Ancaman Dari Masa Lalu

1010 Words
"Apa yang terjadi di dibawah sana?" pikirnya dengan degup jantung yang berdebar kencang. Delima perlahan melangkah ke pintu, menempelkan telinganya untuk mendengar lebih jelas. Ada suara beberapa orang berbicara, terdengar marah dan mengancam. "Kamu pikir bisa terus bermain-main, Nando? Hutangmu padaku masih belum lunas!" seru satu suara, kasar dan keras. Hutangnya? Delima merasa bingung. Bukankah keluarganya yang berhutang? Apa maksdunya ini? Lalu, suara Nando yang tenang tetapi tajam terdengar menjawab. "Aku sudah bilang, aku akan menyelesaikan semuanya. Tapi jangan pernah datang ke rumahku tanpa izin." "Omong kosong!" teriak suara itu. "Kamu mungkin pemimpin geng, tapi sekarang kamu sudah kehilangan kendali. Tidak ada lagi yang takut padamu!" Delima mengigit bibir, mencoba melawan rasa takut. Ia tahu bahwa Nando adalah orang berbahya. Namun, mendengar suara-suara ancaman itu membuatnya sadar akan satu hal. Bahwa dia berada di tengah-tengah sesuatu yang lebih besar dari sekedar pernikahan yang dipaksakan. Dor! Suara tembakan tiba-tiba memecahkan udara. Delima terlonjak mundur. Tangannya menutup mulut untuk menahan teriakan. Lututnya lemas, tetapi dia memaksa diri untuk tetap berdiri. Di luar kamar, suara langkah kaki tergesa-gesa mendekat. Pintu kamar mendadak terbuka dengan kasar. Nando berdiri di sana dengan wajah yang mengeras. Matanya tajam dan menusuk. "Ikut aku!" katanya dingin. Delima hanya mengangguk, walau tubuhnya kaku karena ketakutan. "Apa yang terjadi?" tanya Delima dengan suara gemetar. "Jangan banyak tanya," jawab Nando menarik lengannya dengan cepat. "Kita harus keluar dari sini sebelum keadaan semakin memburuk." Delima hanya bisa mengikuti, rasa takutnya bercampur dengan rasa khawatir yang tidak dia mengerti. Gadis itu tidak ingin percaya pada Nando. Namun, saat ini dia tidak punya pilihan lain. Saat mereka turun ke lantai bawah, Delima melihat pecahan kaca berserakan di mana-mana. Ada dua lelaki tergeletak di lantai. Darah mengalir dari salah satu bahu mereka. Mata Delima melebar, tubuhnya gemetar hebat. "Kamu.... membunuh mereka?" bisik Delima dengan napas tersengal. Nando menoleh tajam. "Mereka masih hidup," kata Nando dingin. "Tapi mereka tidak akan berani kembali lagi ke sini. Jangan pikirkan mereka. Fokus saja pada langkahmu." Mereka keluar rumah lewat pintu belakang, masuk ke sebuah lorong gelap. Nando terus menggenggam Delima dengan erat, seolah-olah takut kehilangan istrinya. Delima mencoba mengikuti langkahnya dnegan cepat. Meskipun rasa takut hampir membuatnya tersandung beberapa kali. "Apa mereka akan kembali?" tanya Delima. Matanya mulai basah oleh air mata. Nando berhenti mendadak, memutar tubuh untuk menatap istrinya. Mata gelap lelaki itu seolah-olah bisa menembus hati, membuat Delima tidak bisa berpaling. "Mereka tidak akan menyentuhmu," ucap Nando pelan tetapi tegas. "Selama kamu bersamaku, aku akan melindungimu." Ada kehangatan yang aneh dalam kata-kata itu, meskipun nadanya tetap dingin. Delima merasakan jantungnya berdebar lebih kencang. Namun kali ini bukan karena takut. Delima tidak tahu apakah harus percaya kepada Nando. Namun, sesuatu dalam dirinya ingin mencoba. Sayangnya, sebelum dia sempat menjawab, suara langkah kaki terdengar mendekat dari ujung lorong. Wajah Nando berubah, sorot matanya menjadi penuh kewaspadaan. Lelaki itu menarik Delima ke dinding, menempatkan tubuhnya di depan gadis itu untuk melindunginya. "Dengar baik-baik," bisik Nando dengan suara rendah dan mendesak. "Jika sesuatu terjadi padaku, lari sejauh mungkin. Jangan pikitrkan aku dan jangan pernah kembali ke rumah itu." Delima menggeleng, air mata mulai mengalir di pipinya. "Apa yang kamu bicarakan?" Nando tersenyum tipis, meskipun matanya tetap tajam. "Kamu tidak punya pilihan lain, Delima." Langkah kaki semakin mendekat, Delima merasa jantungnya seperti akan meledak. Nando menarik pisau di pinggangnya, bersiap menghadapi ancaman yang belum terlihat. Delima hanya bsia berdiri di sana, terpaku oleh ketakutan dan ketegangan. Akankah malam ini menjadi akhir dari semuanya? Akahkah dia kehilangan orang yang telah berjanji untuk melindunginya? "Ssttt." Nando menyentuh bibir Delima agar berhenti berbicara. Lalu langkah kaki itu semakin mendekat. Delima merasakan napasnya sesak. Tiba-tiba saja Nando bergerak ke depan. Delima bahkan tak sadar saat lelaki itu menjauh dari tubuhnya. "Aarrghh!" Nando menancapkan belati kepada sosok itu. Delima ikut berteriak saat mendengar rintihan kesakitan. "Sialan! Awas kau, Nando!" Terdengar suara orang berlari sembari mengumpat. Delima masih terpaku dan tak berani bergerak. Gadis itu bahkan berjongkok sembari menutup telinga karena ketakutan. "Akhirnya...." "Nando!" Delima berlari ke arah Nando yang terduduk lemas di lantai lorong. Dia menangis sembari memeluk lelaki itu. Kejadian ini benar-benar menakutkan dan membuat trauma. "Sudah, aku tidak apa-apa." Nando mengusap kepala Delima dengan lembut. Sementara Delima masih meraung dalam pelukannya. Untuk beberapa saat, mereka masih terdiam dengan posisi yang sama. "Dia sudah pergi. Kita aman." Delima tertegun mendengarnya. Rasa lega karena mereka sudah aman menyelimuti hatinya. Lalu tiba-tiba saja tubuh Delima luruh. Dia pingsan di dalam dekapan Nando. *** Nando menatap istrinya dengan khawatir. Sudah satu jam berlalu dan Delima belum sadar. Gadis itu masih berbaring di tempat tidur dengan mata terpejam. Setelah kejadian di lorong, Nando menggendong Delima kembali ke rumah. Situasi sudah semakin genting karena geng rival telah mengetahui lorong persembunyian mereka. Dan Nando merasa menyesal karena telah melibatkan Delima dalam bahaya. "Tenanglah, Bos. Istrimu baik-baik saja. Dia hanya syok," hibur Elang. Saat melihat bos mereka keluar dari lorong dengan menggendong istrinya, Elang tahu bahwa Delima memiliki tempat yang berbeda di hati Nando. Bos mereka tak pernah begitu khawatir kepada wanita manapun. Bagi Nando, wanita hanya untuk dipakai dan dinikmati. Namun, Delima berbeda. "Aku sudah melibatkannya terlalu jauh," sesal Nando. "Kamu yang menyetujui untuk menikahinya. Itu berarti kamu harus menanggung resiko untuk melindunginya," ucap Elang. Nando menatap Elang dengan tajam. Sejak awal lelaki itu sudah memikirkan semua. Dia tahu bahwa jika membawa Delima dalam kehidupan mereka, maka akan banyak resiko yang akan ditempuh. "Harusnya aku tak menikahinya," lirih Nando. "Ya benar. Dia lemah dan merepotkan. Harusnya kamu memilih orang lain yang setara dengan kita, untuk menjadi pendamping hidupmu," sesal Elang. Semua anggota geng merasa kecewa ketika Nando memutuskan untuk menikahi Delima. Hutang Pak Irwan bisa saja dilunasi dengan cara lain. Namun, lelaki itu malah mengambil anak gadisnya untuk menjadi istri. "Kamu benar." Nando terdiam beberapa saat, lalu kembali mengusap anak rambut Delima yang terjuntai di kening. "Tapi kamu menyukainya. Karena itu kamu menikahinya." Setelah mengucapkan itu, Elang keluar meninggalkan mereka. Sementara Nando masih terkesima dengan apa yang baru saja didengarnya. Nando kembali menatap Delima dengan lekat. Lalu mendekatkan wajah dan mengecup dahi gadis itu dengan lembut. "Kamu benar, Elang. Aku memang menyukainya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD