“ Apa ada orang disana? “
Teriakan itu memenuhi telingaku, seseorang mengenakan jaket tebal berwarna jingga dengan tangannya yang memegangi senter dan kupluk di kepalanya tiba-tiba memergokiku.
Badanku gemetar seketika, jiwaku dipenuhi dengan ketakutan. Pikiranku mulai kacau. Takut dan bingung harus melakukan apa. Yang paling kutakutkan adalah bagaimana jika pria itu melapor polisi? Aku berharap rencana ini tak kacau.
Lalu senter yang ia genggam mengarah ke wajahku membuat pandanganku silau, dan ia mulai mengarahkan benda kecil itu ke arah Louis yang berada di samping jasad Jessi.
Pria tua itu menganga, sekujur tubuhnya gemetar melihat darah yang mengucur dari kepala Jessi membuatnya ingin segera meminta tolong kepada seseorang karena ada yang tengah melakukan pembunuhan.Dan itu aku!
“ Tolong...telah terjadi pembunuhan disini “ katanya meneriaki seisi hutan seolah-olah ada seseorang yang akan menghampirinya.
Kurang ajar, jika seseorang mengetahui semuanya ini bisa kacau. Pria tua itu membalikkan badan guna melarikan diri untuk memanggil orang-orang. Pistol yang masih ku genggam ku arahkan ke kepalanya. Tak ada lagi yang harus kulakukan selain membunuh seseorang lagi dan lagi.
Tepat sasaran, Peluru menembus kepalanya tepatnya mengenai bagian mata yang membuatnya jatuh tergeletak hingga nafasnya tak berhembus lagi. Satu matanya hilang, orang itu menghamburkan banyak darah. Louis terus menatapku yang tega melakukan perbuatan keji itu.
“ Apa yang kau lakukan bodoh? Kau membunuh seseorang lagi? “ Ucap Louis yang mulai panik.
“ Dia sudah tua, sudah saatnya mati “ ucapku.
Aku menepikan mayat pria itu berdekatan dengan Jessi. Louis mengambil pisau yang menancap di kepala Jessi, lalu ku biarkan saja mayat itu? Tidak, aku membakarnya.
Kami berdiri menyaksikan mayat yang kami bakar dengan tangan sendiri. Louis pun tak sengaja menginjak salah satu benda kenyal. Apalagi jika bukan mata yang copot milik pria itu.
Hutan ini cukup minim seseorang yang melintasi, bahkan jalanannya pun sempit dan terlihat berbahaya. Tapi entahlah, mengapa pria tua itu keluar malam-malam di tengah hutan seperti ini. Aku pun tak tau.
***
Matahari mulai menunjukkan sinar terangnya ke bumi. Jalanan rumah Irene pun ramai dipenuhi dengan orang lalu lalang yang akan menjalankan aktivitasnya.
Berbeda dengan kedua adik kakak itu yang masih asyik tidur setelah semalaman sibuk melakukan pembunuhan. Mereka mengantuk, hingga telat untuk bangun pagi.
Irene menguap, dan menggeliat-liat di atas ranjangnya. Tangannya meraba ponsel yang berada di sampingnya dan mulai mencari-cari rumah baru yang akan mereka singgahi lagi walau matanya masih sedikit terbuka.
Di samping itu, Louis pun bangun dengan tergesa-gesa dan pergi ke kamar mandi untuk pergi ke rumah Vincent. Akan ada perkenalan pengawal baru di rumahnya. “ Sial, aku terlambat “ gerutunya kesal.
“ Mau kemana kau bocah? “ Tanya Irene yang sedang menelonjorkan kakinya ke dinding sambil bermain ponselnya dan menguap lagi.
“ Aku ingin pergi ke rumah Zacklee “
“ Benarkah? “ Tanyanya, dan Louis mengangguk.
“ Untuk apa? “ Tanyanya lagi.
“ Hanya ingin membawaku ke rumahnya sebagai pengawal tetap “
“ Apa? b*****h itu menerimamu? “
“ Iya, “
Louis menjongkok di samping ranjang Irene dan melirik ponsel yang dimainkan Irene. “ Sedang apa kau? “
“ Aku akan membeli rumah ini, baguskan? “ Ucap Irene meminta pendapat.
“ Bukankah itu terlalu megah? “
“ Ya, aku akan membelinya menggunakan penghasilan dari yayasan itu. Bukankah aku hebat? “
“ Hebat tapi kejam, sudahlah aku akan berangkat “
Irene mengiyakan, Louis pun pergi ke rumah Zacklee setelah memasangkan sepatu di kakinya.
***
Zacklee duduk di sofa ruang tamunya guna menunggu Louis yang berjanji untuk mengunjungi rumahnya. Hari ini, adalah hari dimana Louis akan bekerja sebagai pengawal tetap Zacklee.
Bukan hanya sebagai pengawal Tetap, melainkan mata-mata bagi Irene. Kehidupan Louis dan Irene meningkat satu langkah ke atas menuju ke arah yang lebih baik lagi.
Sedikit demi sedikit Irene akan menjadi kaya. Dan menunggu uang walau tak bekerja. Karena apa? Karena dia memiliki yayasan itu.
Tapi, nantinya Louis akan terus tinggal bersama Zacklee. menjaga dan mengawalnya untuk melawan Vincent morgant. Sedang Irene, dia akan berhenti dari pekerjaan paruh waktunya dan memulai usaha baru dengan melakukan Investasi.
Jika kalian menanyakan mengapa Zacklee tidak bekerja hari ini? Padahal dia adalah pengusaha yang dikenal sibuk. Tapi setelah Kerja samanya dengan perusahaan besar selesai, ia menyempatkan diri untuk memperkenalkan Louis pada keluarganya.
“Tuan, tamu sudah datang “ ucap seorang pembantu yang bekerja di rumahnya.
Zacklee menyuruh pembantu itu membawa masuk Louis ke dalam. Louis pun masuk, dan seisi rumah Zacklee mulai menyihir matanya karena kemegahannya.
Lampu-lampu dan furniture kecil dilengkapi dengan meja yang berwarna emas serta gorden-gorden jendelanya yang panjang membuat mata Louis terbuka lebar.
Bahkan rumah Zacklee lebih luas berpuluh-Puluh kali lipat dengan rumah singgahnya yang sekarang. Seperti surga, rumah mewah itu membuat Louis semakin tercengang.
“ Kau terlambat satu jam, kemana saja? “
“ Aku masih tertidur tadi “ kata Louis yang tersentak kaget
“ Tugasmu bukan hanya menjagaku, tapi menjaga keluargaku. Tapi kau harus lebih mengutamakan aku. Apalagi jika Vincent mengancamku. Cari tahu soal kelemahan Vincent agar aku bisa melawannya kau tau? “ Ucap Zacklee dan Louis pun mengangguk.
“ Kamarmu sebelah sana, kamu akan tinggal disini sebagai pengawal. Bergabunglah ke tempat pengawal lain “ lanjut Zacklee sembari menunjuk arah kamar Louis.
Louis berjalan dengan pelan menuju ruangannya. Matanya lagi-lagi berbinar saat masuk dan mengitari isi belakang rumah Zacklee yang luas nan indah. Tamannya dipenuhi dengan rumput segar dan patung mahal menambah aura kekayaan yang di hasilkan oleh Zacklee.
“ Babi itu, jika bukan karena ayah dia tidak akan sekaya ini “ kata hati kecil Louis sambil memiringkan bibirnya.
Kepala Louis celingak-celinguk melihat-lihat isi taman Zacklee hingga tak sadar ia telah menabrak seseorang. Orang itu adalah Steve, putra Zacklee.
“ Aah maafkan saya “ kata Steve membungkukkan badan karena merasa bersalah.
“ Tidak apa-apa “ jawab Louis membalas Steve dan berjalan melewati Steve.
Mata Steve terkejut setelah melihat Louis yang berada di rumahnya. Tatapan mata dan wajahnya tak asing bagi Steve, sepertinya ia telah mengenalnya tapi siapa ya? Otaknya berusaha mengingat-ingat.
Steve kembali membulatkan matanya, ia mengingat sesuatu. “Laki-laki itu, dia yang ku lihat bersama Irene di depan kedainya bukan? Yang menyentuh bibir Irene? “
Steve mulai membalikkan badan, dan menarik Louis yang hendak menuju ke ruangannya.
“ Kau, pria yang menemui pacarku di kedainya kan? “ Tanya Steve dengan nada yang di naikkan dan mata melotot.
Louis hanya mengangkat alis kanannya yang kebingungan, “ pacar yang mana? “
“ Namanya Irene, dia pacarku “
“ Ahhh dia Steve, anak Zacklee yang mendekati Irene bukan? “
“ Tidak, aku tidak mendekatinya “ jawab Louis.
“ Kau berbohong ya? “
“ Tidak, aku benar-benar tidak mengenalnya “ ketus Louis melanjutkan langkahkanya yang terhenti.
Steve kembali menerka-nerka mengenai pria itu. Tidak, dia tidak salah! Ingatannya masih kuat dan dia tetap mengingat wajah Pria itu. Tapi Louis sangat tidak sopan, dia bahkan tidak membungkukkan badan pada anak majikannya.
Sedangkan Steve dia menemui ayahnya dan bertanya mengenai Louis.
“ Ayah “
“ Iya? “
“ Siapa pria yang kau bawa kemari? “ Tanya Steve dengan wajah datar.
“ Pengawal baruku “
“ Sudah berapa kali kau merekrut pengawal yang semua pengawalmu bahkan tidak berguna. Apa kau masih ingin merekrut pengawal sial dan naif lagi? “ Desis Steve.
“ Dia berbeda, dia cukup pintar dan bisa di andalkan “ jawab Zacklee sembari menyeruput teh nya dengan matanya yang asik membaca koran.
“ Tapi aku tidak menyukainya “ kata Steve semakin kesal
“ Mengapa? “
“ Karena dia menganggu pacar...ahh sudahlah kau tidak akan mengerti “ jawabnya yang marah dan meninggalkan ayahnya untuk pergi ke kamar.
***
Irene berdiri di sebuah rumah besar berwarna putih dengan pilar tinggi. Seperti rumah orang-orang kaya pada umumnya, Irene dengan berbangga diri menatap rumah itu sambil tersenyum.
“ Ahhh, akhirnya aku menjadi orang kaya “ katanya.
Pemilik rumah yang di rasa akan menjual rumahnya itu menghampiri Irene. Dan membungkuk hormat padanya.
“ Apa anda yang akan membeli rumah saya? “ Katanya.
Irene mengangguk, dan ibu itu membawa nya masuk untuk melihat-lihat keadaan di rumahnya. “ Wow, ini benar- benat menakjubkan “ kata Irene memuji.
Mereka duduk berdua di ruang tamu sembari membicarakan soal harga. “ Apakah kau tidak mau menawariku harga miring? “ Tanya Irene.
“ Rumah ini megah dan Luas, bagaimana aku bisa menawarimu harga miring?” Jawabnya.
“ Ahh benar juga, besok aku akan menemuimu lagi dan membawa uang nya “ ucap Irene.
Ibu itu mengangguk, mereka saling berjabat tangan.
***
Vincent morgant datang dengan gagahnya di sertai dengan beberapa pengawal di sampingnya. Seisi rumah sakit menatapnya karena mereka kebingungan atas kedatangan orang yang terlihat sangat berkuasa tersebut.
Kacamatanya di buka dan di masukkan ke dalam blezer merah menyala. Lalu Vincent memberikan senyum lebar dan berdiri di tengah-tengah keramaian.
“ Selamat pagi semuanya “ teriaknya.
“ Berdirinya aku disini untuk menyampaikan berita bahagia. Menit ini dan detik ini aku sampaikan bahwa akulah pemegang kekuasan yayasan Oxford dan detik ini aku menetapkan bahwa aku, Tuan Vincent Morgant yang akan di tetapkan sebagai kepala yayasan Oxford menggantikan Tuan Zacklee “ imbuhnya.
Seisi ruangan itu tiba-tiba bergemuruh, membicarakan tentang ucapan Vincent soal kedudukannya. Para perawat tak bisa berhenti mengedipkan matanya dan menutup mulutnya yang menganga.
“Dan besok adalah Acara pelantikanku, aku harap semuanya bisa menyaksikan sebagai saksi “ katanya lagi sembari mengangkat tangannya ke atas.
Sekeliling perawat berjabat tangan dengan ragu, mereka masih kebingungan atas kedatangan orang yang sama sekali tak bisa di kenalinya.
Sejauh ini Rumah sakit terkenal itu adalah Zacklee. Zacklee adalah pemiliknya, namun yang menjalankan san mengatur Rumah sakit itu adalah istrinya yaitu Ny.Zoe.
Dan di detik ini pula, Zoe datang dengan mengenalan Blezer beewarna merah muda. Para perawat tak ada yang menyapa nya lagi, Zoe kebingungan.
“ Mengapa, perawat disini tak memberikan hormat padaku? “ Tanya nya pada salah satu perawat.
“ Mungkin karena anda bukan kepala yayasan ini lagi nyonya “ jawabnya.
Zoe semakin heran, matanya melotot. “ Apa maksudmu? “ Tanyanya lagi dan perawat itu mencoba menjelaskan mengenai kejadian yang terjadi di yayasan Oxford pagi ini.
***
“ Apa ini ruangan Zacklee? “ Tanya Vincent pada salah satu petugas kebersihan rumah sakit itu.
“ Tidak, ruangan ini di tempati oleh istrinya. “ Jawabnya.
“ Istri Zacklee? Siapa? “ Tanya Vincent.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan keras dan membanting dinding. Zoe berdiri di depan Pintu dengan tampang garang bak singa yang hendak menerkam.
“ Aku Zoe, istri Zacklee. Siapa kau? “ Tanya Zoe yang tengah emosi.
“ Oh istri Zacklee ya? Kebetulan sekali, aku hanya ingin memindahkan..yaaa beberapa barang-barang kotor ini dan mengganti dengan barang-barangku “ kata Vincent sedikit santai.
“ Atas dasar apa kau mengambil alih yayasan Oxford? Ini bukan kekuasaanmu“ teriak Zoe sembari melempar tas nya ke kursi kerjanya.
“ Apa suamimu tak menceritakan sesuatu padamu? “ Jawab Vincent semakin memancing amarah Zoe.
“ Tak perlu omong kosong, silahkan pergi dari ruanganku sekarang!”
“Oh, tenanglah. Sepertinya kita harus lebih banyak bicara daripada kau marah seperti ini? Kau, ambilkan sebotol soju untuk kita berdua” ujar Vincent.
Petugas kebersihan itu keluar dan mematuhi segala perintah yang di berikan Vincent. Selang beberapa lama, Soju itu akhirnya datang. Vincet dan Zoe duduk dan mencoba berbicara pelan-pelan dari hati ke hati.
“ Aku tak ingin membuang waktu, langsung saja. Siapa kau? “ Sentak Zoe yang nampak enggan untuk minum bersama Vincent.
“ Vincent Morgant, CEO perusahaan berita di stasiun TV terkenal” jawabnya.
“ Atas dasar apa kau kemari? “
“ Mengambil alih yayasan ini “ kata Vincent sambil meneguk soju.
“ Sial, jika kau sedang bermimpi mendapatkan yayasan besar ini tidurlah di rumahmu jangan kesini “ kata Zoe menaikkan nada bicara nya.
“ Ha ha ha, aku harus kasihan atau aku harus bahagia? Sebaiknya kau tanyakan saja pada suamimu yang sombong atas pengambilan kekuasaan yayasan ini “ gumam Vincent.
“ Tapi ini yayasan ku, kau hanya orang biasa. Bahkan perusahaanmu masih berada di bawah yayasanku “ teriak Zoe.
“ Pengawal bawa wanita jalang ini keluar “ kata Vincent.
Pengawal Vincent menarik paksa Ny.Zoe ke luar ruangan. Zoe terus berteriak seperti orang gila. Perawat-perawat dan orang-orang di rumah sakit menatapnya.
“ Dasar jalang” gerutu Vincent dengan senyum smirknya.