Episode 31
Perjalan menuju puncak gunung raung sangat tidak mudah, banyak berbatuan terjal dan harus melewati berbagai banyak macam rintangan. Mahesa tidak sekali pun melepaskan pandangan dari putra mahkota Bintang tenggara tersebut, mereka harus berjalan kaki karena tidak menemukan sebuah dokar atau kuda sebagai alat transportasi.
“Aku sangat lelah, sudah hampir setengah hari kita berjalan. Tapi kita hanya bisa melihat gunung biru yang tinggi,” keluh Yuda karena sudah setengah berjalan.
“Kamu pikir gunung raung itu dekat? Jauh, kita butuh watu hampir 6 bulan kalau jalan kaki kesana. Tapi bisa seabat tidak sampai kalau kamu terus mengeluh dan mintak istirahat,” balas Arya sinis, sejak perjalana pangeran Kayumas itu terus saja mengeluh. Orang yang terkena racun racun saja tidak sedikit pun mengeluh, tapi orang yang sehat malah protes seperti anak kecil.
“Pangeran Zein, apakah kita perlu istirahat?” tanya Mahesa khawatir dengan kondisi kesehatan putra mahkota kerajaan Bintang Tenggara tersebut.
“Tidak, aku tidak ingin terus menunda waktu. Kalau kita lemah, aku tidak tahu kapan bisa merebut kembali kerajaan peninggalan ayahku dari Ka Lenan, Ku Bangan dan Tong Sampah. Rakyat akan selalu dicekam ketakutan, Ku Bangan selalu memaksakan kehendak pada rakyat kecil. Dia bahkan meniduri setiap anak gadis yang menarik hati tanpa dinikahi. Setelah ia puas dan tidak tertarik lagi, maka anak gadis itu akan dibuang seperti sampah,” jawab Zein sambil melangkahkan kaki.
“Sungguh perbuatan zalim, seorang wanita seharusnya dihormati. Jika memang ingin mengambil kenikmatan darinya, maka harus melalui jalur pernikahan yang suci, bukan ditiduri lalu dibuang,” celetuk Yuda kesal.
“Sepertinya dia sangat cocok dengan ratu Arisandi, satunya sangat suka meniduri pria satunya wanita. Apakah mereka tidak taku terkena penyakit kelamin? Sangat berbahaya bergonta-ganti pasangan,” timpal Arya geram.
“Benar, itu sungguh perbuatan tidak pantas untuk seorang pemimpin yang seharusnya melindungi rakyat,” sahut Mahesa membenarkan apa yang mereka katakan.
“Karena itulah, aku tidak ingin rakyatku terlalu lama menderita. Aku harus mengumpulkan ke 7 pusaka langit tersebut, lalu mengalahkan mereka. Tidak perduli kalau nanti tubuhku akan terluka semakin dalam,” lanjut Zein.
Mereka mengangguk, meski begitu tubuh mereka sudah sangat lelah dan ingin istirahat sejenak serta diberi makan. Yuda tersenyum cerah melihat papan nama”selamat datang di desa Kembang Kempis” akhirnya mereka kembali masuk kesebuah desa, patinya di desa tersebut ada warung makan.
“Pangeran Zein, kita kembali memasuki desa. Kita makan dulu, aku sudah sangat lapar. Setelah itu kita lanjutkan perjalanan, siapa tahu setelah itu kita akan kembali memulai pertarungan.”
Zein, Arya dan Mahesa melirik tajam pangeran Kayumas tersebut, seakan mengatakan jangan mengharapkan adanya pertarungan. Yuda tersenyum canggung, ternyata dirinya sudah salah bicara, tapi siapa juga yang tahu apa yang akan terjadi berikutnya.
“Kita ke warung dulu, siapa tahu di sana juga akan mendapatkan informasi mengenai pedang pelangi,” ucapa Zein sambil terus berjalan menuju warung.
Mahesa mengerutkan kening mendengar nama pusaka langit tersebut, pusaka 7 warna itu melambangan pitulungan dalam menjalankan warna hidup. Arya dan Yuda saling berpandangan, mereka sama sekali tidak mengerti tentang jenis senjata tersebut. Adanya pelangi itu ya di langit bukan sebuah senjata, tapi tak berani bertanya dari pada nanti terkena samprat.
“Pangeran Zein, darimana pangeran mengetahui nama pusaka tersebut?” tanya Mahesa.
“Aku pernah bermimpi menggunakan pedang itu, pedang pelangi lambang pertolongan dalam menjalankan warna hidup. Pedang itu memiliki kekuatan peredam yang sangat dasyat, jika untuk menghabisi ribuan mahluk halus dalam sekali tebas itu adalah pedang mahatahari, maka pedang pelangi adalah untuk memberikan pencerahan,” jelas Zein. Mehasa tercengang, ternyata pangeran Bintang Tenggara tersebut sudah sangat mengetahui tentang pedang tersebut, tapi belum pernah digunakan di alam fana ini hanya pernah digunakan di alam sukma.
Arya dan Yuda terperangah mereka tidak menyangka ada sebuah senjata begitu hebat, tapi di mana letak pedang tersebut?
“Pangeran Zein, dimana pedang itu berada?” tanya Yuda.
“Emm, aku belum tahu. Tapi sepertinya dekat dengan daerah raung, karena itu aku ingin sekalian mengambilnya,” balas Zein tidak yakin, karena pedang itu adalah pusaka ghaib. Ia melihatnya juga di alam ghaib, jadi tidak bisa diungkapkan secara pasti.
Mereka pun sampai di sebuah warung nasi, baru saja mereka berada di depan pintu. Dalam warung tersebut sudah membicarakan tentang kesatria tersembunyi yang akan membawa perdamaian untuk dunia ini.
“Aku yakin kalau Ki Lesung adalah Satria tersembunyi itu.”
“Tidak, aku rasa raden Dwi pangga adalah satria tersembunyi itu, dia itu bisa memanggil jin bahkan memasukkan sukma orang ke dalam botol.”
Zein masuk bersama dengan ke tiga temannya, dia menulikan pendengarnnya tentang apa yang mereka perdebatan tidak bermanfaat mereka. Ia juga tidak kenal siapa ki Lesung dan Dwi pangga, menurutnya kalau orang itu bisa memanggil jin artinya sedang melakukan perjanjian dengan bangsa jin. Tuhan telah melarang manusia bersekutu dengan Jin. Kalau memasukkan sukma orang ke dalam botol, itu sama saja dengan dukun aliran hitam, karena tidak semua dukun itu aliran hitam misal, dukun pijat, dukun beranak semua dukun itu orang-orang baik yang membantu sesama manusia.
“Siapa itu ki Lesung dan Dwi pangga, kenapa mereka mengaku sebagai kesatria tersembunyi. Kalau memang mereka adalah kesatria tersembunyi, kenapa mereka tidak ada usaha untuk melindungi bangsa,” gerutu Yuda tidak terima ada yang mengaku-ngaku sebagai satria tersembunyi.
“Tuan, kalau aku boleh tidak bertanya? Ki Lesung itu siapa? Kenapa dia disebut sebagai kesatria tersebunyi, apakah dia hanya duduk diam di dalam kamar begitu?” tanya Yuda sambil menarik kursi dan mendudukkan diri di salah satu kuris bersama orang-orang tersebut.
Zein tetap berjalan menuju meja kosong bersama Arya dan Mahesa, ia tidak keberatan sama sekali dengan apa yang dilakukan oleh Yuda, sejak masih dalam perguruan pangeran Kayumas itu memang selalu saja suka mencari berita.
“Ki Lesung itu seoarang yang sangat hebat, dia bisa meramal kehidupan. Masa depan seseorang,” jelas salah seorang pria tersebut.
“Kamu percaya pada sebuah ramalan?” tanya Yuda heran, dirinya tidak pernah percaya dengan yang namanya ramalan. Ramalan itu sama saja dengan prediksi manusia, sehebat apapun manusia dalam memprediksi tetap saja banyak salahnya. Karena segala sesuatu yang ada di dunia sudah tertulis dalam kitab lauhmahfut, apapun yang ada di dunia ini sudah diatur oelh sang maha pencipta, tidak perlu diramal segala. Apa lagi meramalkan adanya bencana, seakan mereka sangat ingin terjadi bencana.
“Tuan, bukankah ramalah itu seperti mendahuli takdir Tuhan? Kenapa tuan percaya dengan ramalan itu? Ibarat kita memprediksikan sesuatu, apakah prediksi manusia itu akan selalu benar? Kalau menurutku, tuan. Satria tersembunyi itu bukan tukang ramal, karena dia bukan peramal,” bantahnya halus.
“Aku setuju, karena itu satria tersembunyi pasti bisa memasukkan sukma manusia ke dalam botol. Itu hukuman bagi pembangkang,” sahut seorang pihak Dwi pangga.
Yuda memutar bola matanya malas, ini kenapa manusia yang satu ini malah mengira kalau satria tersembunyi itu suka memasukkan sukma orang ke dalam botol dan menghukum orang?.
“Dia artinya seperti dukun? Aku rasa yang namanya seorang kesatria itu harus lebih perduli dan mementingkan kepentingan orang lain, bukan malah sebaliknya. Apa yang kamu katakan tadi seperti menjurus ke seorang memiliki kekuatan supranaturan, entah itu dari jin atau apa. Karena aku juga seorang kesatria, tapi tidak bisa memasukkan sukma orang ke dalam botol. Itu sangat mengganggu. Dan menyakiti raga orangnya, jadi orang seperti itu tidak mungkin seorang satria tersembunyi alias Hidden Knight. Tapi dukun aliran hitam.” Setelah mengatakan kalimat tersebut, Yuda bangkit tak perduli kalau orang-orang itu akan marah atau memanggil orang yang dikira satria tersembunyi itu.