THE LEGEND OF THE HIDDEN KNIGHTS episode 24
“Ini adalah pedang naga langit, aku yakin kau pasti juga tahu tentang pedang ini. Pedang sembilan naga milikmu, salah satu belahan dari pedang ini. Sekarang aku akan melawanmu dengan sungguh-sungguh,”kata Zein sambil menguhuskan pedang itu ke arah lawan tandingnya.
Satria berkuda putih menyerngit menatap pedang tersebut, sinar jingga yang dikeluarkan oleh pedang tersebut memancarkan hawa panas dan dingin, meski bukan mirip dengan kulkas dua pintu tapi auranya sangat mencekam. Langit biru perlahan berubah menjadi gelap, awan putih berubah menjadi mendung.
Ctar…
Cahaya kilat bersamaan dengan suara guntur menggelegar menghiasi arena pertandingan tersebut. Zein melirik orang-orang yang berada di sekitar arena, ia sengaja menggunakan kekuatan petir langit hingga menciptakan suasa panas di tengah udara dingin.
“Dapat darimana kau pedang itu?” tanya satria berkuda putih penasaran, belum pernah selama ini ia melihat sebuah senjata memiliki kekuatan yang sangat dasyat.
“Aku mengambilnya di mulut ratu buaya putih, apakah kau tertarik untuk mendatanginya juga?” balas Zein tenang.
“Aku pikir tentang seorang kesatria tersembunyi mengambil pedang naga langit hanyalah sebuah rumor belaka, tapi setelah aku melihat sendiri kekuatan pedang itu. Aku semakin yakin kalau itu adalah pedang naga langit asli, tapi jangan terlalu percaya diri dulu. Karena aku tidak akan pernah menyerah untuk mengalahkanmu. Aku ingin membuat kesepakatan denganmu,” kata satri berkuda putih sambil berjalan memutar. Tatapan mata Zein zulkarnain masih tidak lepas dari lawan tarungnya tersebut, ia tidak akan pernah mengalah sedikit pun.
“Katakan!” jawab Zein sambil berjalan memutar dengan arah yang berlawanan dari satria berkuda putih.
“Kalau aku bisa memenangkan pertarungan ini, berikan pedang itu padaku. Tapi jika aku kalah, pedang sembilan naga akan menjadi milikmu,” jawab Satria berkuda putih tanpa menurunkan kewaspadaannya.
“Pedangku bukan untuk dijadikan sebagai bahan taruhan, kalau aku kalah. Kau boleh membunuhku hingga pedang ini mungkin bersedia ikut denganmu,” kata Zein sambil bersiap menyerang.
Ratu Arisandi terus memperhatikan jalannya pertandingan tersebut, ia sama sekali tidak mendengar apa yang sedang mereka bicarakan di atas arena pertarungan. Itu sungguh membuatnya sangat penasaran.
Mahesa terus menatap cemas putra mahkota Bintang tenggara tersebut, matanya tidak sedikit pun berkedip khawatir kalau sang pangeran tidak akan mampu mengalahkan lawan tandingnya dan harus terjebak selamanya di negara Lintang timur, hidup bersama seorang ratu cantik tapi bengis.
Arya memperhatikan pergerakan lawan, ia terus mengamati dan mencatat apa saja yang diperlukan dalam buku penelitiannya. Kelamahan dan keunggulan lawan tandingnya, dia terus mengamati jalannya pertandingan. Buku pengamatan dan penelitian ini bisa digunakan dalam mengumpulkan informasi seni bela diri.
Yuda menonton pertandingan tanpa sedikit pun ada beban atau kekhawatiran, ia sangat percaya pada sahabatanya. Ia yakin kalau sang sahabat tidak akan pernah kalah hanya dengan seorang pria dengan gelar Satria berkuda putih.
Sat…
Zein dan Satria sama-sam melompat ke atas dan saling memberikan serangan di udara.
Trang…
Benturan senjata antara pedang naga langit dan pedang sembilan naga terjadi di langit Lintang timur, kekuatan dari kedua pedang tersebut menggentarkan dunia. Bahkan kekuatannya sampai terasa di kerajaan Bintang tenggara.
“Kekuatan apa ini?” tanya Ku Bangan yang saat itu sedang memimpin rapat di aula pertemuan.
“Kami juga tidak tahu Yang Mulia, seperti sebuah kekuatan sangat besar,” jawab salah seorang dari pejabat.
“Anakku Ku Bangan, ini adalah kekuatan dari pedang naga langit dan pedang sembilan naga. Kita harus mengajak kedua pemilik pedang ini untuk berpihak pada kita, aku yakin kalau memang Zein Zulkarnain dan Mahesa di luar sana masih hidup. Mereka pasti akan mencari aliansi untuk melawan dirimu dan merebut kembali kerajaanmu,” kata Ka Le Nan yang duduk di kursi yang telah disediakan oleh putranya.
“Ayah benar, aku yakin. Pemilik pedang naga langit dan pedang sembilan naga ini, pastilah dua kesatria yang sangat tangguh. Kalau tidak pastinya tidak akan mungkin bisa mengendalikan kekuatan besar kedua pusaka tersebut,” balas Ku Bangan setuju.
“Kalau begitu, kau harus mengutus orang untuk pergi ke arah sumber kekuatan ini. Jangan sampai ada kerajaan lain yang merekrut mereka terlebih dulu, kau akan menyesal nantinya,” balas Ka Le Nan.
“Baik, ayah,” jawab Ku Bangan. Setelah itu ia menoleh pada perdana mentri Tong Sampah.
“Paman, Tong. Aku minta paman memerintahkan orang untuk pergi ke arah sumber kekuatan kedua pedang ini,” perintanya.
“Baik, Yang Mulia,” jawab Tong Sampah patuh. Setelah itu ia membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan aula pertemuan. Ka Le Nan dan Ku Bangan masih penasaran siapa kira-kira orang yang telah berhasil mengeluarkan kekuatan sebesar ini.
Kembali pada pertarungan Zein VS Satria berkuda putih.
Kedua pedang berkekuatan besar saling berbenturan di udara, mengeluarkan kekuatan dasyat yang mampu menghancurkan apapun yang berada disekiatar tempat tersebut.
Percikan api terlempar di sekitar arena pertarungan, membakar apapun yang berada di tempat itu. Para warga yang tadinya mengelilingi arena pertandingan mulai menjauh karena khawatir akan tertimpa percikan api tersebut. kedua orang yang sedang bertarung saling memberikan tatapan membunuh, tidak satu pun dari mereka yang berniat untuk mengalah atau mengakhiri pertandingan dengan cepat.
Ctar…
Petir berkekuatan besar dari langit menyela memisahkan kedua pedang yang saling berbenturan tersebut hingga pemiliknya saling melompat mundur untuk menghindari serangan petir tersebut.
Zein mendarat di tanah begitu juga Satria berkuda putih, mereka melirik sekitar arena pertandingan sudah seperti kapan pecah. Tak bisa digambarkan kerusakan yang terjadi.
“Ternyata kau sangat kuat, pangeran Zein Zulkarnian,” puji Satria berkuda putih.
“Aku tahu, tapi aku tidak akan membalasmu dengan pujian juga,” balas Zein. Satria berkuda putih terkekeh pelan, baru kali ini dia menemukan lawan yang sebanding dengannya.
“Kenapa kau ingin berdiri di pihak ratu bengis itu?” tanya Satria berkuda putih penasaran.
“Aku rasa, aku tidak memiliki kewajiban apapun untuk menjawab pertanyaanmu. Kecuali kau memiliki ketertarikan tersendiri padaku,” balas Zein membuat semua orang hampir tertawa. Satria berkuda putih sedikit jengkel dengan jawaban dari putra mahkota Bintang Tenggara tersebut, ucapannya itu sama saja dengan membuat orang akan salah paham dengan orientasi seksualnya.
“Jangan banyak omong kosong kamu! Kamu tahu kalau ratu Arisandi adalah seorang ratu yang kejam, tapi kau justru membelanya. Bukankah seharusnya kau berada di pihakku?” balasnya jengkel.
“Aku tidak berada di pihak siapapun, ku harap kamu jangan salah paham. Aku punya urusan sendiri dengan penguasa Lintang timur ini,” balas Zein semakin membuat satria berkuda putih tersebut sangat jengkel. Bagaimana mungkin dirinya harus bertemu dengan seorang lawan yang sangat menyebalkan seperti itu?.
“Baik kalau itu maumu, jangan salahkan aku jika aku harus membunuhmu. Kau yang memaksaku,” kata Satria berkuda putih sambil bersiap untuk kembali kembali menyerang.
“Aku tidak memaksa, tapi dalam sebuah peperangan kalau tidak membunuh artinya harus siap untuk dibunuh. Aku masih punya sebuah tujuan besar, karena itu aku tidak akan membiarkan kau membunuhku,” balas Zein juga menyiapkan serangan balasan. Ia menyalurkan kekuatan raiton soranya ke dalam pedang setelah itu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi lalu melepaskan serangan itu pada lawan bertarungnya. Satria berkuda putih juga melakukan demikian, hingga kedua kekuatan besar kembali beradu dalam langit Lintang Timur tersebut.
Duarr…
Satria berkuda putih terlempar dari arena pertandingan dengan tubuh terluka, sedang Zein memuntahkan darah dari mulutnya. Mengeluarkan kekuatan besar ternyata berperangaruh bagi fisiknya.
Pertandingan selesai dengan kemenangan seorang Zein Zulkarnain sekali pun ia juga terluka dalam, karena lawan bertandingnya entah terlempar kemana tidak ada seorang pun yang tahu.
Ratu Arisandi langsung bangkit dari tempat duduknya, ia turun dari singgah sananya lalu berjalan menghampiri calon suaminya tersebut,”pangeran Zein, kau sungguh sangat luar biasa. Kau mampu mengalahkan Satria berkuda putih itu, tapi sepertinya kau juga terluka. Bagaimana kalau kau tidur saja di kamarku,” katanya sambil mengulurkan tangan mencoba untuk menyentuh wajah rupawan pangeran Bintang tenggara tersebut.
Greb…
Zein mencekal tangan tersebut,”jangan menyentuhku, ratu. Kita masih belum suami istri, aku juga tidak mungkin bisa tidur di kamarmu. Aku bisa tidur dikamarku sendiri, aku pergi,” katanya sambil melepaskan tangan ratu tersebut lalu membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kaki menuruni arena pertempuran.
Di bawah Mahesa bersama kedua pangeran langsung menyambutnya,”kau hebat, pangeran Zein. Lain kali kau harus mengajariku ilmu bela diri, siapa tahu saja aku bisa sehebat dirimu,” kata Yuda sambil memepah tubuh sahabatnya.
“Kau belajar saja menggunakan ucapanmu,” balas Zein jenaka, tapi ia senang karena memiliki sahabat yang selalu ada untuk mendukungnya di saat susah dan senag.
Hari yang telah dijanjikan tiba, Zein tidak ingin berlama-lama di istna Lintang timur, ia ingin meneruskan perjalanannya dan merebut kembali kerajaan Bintang tenggara,”pangeran Zein, sebelum kita pergi. Sebaiknya pangeran berpamitan dulu pada ratu Arisandi, sebagai seorang tamu tidak sopan kalau kita pergi tanpa berpamitan,” kata Mahesa sambil membereskan perlengkapan.
“Aku mengerti, aku akan pergi bertemu dengannya,” jawab Zein, setelah itu ia melangkahkan kaki meninggalkan kamarnya. Dia berjalan menuju istana keraton, istana khusus tempat sang ratu istirahat, pria itu berharap kalau ratu Arisandi masih berada dalam istana tersebut.
Bibirnya tersenyum ketika mendapati sang ratu masih duduk sambil menikmati secangkir teh.
Tok…
Tok…
Tok…
Ratu cantik tersenyum menyambut pujaan hatinya, ia menaruh cangkir teh tersebut lalu berjalan menghampiri sang pujaan hati.
“Selamat di istanaku, pangeran Zein. Apakah yang membawamu datang kemari?” tanyanya ramah.
“Aku ingin berpamitan, aku akan meneruskan perjalananku. Ku harap kamu tidak menghalanginya,” jawab Zein apa adanya.
Ratu Arisandi tidak pernah rela melepaskan Zein Zulkarnain pergi untuk mnentukan perjalanan selanjutnya, ia sangat ingin segera menikah tapi putra mahkota Bintang Tenggara tersebut tidak mengindahkan keinginannya, dia menikah bukan karena perasaan pribadi sesaat, tetapi karena tujuan memuwudkan sebuah mimpi menjadikan dunia adil dan tidak adanya kedzaliman itulah yang membuatnya bersedia menikah.
“Pangeran Zein, apakah kita tidak bisa menikah dulu?” tanyanya.
“Tidak, aku harus meneruskan perjalananku. Aku sudah mengalahkan kesatria berkuda, itu artinya tugas ku di sini sesuai dengan perjanjian kita telah selesai. Aku akan kembali setelah semua selesai dan menikahimu,” balas Zein sambil memainkan cangkir di tangannya.
Sang Ratu menghela napas, bagaimana caranya agar pria itu bersedia untuk menikah terlebih dulu sebelum berangkat,”tapi…”
“Ratu Arisandi, aku harap kau tidak akan mengingkari janji. Aku harus segera pergi sekarang, teman-temanku sudah menunggu. Sekarang aku harus mencari pedang pusaka kedua, yaitu pedang ultra violet. Aku harap kau tidak lagi mencoba untuk menghentikanku dengan berbagai macam usahamu, karena aku sama sekali tidak akan pernah merubah apapun keputusanku,” balas Zein kekeh, keputusannya tidak dapat diubah lagi, dia akan tetap melanjutkan perjalanan.
Ratu Arisandi terdiam, sepertinya harus dengan cara kasar untuk membuat pangeran Bintang tenggara tersebut bersedia tinggal. Tapi untuk sementara dia harus membuat seakan dirinya telah merelakan kepergian pria tersebut, setelah sang pangeran pergi dirinya akan mengirimkan pasukan untuk membunuhnya, bukan membunuh hanya untuk membuat sang pangeran berpikir bahwa orang tersebut sangat memerlukan bantuannya.
“Baiklah, pergilah. Aku akan menunggumu di sini, aku harap kamu akan baik-baik saja, selamat jalan.”
Zein tersenyum, ia mengangguk lalu meletakkan cangkir tersebut dan bangkit dari tempat duduknya.
“Aku pergi, tunggulah aku dan perbaiki dirimu. Aku yakin kau akan menjadi seorang ratu yang bijak dan tidak akan pernah mendzalimi rakyat lagi.”
“Baik.”
Setelah itu Zein Zulkarnain mengambil pedangnya lalu membalikkan tubuh dan meninggalkan tempat itu. Setelah pangeran Bintang Tenggara tersebut pergi, Ratu Arisandi memanggil para pengawal untuk menyerang sang pangeran, tidak akan mungkin seratus orang prajurid tidak dapat melumpuhkan empat orang,”Kalian hadang mereka di hutan, jangan gunakan seragam seorang prajurid. Setelah itu aku akan datang sebagai seorang pahlawan untuk menyelamatkannya, aku yakin dia akan sangat berterimakasih padaku dan bersedia kembali dan menjadi seorang raja di istana Lintang timur.”
“Baik yang mulia Ratu.” Setelah itu para prajurid wanita tersebut segera bergegas untuk mengatur serangan pada sang putra mahkota Bintang Tenggara.
**
Zein Zulkarnain bersama tiga orang rekan dalam perjalanannya melangkahkan kaki meninggalkan gerbang istana Lintang Timur, mereka menuju suatu tempat keberadaan pedang pusaka selanjutnya. Tidak tahu bahaya apa yang akan menanti di depan.
“Pangeran Zein, sekarang kita akan pergi kemana?” tanya Arya.
“Aku tidak tahu, nsekarang aku hanya mengikuti energi pedang ultra Violet. Pedang itu mengarah ke arah barat daya, kita harus menuju tempat tersebut,” balas Zein, ia memegang pedang naga langit. Pedang tersebut terkadamg terasa berat di genggamannya tapi kadang juga terasa sangat ringan, entah apa yang sebenarnya terjadi pada senjata pusaka itu.
“Apakah kita akan bertemu lagi dengan seorang ratu yang langsung tergila-gila dengan ketampananmu?” tanya Yuda.
“Aku tidak tahu, aku harap tidak. Sekali pun aku tidak memiliki rasa terhadap ratu Arisandi, aku tetap harus menikahinya karena telah menkanjikan itu terhadapnya. Janji adalah ukuran kejujuran, karena itu aku harus menapi janjiku,” jelas Zein.
“Apakah jika nanti sang ratu tidak menepati janjinya kau juga akan mengingkari janji yang telah disepakati?” tanya Mahesa penasaran.
“Tentu saja, tidak ada alasan bagiku untuk menempati janji jika dia sendiri melanggar janji tersebut. Aku berharap setiap ucapannya sebagai seorang ratu bisa dipertanggung jawabkan, dia tidak bisa berbuat semena-mena terhadap orang. Perbuatannya itu sesungguhnya sangat tidak masuk akal, karena itu dengan menjadikannya seorang istri, maka akulah yang memimpin dirinya. Karena pria adalah pimpinan untuk seorang wanita,” jelas Zein sambil terus berjalan dan memperhatikan pedangnya.
“Pangeran Zein, kenapa dari tadi pangeran terus memperhatikan pedang itu? Apakah ada sesautu yang menggangu?” tanya Mehasa penasaran.
“Ah, tidak. Aku hanya merasa ada yang aneh dengan pedang ini. Terkadang terasa sangat berat, terkadang sangat ringan,” jelas Zein. Ia kembali menyimpan pusaka tersebut lalu kembali melangkahkan kaki, mereka hampir memasuki kawasan hutan. Entah kenapa pengeran itu merasa kalau ada sesuatu yang tidak beres pada hutan ini, seperti ada orang yang akan menyerang mereka dalam hutan. Tapi tanpa bukti seseorang tidak bisa hanya mengikuti prasangka saja. Karena itu akan lebih baik jika positif thingking saja.
“Apakah kau merasakan ada yang aneh dengan hutan ini, Yuda?” tanya Arya ketika merasakan perasannya sangat tidak enak.
“Aku merasakannya, apakah akan terjadi pertempuran?” tanya Yuda balik.
“Aku tidak tahu, aku hanya merasa seperti melihat ratusan pasukan mengepung kita,” balas Arya.
Zein melirik kedua rekannya tersebut, ternyata kedua pangeran tersebut juga merasakan hal yang sama. Mungkinkah memang ada sesuatu yang tidak beres?
“Ayah.”
Mahesa mengangguk, ia mengerti kalau panggilan tersebut untuk memberi isyarat bahwa dirinya harus memeriksa hutan di depannya,”baik, pangeran.”
Arya mengalihkan perhatiannya pada pangeran Bintang tenggara tersebut, ia merasa kalau sang pangeran juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakannya.
“Pangeran Zein, apakah pangeran juga merasakan kalau dalam hutan tersebut akan ada bahaya?” tanyanya memastikan.
“Tidak, bukan bahaya. Aku hanya merasakan kalau ratu Arisandi sedang melakukan tipu mulsihat untuk membuatku tidak pergi meninggalkan kerajaan Lintang timur. Sungguh wanita licik, kalau sampai dia sungguh melakukan itu, aku sendiri yang akan memberikan hukuman padanya,” balas Zein.
“Tapi kita belum memiliki bukti, karena itu kita tidak bisa menuduh orang sembarangan, pangeran Zein. Lagi pula kalau dia memang ingin menahanmu, kenapa tidak mengatakan dengan baik-baik saja? Kenapa harus melakukan p*********n segela? Bukankah kau adalah calon suaminya, biasanya seorang akan memperlakukan seorang kekasih dengan sangat lemah lembut, jadi tidak mungkin ratu Arisandi akan memperlakukan mu dengan seperti itu,” sahut Yuda.
“Aku rasa tidak, bagi seorang wanita licik dan Dzalim sepertinya. Kemungkinan melakukan hal semacam itu juga sangat besar,” sahut Arya.
Zein hanya mendengarkan pemikiran dari kedua rekannya tersebut, ia juga harus memikirkan kebenaran yang ada, mempertimbangkan segela kemungkina terburuk. Dia mencoba untuk percaya pada ratu Arisandi, maka dari itu tidak ada salahnya jika dirinya mencoba menunggu dengan sabar sebuah kepastian.
“Jangan masuk hutan dulu, Mahesa sedang memeriksanya. Aku tidak ingin ada di antara kita ada yang sampai terluka.”
“Baiklah,” jawab Yuda dan Arya serempak. Mereka pun mengangguk, sekalipun mereka juga seorang pangeran tapi niat awal mengikuti perjalanan ini adalah menemani seorang Zein Zulkarnain untuk mencari benda pusaka.
**
Di balik semak-semak serta pohon, di atas dahan dan rantaing terdapat banyak para prajurid berpakaian perampok bersembunyi, mereka bersenjata lengkap, mulai dari panah siap dilepaskan, pedang siap untuk ditebaskan. Dari balik semak terdepan, seorang jendral perang wanita memperhatikan sekitar, mengamati bila ada pergerakan dari seorang yang harus diserang sesuai dengan perintah ratu Arisandi,”sepertinya calon suami Yang Mulia ratu belum muncul, ini sudah hampir setengah hari. Tapi kenapa mereka masih belum mucul juga. Apa mungkin mereka putar arah? Bisa saja bukan mereka malah balik ke timur,” komentar wakil jendral.
“Jangan sembarangan! Tidak mungkin, kalau itu memang terjadi, seharusnya ratu memberitahu kita bukan? Kenyataannya ratu tidak memberitahu, itu artinya sama sekali tidak ada masalah sama sekali,” sergah jendral .
“Baiklah, kita tunggu saja,” balas wakil jendral mengalah dari pada terkena amukan jendral wanita tersebut.
Mahesa berdiri di salah satu dahan pohon mengamati keadaan hutan tersebut, ternyata memang benar kalau di dalam hutan memang disipakan pasukan untuk menghentika kepergian Zein Zulkarnain, ratu itu memang sungguh wanita licik. Lain di hati lain di mulut, berani sekali menyiapkan rencana jahat untuk menghentikan perjalanan calon raja Bintang Tenggara. Dirinya harus segera melapor sebelum mereka mengentahui.
Zein bersama Arya dan Yuda masih menunggu kembali Mahesa, ia yakin pria itu akan membawa sebuah kabar tentang keadaan hutan, dengan begitu mereka bisa memutuskan apa yang harus dilakukan selanjutnya, tetap meneruskan perjalanan atau mungkin kembali.
“Pangeran Zein.” Mahesa mendarat di hadapan sang pangeran tanpa suara, orang biasa tidak akan menyadari kehadiran pria itu jika tidak mengatakan sesuatu.
“Bagaimana?” tanya Zein penasaran.
“Benar, ternyata ratu Arisandi telah mengirim pasukan untuk menghadang kita di tengah hutan, mereka berpenampilan seperti seorang perampok. Sepertinya ratu sengaja melakukan itu mengelabui kita, dia ingin menciptakan kesan seolah kita dalam bahaya dan nanti dialah yang akan menolong kita, dengan begitu, pangeran akan merasa berhutang budi padanya lalu bersedia menikah dengannya dan tidak melanjutkan perjalanan,” jelas Mahesa.
Zein menghela napas, tidak disangka kalau ternyata dia mempercayai orang yang salah. Ia pikir kalau dirinya memberi kesempatan untuk menikah dengannya, ratu bengis tersebut tidak akan membuat kerusakan, tapi ternyata ucapannya hanya untuk menutupi kebusukan hati.
“Aku akan tetap masuk ke dalam hutan, aku ingin tahu, seperti apa dia ingin menghalangiku. Aku tidak akan memaksa kalian untuk ikut, karena mungkin raja ratu jahat itu telah menyiapkan pasukan khusus untuk membunuh kita,” kata Zein sambil menatap lurus ke depan.
“Mana mungkin kami akan meninggalkanmu, pangeran Zein. Kami ini juga ilmu bela diri, jadi kita hajar saja mereka semua. Aku akan tetap ikut denganmu, kalau Arya dan paman Mahesa mau pergi, aku tetap akan ikut dengamu,” sahut Yuda penuh percaya.
“Aku juga akan ikut, aku keluar dari perguruan rajawali karena ingin membantu pangeran Zein menempuh perjalanan jauh, kalau harus putus di tengah jalan maka aku tidak mau,” balas Arya.
“Aku adalah pengawal pribadi pangeran, kemanapun pangeran pergi, aku pasti akan menemani. Sebaiknya sekarang kita segera masuk, kita sambut para prajurid wanita itu dengan penuh hasrat yang membara,” timpal Mahesa.
Zein, Arya dan Yuda sweetdrop mendengar ucapan pengawal pribadi tersebut, apakah harus menggunakan kata hasrat dalam peperangan? Kenapa tidak diganti saja dengan semangat?.