Ara diam melihat ke luar jendela pesawat. Ia berulang kali menghela napas pelan. Pikirannya yang terlalu mengharapkan akan menyenangkan berada di Bali jutsru berakhir tidak menyenangkan. Rasa senangnya melihat Gama kembali, rasa kecewanya mengetahui bahwa Gama sudah bertunangan, rasa patah hatinya ketika melihat Gama terlihat bahagia dengan tunangannya. Semua perasaan itu bercampur menjadi satu. Tapi bagi Ara, itu sudah cukup menjadi alasannya untuk berhenti. Setidaknya, ia senang karena bertemu dengan pria itu lagi. Setelah sampai di Jakarta, Ara tidak kembali ke rumah melainkan ke butiknya. Dua hari adalah waktu yang lama. Ia harus segera menyelesaikan sketsa gaun permintaan customernya itu. lagipula, ada banyak pesanan lain yang harus ia urus juga. *** Andi mengetuk pintu kaca mil

