Hati yang Mulai Melembut

1309 Words
Hari itu, rumah Nando terasa lebih riuh dari biasanya. Gengnya baru saja kembali dari sebuah operasi besar. Suasana di ruang utama dipenuhi oleh anak buah yang sedang melapor dan membicarakan hasilnya. Delima tidak bisa menahan rasa gelisah yang menggerogoti d**a. Gadis itu duduk di sudut ruangan, diam, tetapi matanya tidak lepas dari percakapan yang sedang berlangsung. "Aku tidak suka bagaimana kalian menangani ini." Nando berkata dengan suara berat, matanya tajam menatap anak buahnya yang terlihat ragu. "Ini terlalu berisiko. Kalau sampai ada yang gagal, kita semua akan bertanggung jawab." Seperti biasa, nada suara Nando mengandung ancaman, dan semua orang di ruangan itu mengangguk patuh. Delima yang mendengarkan dengan seksama merasa ada sesuatu yang tidak beres. Keputusan Nando selalu keras dan tanpa kompromi, dan kali ini pun begitu. Delima merasa bahwa tidak semua keputusan harus diambil dengan cara yang keras dan penuh ancaman. Tanpa berpikir panjang, Delima berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Nando. Semua orang terdiam, memperhatikan gerak-geriknya. Nando menoleh ke arah Delima dengan ekspresi yang sulit dibaca. Seolah-olah ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. "Apa yang kamu lakukan?" Nando bertanya dengan nada yang tegas, meskipun ada sedikit kejutan di balik suara itu. Delima menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara. "Nando, aku pikir kamu terlalu keras pada mereka," kata Delima lembut. Namun, matanya menatap Nando dengan berani. "Mereka sudah melakukan yang terbaik, dan kamu hanya mengancam mereka seperti itu. Mereka bukan mesin, mereka manusia." Ruangan itu hening sejenak. Semua mata kini tertuju pada Delima. Nando tampaknya tak menyangka ia akan berbicara seperti itu. Biasanya, Delima akan menghindari konflik atau berdiam diri. Namun, hari itu ia merasa harus mengatakannya. "Apa maksudmu?" Nando bertanya dengan suara yang lebih rendah, tetapi dengan ketegasan yang tetap terasa. "Aku hanya merasa..." Delima melanjutkan, lebih hati-hati. "Jika kamu terus mengendalikan mereka seperti itu, kita tidak akan pernah punya hubungan yang benar-benar kuat. Mereka akan takut padamu, bukan menghormati." Nando menatapnya sejenak, lalu mengalihkan pandangannya kepada anak buahnya yang tampak cemas. "Mereka tahu apa yang harus mereka lakukan," kata Nando dengan suara sedikit lebih tajam. "Dunia ini tidak memberi kita kesempatan untuk kelemahan. Kalau ada yang gagal, itu artinya mereka tidak cukup kuat." Delima merasa amarahnya mulai meningkat, tapi ia mencoba untuk tetap tenang. "Aku tahu dunia ini keras," jawabnya tegas. "Tapi aku juga tahu bahwa ada cara yang lebih baik untuk menanganinya. Kamu bisa tetap tegas tanpa harus membuat orang merasa terancam. Mereka hanya butuh sedikit rasa hormat, bukan ketakutan." Nando mendengus, merasa kata-kata Delima menyentuh sesuatu yang dalam dalam dirinya. Ia menatap sang istri dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Jadi, kamu tahu lebih baik dari aku sekarang?" tantang Nando. Delima menelan ludah, tetapi ia tidak mundur. "Aku hanya berpikir bahwa kita bisa lebih bijaksana. Jangan hanya mengandalkan kekuatan untuk mengendalikan semuanya. Mereka butuh bimbingan, bukan hanya ancaman." Beberapa detik berlalu dengan hening dan Nando terlihat berpikir. Delima bisa merasakan ketegangan di udara. Namun ia tidak berniat untuk mundur. "Kamu benar, Delima," Nando akhirnya berkata pelan. Suaranya lebih tenang dari sebelumnya. "Aku kadang terlalu terbawa oleh emosiku." Delima terkejut, tetapi dia tidak menunjukkan rasa kaget itu. "Kamu sudah cukup keras pada mereka. Mungkin sekarang saatnya memberi kesempatan untuk menunjukkan apa yang bisa dilakukan tanpa rasa takut yang berlebihan." Nando mengangguk perlahan, dan ada keraguan di matanya. "Aku tidak tahu apakah aku bisa melakukannya," kata Nando jujur. "Aku takut kalau mereka mulai menganggap aku lemah." "Tapi kamu tidak lemah, Nando." Delima berkata dengan lebih lembut sembari mendekati lelaki itu. "Kekuatan bukan hanya tentang berapa banyak orang yang kita takuti. Terkadang, kekuatan datang dari seberapa banyak orang yang mau mempercayai kita." Delima bisa melihat perubahan kecil di wajah Nando, ekspresi yang lebih lembut dari biasanya. Ia tidak bisa menilai apakah lelaki itu menerima atau tidak. Dalam beberapa detik yang terasa begitu lama, Nando akhirnya berbicara lagi. "Kamu benar," katanya dengan suara yang lebih tenang dan penuh pengakuan. "Aku harus bisa lebih bijaksana, bukan hanya keras." Delima merasa lega mendengar kata-kata itu. Ia tahu, meskipun tidak mudah, Nando mulai melihat sudut pandangnya. "Aku hanya ingin membantu," jawab Delima dengan suara yang lebih lembut. Nando menatapnya sejenak, lalu akhirnya tersenyum kecil. "Kamu membuatku berpikir lebih banyak dari biasanya," kata Nando dengan nada yang lebih ringan. Delima tersenyum, merasa bangga atas dirinya sendiri. "Aku senang bisa membuat kamu berpikir," jawabnya dengan lembut. Meskipun ia masih merasa cemas tentang masa depan mereka. Perasaan cemas itu sedikit berkurang. Delima merasa semakin yakin bahwa ia bisa mengubah banyak hal dalam hidup, termasuk hubungannya dengan Nando. Setelah percakapan itu, suasana di ruang utama menjadi lebih tenang. Meskipun masih ada ketegangan yang tergantung di udara. Delima merasa lega karena akhirnya bisa berbicara dengan jujur kepada Nando. Ada rasa harapan yang mulai tumbuh dalam diri Delima. Ia bisa melihat sisi lain dari Nando, sisi yang lebih manusiawi dan kurang keras. Beberapa saat setelahnya, para anak buah perlahan meninggalkan ruangan, memberikan waktu bagi keduanya untuk berbicara lebih lanjut. Nando tetap duduk di kursinya dengan tatapan yang masih fokus pada Delima. Delima merasa canggung. Namun dia tidak ingin menunda percakapan ini. "Aku tahu ini mungkin sulit untuk diterima," katanya pelan, mencoba menjelaskan lebih jauh. "Aku tidak bermaksud menghakimi atau mengatur, aku hanya ingin kamu tahu bahwa ada cara lain. Kamu tidak selalu harus menjadi sosok yang menakutkan untuk mendapatkan rasa hormat." Nando menatap Delima dalam diam. Dia mungkin tidak tahu bagaimana cara melunak atau memperlakukan orang dengan lebih lembut. Namun, mulai merasa ada sesuatu yang berbeda pada istrinya. Sesuatu yang membuat Nando ingin mendengarkan. Meskipun ia tidak pernah menganggap dirinya bisa menjadi orang yang berbeda. "Aku tidak tahu bagaimana melakukannya," kata Nando dengan suara yang terdengar lebih rendah dari biasanya. "Semua yang aku tahu adalah cara keras. Itu yang aku pelajari sejak dulu." "Kamu tidak perlu mengubah dirimu sepenuhnya." Delima berkata lembut, mendekat sedikit, tetapi tidak cukup dekat untuk membuat Nando merasa terpojok. "Aku hanya ingin kamu tahu bahwa ada cara lain yang bisa kamu coba. Kamu bisa menjadi pemimpin yang dihormati karena kebijaksanaan, bukan hanya karena ketakutan." Nando terdiam sejenak, memikirkan kata-kata Delima. Ada semacam kehangatan yang mulai menyentuh sisi hatinya yang keras. "Oke." Nando akhirnya berkata. Suaranya lebih ringan dari sebelumnya. "Aku... akan coba berpikir lebih banyak tentang apa yang kamu katakan. Mungkin aku memang perlu mempertimbangkan cara-cara lain untuk memimpin." Delima tersenyum tipis, merasa bangga karena Nando tidak langsung menolak gagasan itu. "Aku tahu itu bukan hal yang mudah. Tapi aku yakin kamu bisa melakukannya." Ada keheningan di antara mereka. Namun kali ini keheningan itu terasa lebih nyaman, lebih penuh dengan pemahaman. Nando tidak mengucapkan apa-apa lagi. Namun, tatapannya terhadap Delima sedikit lebih lembut daripada sebelumnya. Sebuah tanda bahwa ia mulai membuka diri terhadap adanya perubahan. Saat itu, pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Elang masuk dengan ekspresi cemas. "Bos, ada kabar buruk," katanya cepat. "Ada beberapa orang yang datang ke kawasan ini. Mereka tampaknya dari geng lain." Delima merasakan ketegangan kembali mengalir di udara, tetapi kali ini ia bisa melihat bagaimana Nando bersikap. Lelaki itu berdiri dengan tegas. Ekspresinya kembali serius dan penuh kewaspadaan. "Tunggu di luar," kata Nando, menyuruh Elang pergi. Setelah Elang keluar, Nando menoleh ke arah Delima. "Tunggu di kamar, jangan keluar sampai aku bilang aman." Delima merasa cemas, tapi ia tahu Nando melakukan itu untuk melindunginya. "Aku tidak akan pergi kemana-mana," jawab Delima, berusaha untuk tetap tenang. "Aku di sini." Nando mengangguk singkat dan bergegas keluar. Segera memimpin anak buahnya untuk menghadapi ancaman tersebut. Delima bisa mendengar suara langkah kaki yang cepat dan perintah yang tegas. Namun, dia tetap berdiri di tempat dengan perasaan campur aduk. Gadis itu tahu bahwa hidup bersama Nando tidak akan mudah. Beberapa menit berlalu, dan Delima menunggu dengan cemas. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu. Berharap agar Nando dan anak buahnya bisa mengatasi masalah itu dengan selamat. Di luar, di dalam kegelapan malam, pertempuran mungkin sedang berlangsung. Hati Delima begitu was-was karena khawatir Nando akan terluka seperti waktu itu. "Tuhan, lindungi dan selamatkanlah dia."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD