“Sini! Peluk calon suamimu.” Ara meneteskan air matanya, lalu berlari menghampiri Gama. Tangannya memukul pelan d**a bidang Gama sambil terisak. “Lo jahat! Lo … lo …” Gama tertawa pelan, lalu menarik Ara kepelukannya dan memeluknya begitu erat seolah itu adalah pelukan rindu yang selama bertahun-tahun ini selalu Gama tahan. Dia mengusap punggung Ara kemudian berbisik, “Maaf karena baru datang, Ra. Maaf karena aku enggak ada disisi kamu selama delapan tahun ini.” Gama melepaskan pelukannya, kemudian tangannya terulur mengusap air mata Ara pelan, kemudian menyesipkan beberapa helai rambut Ara ke belakang telinga. “Maaf, karena aku enggak bisa melihat kamu tumbuh.” Ara tidak bisa menahan tangisnya. Sejak awal rindunya pada Gama benar-benar menghancurkan segala hal yang coba ia s*sun rapi d

