Tante Mona mengela napas panjang, lalu menatap ke depan dengan bahu yang tampak turun. “Mungkin harus begini nasibku,” ucapnya penuh sesal. “Kenapa emang, Tante?” tanyaku sambil menatapnya. “Aku bisa keluar ini setelah merajuk-rajuk, mengancam-ancam, dan melalui banyak adu mulut, barulah izin keluar. Itu saja tanpa fasilitas,” jelasnya dengan sebal. “Lalu, rencana bisnis itu uang dari mana?” tanyaku lebih lanjut. “Hasil menjual barang-barang pribadi,” jawabnya sambil menoleh ke arahku. “Sini!” ucapnya dengan ekspresi serius. Aku mendekatkan telinga. “Setelah melihat banyak tayangan di berbagai sosial media, dan mengikuti banyak seminar online dan offline, pikiran Tante itu kayak terbuka gitu, Kesh. Sepertinya hidup minimalis seperti rumahmu itu, bagus juga, em ... Tante juga tertar

