Delima nyaris terlonjak mundur saat Nando mulai melangkah mendekatinya.
"Jadi, ini gadis yang mereka serahkan?"
Raut wajah Nando terlihat dingin. Suaranya berat, terdengar seperti geraman yang menekan. Lelaki itu berdiri hanya beberapa langkah dari Delima, menatap gadis itu dari ujung kepala hingga kaki.
Delima menunduk, enggan membalas tatapan tajam itu.
"Tolong... jangan lakukan apa-apa padaku," ucapnya pelan dengan suara bergetar.
Nando menyipitkan mata, lalu melangkah lebih dekat, hingga Delima bisa mencium samar aroma asap rokok yang melekat pada tubuhnya.
"Kamu pikir aku ini apa? Monster yang bakal melahapmu hidup-hidup?"
Delima mengangkat wajahnya sedikit, menatap lelaki itu dengan mata berkaca-kaca.
"Bukannya itu yang semua orang bilang tentang kamu?"
"Hahaha!"
Nando tertawa, dalam dan dingin.
"Mereka bilang aku jahat, kejam, dan berbahaya. Itu memang benar. Tapi aku gak akan menyentuh siapa pun tanpa alasan."
Dengan kedua tangan terlipat di d**a, dia masih menatap Delima yang terlihat menggigil.
"Dan kamu, Gadis Kecil. Kamu bukan ancaman buat aku."
"Kalau begitu, kenapa kamu mau aku di sini?"
Delima balik bertanya, dengan keberanian yang tiba-tiba muncul dari dalam dirinya.
"Kenapa kamu gak biarin aku pergi?"
"Karena aku membeli hak atasmu," sahut Nando, nadanya tegas.
"Keluarga kamu punya utang yang gak mampu mereka bayar. Aku yang melunasinya, dan kamu bagian dari kesepakatan itu. Tapi jangan salah paham. Aku gak menikahimu karena aku menginginkanmu."
Delima merasa hatinya seperti diremas saat mendengar kata-kata itu. Entah kenapa, dia merasa terhina, padahal dia sendiri juga tak pernah menginginkan pernikahan ini.
"Jadi aku cuma alat pelunasan utang?" tanyanya lirih.
Nando mengangguk tanpa ragu. "Tepat."
Delima bangkit berdiri, mencoba menjauh lebih jauh lagi.
"Kalau begitu, jangan harap aku bakal nurut sama kamu. Aku gak peduli walau kamu ngancam. Aku gak akan menyerahkan diri begitu aja!"
Tatapan Nando mendadak makin dingin, tapi tak ada tanda-tanda amarah. Dia justru mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara mereka nyaris tak ada.
"Dengar, Cantik. Aku gak peduli seberapa besar kebencianmu. Tapi selama kamu tinggal di rumah ini, kamu ikut aturan. Aku gak akan menyentuh kamu, tapi aku juga gak bakal biarin kamu kabur. Paham?"
Delima mengangguk pelan, meski tubuhnya bergetar hebat. Dia tak tahu, harus merasa lega atau malah makin takut.
"Bagus!" ucap Nando singkat, lalu berbalik badan.
"Kamar tidurmu di lantai atas, sebelah kanan. Jangan coba-coba masuk ke ruanganku. Dan jangan ganggu urusanku."
Delima masih berdiri terpaku di tempat, bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Namun, dia tak punya waktu untuk merenung lebih lama.
Nando sudah menghilang ke balik pintu lain, meninggalkannya sendiri di ruang tamu yang asing itu.
Malam itu, Delima mengunci dirinya di kamar, seperti yang diperintahkan Nando. Dia duduk di sudut ranjang, memeluk lutut sambil menangis pelan.
Dinding kamar yang dingin dan suram seakan memperparah suasana hati Delima yang sudah porak-poranda.
"Pernikahan macam apa ini?" bisiknya lirih.
"Aku bahkan gak kenal dia. Gimana aku bisa hidup seperti ini?"
Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar dari balik pintu. Delima langsung terlonjak kaget, jantungnya berdetak lebih cepat.
"S-siapa itu?" tanyanya, suaranya gemetar.
"Ini aku," jawab suara Nando dari luar pintu.
"Tenang aja, aku gak akan masuk. Aku cuma mau pastikan kamu gak kabur lewat jendela, sebelum acara pernikahan kita."
Delima menarik napas lega, walau rasa takut belum sepenuhnya lenyap dari dadanya.
"Aku gak akan kabur," jawabnya pelan.
"Bagus," balas Nando singkat, lalu langkah kakinya terdengar menjauh.
Delima kembali terduduk di atas ranjang, mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Nando memang tampak kasar dan menakutkan. Tapi sejauh ini, lelaki itu belum benar-benar menyakitinya.
"Apakah dia benar-benar seburuk yang mereka bilang?" pikir Delima, meski rasa takut masih begitu mendominasi pikirannya.
Malam itu, Delima tak bisa memejamkan mata. Dia hanya duduk diam, menatap jendela yang menghadap ke dunia luar.
Hati Delima dipenuhi kebingungan. Rasa takut dan sedikit rasa penasaran tentang siapa sebenarnya lelaki bernama Nando itu bercampur aduk.
***
Pagi itu, rumah sederhana milik Pak Irwan telah dihias dengan sederhana. Ornamen bunga melati dan nuansa putih menghiasi ruangan, menciptakan suasana yang sakral.
Di tengah ruangan, tampak sebuah meja kecil berlapis kain putih. Di atasnya, terletak Al-Qur’an, tempat cincin emas, dan seperangkat dokumen pernikahan.
Delima duduk di kamar pengantin bersama ibunya, mengenakan kebaya putih sederhana. Wajahnya dipenuhi kecemasan, jantungnya berdetak begitu kencang.
Sementara itu, di ruang depan, Nando telah siap dengan pakaian serba hitam. Dia juga memakai peci yang tampak kontras dengan raut wajahnya. Tapi, dia terlihat jauh lebih tenang dari biasanya.
Prosesi akad nikah pun dimulai. Seorang penghulu membuka acara dengan doa.
"Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat, hingga kita dapat berkumpul dalam momen suci ini. Hari ini kita akan menyaksikan akad nikah antara saudara Nando dan saudari Delima. Semoga pernikahan ini menjadi pernikahan yang diridhai oleh Allah SWT. Amin."
Penghulu lalu meminta wali untuk maju. Pak Irwan, meski sedikit gugup, tetapi terlihat yakin duduk di samping penghulu. Sementara di sisi meja lainnya, Nando duduk tegak, siap mendengar setiap instruksi.
Setelah pembacaan syahadat dan doa singkat, penghulu berkata:
"Baiklah, sekarang kita akan melangsungkan ijab kabul. Saudara Nando, apakah Anda sudah siap?"
Nando mengangguk mantap. "Siap, Pak."
Penghulu melanjutkan pertanyaan pada Pak Irwan.
"Bapak, apakah Anda siap menikahkan putri Anda dengan Saudara Nando dengan mas kawin berupa sebuah cincin emas yang telah disepakati?"
Pak Irwan mengangguk. "Siap, Pak."
"Baik, mari kita mulai."
Penghulu meminta Nando menjabat tangan Pak Irwan. Meski ini adalah pernikahan pertamanya, Nando tampak yakin.
Selama ini, Nando dikenal sebagai lelaki yang hanya membeli perempuan untuk memuaskan hasratnya. Tapi saat melihat Delima, entah kenapa, dia langsung menyetujui untuk menikahinya.
"Ananda Fernando bin Pandu Wibowo, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak kandung saya, Delima Ramadhani binti Irwan Sanjaya dengan mas kawin berupa sebuah cincin emas dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Delima Rahmadani binti Irwan Sanjaya, anak kandung Bapak dengan mas kawin tersebut tunai!"
Saksi-saksi yang hadir langsung berseru serempak,
"Sah!", menandakan bahwa akad nikah itu sah secara syariat Islam.
"Alhamdulillah, ijab kabul telah sah dilaksanakan. Sekarang, saudara Nando dipersilakan menyerahkan mas kawin kepada istri Anda."
Nando mengambil kotak kecil berisi cincin emas yang telah disiapkan. Dengan tangan sedikit gemetar, dia menyerahkannya kepada Delima yang baru saja bergabung di ruang utama.
Saat cincin itu melingkar di jari manis Delima, semua yang hadir saling berpandangan. Seolah ingin berkata bahwa gadis itu baru saja masuk ke pintu neraka.
Ibunya Delima menyeka air mata. Di hatinya, dia pun tidak rela. Namun, keadaan memaksa mereka melakukan semua ini.
"Ya Allah, jadikanlah pernikahan ini penuh berkah. Limpahkanlah cinta, kasih sayang, dan kesabaran kepada kedua mempelai. Jadikan mereka pasangan yang saling melengkapi dalam suka maupun duka, dan selalu berada dalam lindungan-Mu. Amin."
Usai membacakan doa, penghulu memberikan nasihat kepada kedua mempelai.
"Nando dan Delima, pernikahan adalah amanah yang besar. Jagalah hubungan ini dengan penuh tanggung jawab. Selalu komunikasikan setiap masalah dengan baik. Jadikan Allah SWT sebagai pusat dari rumah tangga kalian. Semoga Allah selalu meridhoi langkah kalian."
Nando mengangguk. Penghulu pun berpamitan setelah menyerahkan buku nikah.
"Apa ini sudah selesai?"
"Sudah, Bos," jawab Elang dengan yakin. Dia tadi menjadi salah satu saksi dari pihak Nando, sementara Pak Irwan meminta temannya untuk menjadi saksi dari pihak keluarga Delima.
"Kalau begitu apa kita bisa langsung pulang?" tanya Nando tak sabar.
"Kenapa Bos terburu-buru? Apa sudah tak sabar mau malam pertama?" Elang menggoda.
Nando terdiam sejenak, lalu melirik Delima yang terlihat cantik dengan sanggul di kepalanya.
"Malam pertama?"
Delima hanya diam, lalu menunduk dalam ketakutan. Jangankan malam pertama dengan pria seburuk rupa itu, menikah dengannya saja sudah cukup membuatnya merasa hancur.
"Delima, sekarang kamu adalah istriku. Jadi, apakah kamu siap bermalam pertama denganku?"