "Memangnya kamu pandai memasak?" Dia mengangguk. "Oh iya, sejak kapan itu?" "Sejak aku masih berusia tujuh tahun. Tentu saja awalannya hanya masakan biasa." "Sam itu sejak kecil tinggal bersama pamannya. Nah pamannya itu seorang mafia. Jadi alih-alih agen sosialisasi pertamanya orang tua, kalau dia justru malah pamannya. Peer group-nya juga anak-anak mafia." Suara Mila mengudara di telingaku, membuat penasaran ikut berkembang pula. Apa iya sejak kecil dia tidak tinggal bersama orang tuanya? "Siapa yang mengajarkan itu? Tante Sandy?" Tangannya berhenti di udara, berbarengan dengan maniknya yang tertegun pula. "Bukan," jawabannya kemudian kembali sadar. "Jadi?" "Aku sendiri." "Benarkah?" "Iya. Kamu sendiri?" Matanya melesak padaku. "Apa kamu pandai memasak?" "Mie goreng dan mie kuah. Aku jago sekali memasaknya. Sepertinya nasi goreng juga sedikit ahli, ah dan membuat salad. Cukup untuk menjadi istri idaman bukan?" Sudut bibirnya tersenyum dan dia mengangguk. "Cukup." Bibirku terjangkit senyumnya. Ada-ada saja Si Sam ini. Jelas-jelas itu tidak cukup sama sekali. "Kamu tidak terlalu suka pedas. Jadi, mau aku masak apa seafood untukmu ini?" "Dan kamu juga tahu, aku tidak terlalu suka manis." Ia menyenterku lagi. "Jadi?" "Seperti biasa, aku makan salad saja." "Salad terus," sembur mama dari sebrang. "Pantas saja kamu menjadi semakin kurus." "Mama ih. Aku tidak kurus." "Sam, masakan sup kepiting untuknya. Tidak terlalu pedas tapi jangan manis." "Baik, Tante." "Aku tidak suka sup kepiting," protesku. "Benarkah? Dulu kamu bahkan menghabiskan berpiring nasi jika ada sup kepiting." "Itu karena papa yang memasaknya. Pasti berbeda dengan rasa yang Sam masak." "Halah, apa bedanya. Sama-sama sup juga." Aku mencebik bibir. Jelas-jelas beda. Bumbu yang papa pakai di dalam sup juga tidak sama dengan bumbu yang dipakai oleh koki saat memasak sup kepiting. Dengan demikian pastilah juga berbeda dengan yang Sam masak. "Jadi, mau sup kepiting?" "Tidak, rasanya pasti akan berbeda." "Sudah, Sam. Biarkan saja dia. Nih, tolong masakan capcay-nya. Kamu bisa kan?" Mama memberikan potongan sayur kepada Sam. "Jangan lupa cuci dulu." Sam mengangguk saja. Jadi, dia memang bisa memasak ya? "Seria, lihatlah suamimu itu. Harusnya kamu juga bisa begitu. Huh perempuan tapi tidak bisa memasak. Bikin malu saja." Apa-apaan sih mama ini. Segala mengatakan Sam suamiku lagi. Tunangan dengan dia saja ogah. Apalagi jadi suami. "Jangan kesal begitu. Sini bantu aku membuat bumbunya." Yee Si Sam mah pasti senang. Malah besar kepala mungkin. Suami apanya. Itu tidak akan terjadi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD