Pekerjaan Baru

812 Words
"Kalau begitu saya ucapkan selamat bergabung di perusahaan ini" ujar seorang pria yang duduk di depanku sambil tersenyum dan mengulurkan tangan kanannya padaku. "Terima kasih, Pak" ucapku, tersenyum dengan canggung dan menjabat tangannya. "Sama-sama. Dan mulai besok kamu sudah bisa bekerja" ia berkata, dengan senyuman indah yang tetap terukir di wajah tampannya. Jika boleh kutebak, sepertinya ia seumuran denganku atau mungkin usianya beberapa tahun di atasku, sebab ia terlihat masih muda. "Baik Pak, sekali lagi terima kasih, dan permisi" ucapku, kembali tersenyum dengan canggung dan mengganggukkan kepala. Lalu aku segera bangkit dari kursi yang kududuki, dan berjalan meninggalkan ruangan pria ini yang merupakan ruangan HRD. Setelah tiba diluar, aku tak lupa menutup pintunya kembali, dan membalikkan tubuhku. "Pekerjaan baru" aku bergumam, tak dapat ditutupi senyuman kebahagian terukir di wajahku. Rasanya begitu senang, karena—aku telah mendapatkan pekerjaan baru dan itu artinya, aku akan kembali mempunyai penghasilan disetiap bulannya; gajinya lumayan besar, aku bisa mengirimkan sebagian gajiku pada keluargaku yang tinggal di Bandung. *** "Ini pak uangnya, kembaliannya ambil aja" ujarku, tersenyum dan memberikan selembar uang pada ojek online yang kutumpangi. "Baik mbak, terima kasih" ucapnya sambil tersenyum, dan mengambil selembar uang yang aku berikan. Aku hanya tersenyum dan mengganggukkan kepala, lalu aku membalikkan tubuh dan berjalan menuju sebuah gedung, yang akan menjadi kantor baruku mulai hari ini. Aku benar-benar tak sabar untuk segera bekerja, dan bertemu dengan teman-teman baru. Sejak tadi malam, aku terus membayangkan hal tersebut, sampai-sampai aku hampir tidak bisa tertidur. Sungguh! Aku merasa—begitu antusias dan juga senang. Dan aku tidak tahu mengapa. Sebab aku bukan tipe orang yang menyukai tempat baru, justru biasanya aku selalu mengkhawatirkan hal tersebut; takut jika orang-orang di tempat baru itu tidak menyukaiku, atau mungkin yang lebih parah tidak menyukai kehadiranku. Tapi kenapa kali ini, aku merasa senang dan juga begitu antusias seperti ini? Jika dibilang, mungkin karena kantor baruku ini begitu besar, maka jawabannya adalah tidak; karena aku tidak pernah peduli, besar atau tidaknya tempat aku bekerja, sebab yang terpenting bagiku adalah aku bisa merasa nyaman di tempat tersebut, dan orang-orang di sana bisa menerimaku dengan baik. "Selamat pagi, mbak" sapa seorang pria berseragam satpam, yang berdiri di depan pintu masuk gedung ini, dan tersenyum padaku. "Selamat pagi juga, Pak" ucapku, menghentikan langkah dan membalas senyumannya. Namun ia tidak berkata apa-apa lagi, dan segera membukakan pintu untukku. Lalu ia menoleh ke arahku, dan kembali tersenyum, "Silahkan masuk, mbak" ujarnya. "Ah iya, terima kasih lagi, Pak" aku menggangguk, dan tersenyum padanya. Lalu aku kembali melanjutkan langkahku, dan memasuki gedung ini. Sepi, satu kata yang langsung terlintas di kepalaku, saat berada di dalam gedung ini, yang masih begitu sepi—mungkin aku datang terlalu pagi, jadi karyawan lain belum datang. Aku terus melangkah, dan memperhatikan sekitar; berusaha untuk mengenali tempat kerjaku yang baru. Sementara suara dari sepatu pantofel abu-abu ber-hak yang kukenakan memecah keheningan di tempat ini. *** Aku melangkah keluar begitu pintu lift terbuka. Kuperhatikan ke sekitar yang masih begitu sepi, bahkan tidak ada orang lain selain diriku. Lalu aku berjalan menuju beberapa meja kerja, yang berada tidak jauh di depanku. "Meja kerjaku yang mana?" aku bergumam, dan menatap beberapa meja kerja yang berada di depanku. "Jadi, kau sudah boleh memakan makanan yang pedas?" "Iya, kan aku sudah sembuh, jadi aku sudah boleh memakan makanan yang pedas lagi, termasuk bakso dan mie ayam favorit kita" Aku segera menoleh saat mendengar suara tersebut, dan dapat kulihat dua orang wanita yang sedang berjalan menghampiriku. "Hai, kau karyawan baru ya?" tanya salah satu dari mereka yang menyadari keberadaanku, dan membuat yang lainnya menoleh ke arahku. "I-Iya, aku karyawan baru di sini" jawabku, tersenyum canggung dan mengganggukkan kepala. "Lalu apakah kau sedang bingung ingin duduk di mana?" tanya yang lainnya, yang rupanya menyadari hal tersebut. Aku langsung menundukkan kepala, dan kembali tersenyum canggung. "Iya, aku tidak tahu ingin di duduk di mana. Sebab kemarin Pak Arya hanya memberitahu kalau tempat kerjaku di lantai ini" jawabku. "Mungkin ia lupa memberitahu di mana meja kerjamu" ujarnya, yang kemudian berjalan ke arahku, membuat mataku mengikutinya. Lalu ia menghentikan langkahnya di dekat sebuah meja, yang berada tidak jauh di sebelah kananku. "Ini meja kerjamu, karena hanya tersisa meja ini yang masih kosong" sambungnya, sambil membalikkan tubuhnya dan menatapku. "Ah iya, terima kasih atas bantuannya" aku menggangguk, dan tersenyum canggung, sambil berjalan menuju meja tersebut. Lalu aku menghentikan langkahku, dan menaruh tas yang kubawa di atas meja. "Oh iya, perkenalkan, namaku Carissa" ia tersenyum, dan mengulurkan tangannya padaku. "Salam kenal Carissa, namaku Della" aku menjabat tangannya, dan tersenyum. "Dan, namaku Elina" sahut yang lainnya, sambil berjalan menghampiri kami dan tersenyum. "Salam kenal Elina" aku menoleh ke arahnya, dan tersenyum. "Salam kenal juga Della, kuharap kita dapat berteman dengan baik" ucap Carissa, dengan disertai senyuman yang terukir di wajahnya. "Benar! Semoga kau bisa berteman baik dengan kami" sahut Elina. "Ah iya, kuharap juga seperti itu" ucapku, menggangguk dan tersenyum pada mereka berdua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD