Cantik Itu Luka, Namun Jelek Juga

1462 Words
"Hidup setiap orang memang susah, tapi akan lebih susah lagi saat kamu terlahir sebagai orang jelek." "Hompimpa aja deh, yang kalah yang ngeboncengin si Lisa pulang. Solusi terakhir, nih. Sama-sama ngak ada yang mau ngalah." Aku hanya duduk termangu menatap mereka seakan ini adalah hal yang lucu. Aku hanya berpura-pura tersenyum menyaksikan seorang demi seorang yang merasa lega saat mereka menang hompimpa. Tadinya ke-5 pria ini memintaku untuk sekelompok bersama mereka. Kami memiliki proyek observasi lapangan yang harus dikerjakan dalam bahasa Inggris dan bodohnya lagi aku menyetujuinya. Kami bertemu disebuah restoran sushi di pusat kota. "Kalau saja tadi gue tau akhirnya bakal kaya gini, gabakal gue mau sekelompok sama lo berlima! Sialan!" pekikku dalam hati meski aku selalu menunjukkan wajah yang keasyikan. "Nah, si Faldo yang kalah." ujar salah satu diantara mereka sementara yang lainnya langsung beranjak dari kursi masing-masing. Tidak hanya seakan lagi, mereka benar-benar menghindar. "Ah! Ngak mau gue yang kayak ginian. Inimah namanya nasib-nasiban." Faldo tak terima dengan kekalahannya.  Faldo beranjak dari kursi itu dengan aku yang mengekornya di belakang. Sebenarnya ini bukan kali pertama aku mendapat perlakuan begini tapi kali ini aku benar-benar dalam mood yang tidak baik dan memilih untuk diam saja. "Yah mau gimana lagi, Do? Gue juga gak bisa soalnya ban gue botak takutnya nanti Lisa jatuh trus badannya langsung kempes kena tusuk kerikil." ucap Eko menahan tawa. "Udah ah, lo sama yang lain aja! Soalnya motor gue gak bagus buat boncengan." Tangan Faldo langsung tancap gas meninggalkan asap motornya. Masih kutanamkan harap kepada 4 pasang mata yang masih ada di hadapanku. "Sorry, gue harus jemput adek gue nanti." Jere meninggalkan aku dan yang lainnya. "Gue juga har..."  Kupotong kalimat Oki dengan sopan, "Lo juga pasti ada urusan, yah? Yaudah gapapa, gue jalan kaki aja atau naik taksi aja mungkin. Maaf yah udah ngerepotin." Kakiku berjalan meninggalkan mereka tanpa mau tau bersama dengan tote bag yang ada di pundak kananku. Aku memandang jalan penuh amarah, begitu pula dengan bagunan-bangunan yang menjulang tinggi menatapi langkah kakiku yang dipandu oleh rasa kesal. Sebenarnya aku sangat ingin menangis, tapi jalanan terlalu ramai sore itu. Namun bising yang lalu lalang tak membuat hatiku berhenti berceloteh ria. Kujejaki jalan itu perlahan-lahan hingga langit gelap mulai menunjukkan dirinya. Aku harus cepat. Belum lagi aku lega karena akhirnya sudah sampai di gerbang rumah, kumpulan sepeda motor datang dari arah yang berlawanan ditemani gelak tawa yang tak karuan. Itu ke-5 pria tadi, bersama dengan Elena diboncengan Jere yang tengah duduk manis. Ke-5 b******n ini benar-benar tak tau malu. Seingatku tadi mereka punya alasan masing-masing bahwa mereka sibuk tapi lihat siapa yang mereka bawa. "Eh, udah ditungguin sama Lisa aja." gumam Eko. "Iya, soalnya gue ngak sibuk. Jadi, masih punya waktu buat nungguin kakak gue di sini." Tatapan mata Faldo berubah sekejap. Kutanamkan rasa bersalah di hati mereka masing-masing. "Dan seingat gue, kakak gue kayaknya lebih tua dari Jere sih. Iya ngak, Jer?" Pernyataan itu mampu membuat Jere menatapku dengan diam. Seingatku tadinya dia bilang dia ingin menjemput adiknya yang entah sedang berada di mana. "Lo kenapa sih, Li? Baru aja gue pulang langsung masang muka jutek." Elena menatapku dengan tatapan sinis dari atas ke bawah. "Kita pulang dulu yah, Len." Jere memimpin yang lainnya untuk pergi. "Iya. Lain kali kalo ketemu gue dijalan tawarin jok lagi yah!" Elena terkekeh manis melambai kepada b******n-b******n itu.  "Liat tuh! Tadinya kita plan minum dirumah. Gara-gara lo semuanya langsung pada pulang. Rese banget emang!" kalimat itu seakan menyalahkanku. Elena langsung berjalan masuk ke rumah dengan hentakan kaki yang lumayan kuat. Sepertinya dia kesal tapi aku juga tak kalah kesal dengan perlakuan mereka semua. *** Aku hanya duduk diam tak bergerak di hadapan meja rias di kamarku. Menghembuskan nafas berat sesekali pertanda kesal melihat wanita di cermin itu. Bahkan baru selesai mandi pun, dia masih terlihat jelek. Rambut yang basah dan rusak, jerawat dimana-mana, pipi yang bulat dan lemak yang membabi buta. Belum lagi tubuh pendek dengan kulit keruh dan bekas luka itu. Namun ayolah! Aku beranjak dari kursi itu lalu berjalan menjauh dari cermin. Setidaknya aku punya satu sudut tubuh yang cantik. Aku mencoba beberapa pose. Namun jujur saja, aku memang tak ada cantik-cantiknya. "Jijik banget!" gumamku lalu kembali duduk. "Jadi orang cantik enak yah." Tanganku menyeka cermin itu. Elena menjadi salah satu contohnya. Kulitnya bersih, badannya tinggi dan langsing. Wajah dengan kulit sawo matang yang indah, bibir yang manis dan rambut yang terawat. Matanya juga bercahaya. Elena tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan. Setiap kali dia meminta tumpangan, semua orang berebutan memboncengnya. Surat-surat cinta mengisi laci-nya setiap pagi. Aku teringat saat valentine day tahun kemarin, Elena mendapatkan sangat banyak coklat, boneka dan bunga. Jangankan valentine day, sepertinya bunga pertamaku hanya akan kudapatkan saat aku mati. Elena selalu curi perhatian. Dan jang lupa, dia selalu berhasil mendapatkan siapapun yang dia inginkan. Siapa yang berani menolaknya? Akan rugi besar rasanya jika seseorang mau menolak Elena. Hidup setiap orang memang susah, tapi akan lebih susah lagi saat kamu terlahir sebagai orang jelek. Dan tentu saja ini bukan bualan. Terkadang aku hanya diam berbaring di kasurku dan bepikir, "Memangnya aku sejelek itu?" Selama 18 tahun hidup dimuka bumi, rasanya belum pernah ada seseorang yang suka denganku. Baiklah, ini waktunya berubah! Aku menunjuk cermin di hadapanku, menunjuk kearah wanita itu, "Oke, Lisa! Gimanapun caranya, apapun ceritanya, gue gak mau tau! Pokoknya lo harus cantik!" "Bacot!" ucap Rio yang baru saja memasuki kamarku. Sumpah demi apapun, dia adalah orang yang sangat-sangat menjengkelkan dalam hidupku. "Emang yah, abang-abang jaman sekarang emang ngak paham yang namanya privacy!" "Dih! Privacy, privacy! Mama noh, manggilin lo dari tadi. Makanya jangan suka pura-pura budeg biar gak budeg beneran! Lo makan sana! Udah ditungguin sama Mama dari tadi." "Ngak ah! Lisa mau diet aja biar cantik." Rio menatapku dari atas kebawah. "Yah kalo jelek yah jelek aja kali, ngak usah ngangong ngangong. Awas kalo ketauan diet, gue pukulin lo sampe penyet. Cepetan sana makan!" "Biar kenapa ngomong kayak gitu?" "Yah biar lo ga cape aja. Lo mau diapain aja bakalan tetap jelek kok!" Cara bicara kak Rio memang sarkas, aku sudah terbiasa betul dengan hal itu. Namun akhir-akhir ini lelucon itu terasa asing walaupun niatnya memang bercanda. "Bisa ngak sih, mulai besok jangan gitu lagi?" aku menatap mata Rio dengan sangat serius. Rio tiba-tiba merasa asing. "Lah? Kan tugas aku ada di rumah ini emang  buat itu." antara paham dan tidak paham, Rio menatapku dengan tatapan mata sok tau. "Gini nih kalo anak baru puber, bawaannya baperan mulu. "Yah kak Rio ngak tau aja gimana rasanya jadi orang jelek." "Iya juga sih, gue emang ngak tau. Gue kan dari lahir sampe sekarang ditakdirkan ganteng, shining, shimmering, spendid." alih-alih iba, aku memang tak berharap dia paham. "Ah, udahlah! Batu kalo diajak bicara emang GBL." "Widih, GBL. Apaan tuh?" "Ganyambung Banget Loh." "Widih, bentar lagi kerasukan arwah Bondol jpg nih kayaknya." ucap Rio sebelum memperagakan gaya khas Bondol. "Keluar ngak! Atau..." "Atau apa?" "Atau, salam dari Binjai." Aku memukuli tubuhnya tanpa henti, dia memang menyebalkan dengan super power yang tak pernah habis. Rio memang agak menyebalkan. Tapi paling tidak, dia adalah penawar dari segala masalah yang kudapatkan dari Elena. "Udah ah, sakit tau!" Tangannya mencoba menggosok bekas pukulanku yang kudaratkan di sekujur lengannya. "Bye the way, tadi Mama bilang kamu pulangnya jalan kaki yah?" "Iya. Emang kenapa kalo jalan kaki? Ilegal?" gumamku sambil merapihkan seluruh skin care yang berserakan di meja rias itu. Tentu saja jawaban yang bertele-tele itu belum cukup jelas untuk Rio yang selalu haus topik untuk dibicarakan. Dia menatapku serius, "Bukan gitu, Bondol! Maksudnya tuh, bukannya tadi siang kamu dijemput sama cowo-cowo yang boncengin Elena?" "Iya!" "Trus pulangnya kenapa ngak nebeng sama mereka aja? Kan berlima tuh." "Ya karna Lisa ngak cantik, bang." suaraku serak tak beraturan. Kesedihan ini bahkan lebih terdengar seperti kebodohan. Aku hanya mampu membendung air mata yang siap jatuh itu. "Dih, diajak ngomong serius malah dikira main-main!" Rio menatapku dengan sudut matanya, dia tidak begitu percaya. "Yang bener jawabnya!" "Yaudah itu, karna Lisa ngak cantik!" Mataku menitikkan air mata yang membasahi lantai. Jujur saja, aku sudah mulai muak dengan hal seperti itu. Itu membuatku merasa seakan aku semenjijikkan itu sampai-sampai tak ada yang mau memberi tumpangan. "Dih, lo kenapa? Kok nangis? Kalo ada masalah tuh cerita." Matanya hanya menatapku penuh kebingungan. Pasalnya sedekat apapun aku dengan Rio, dia belum pernah melihat aku menangis se-serius itu. Aku menyeka air mata itu dan mendorong tubuh Rio keluar dari kamarku, "Udah ah! Lisa lagi gak mood makan, cerita, apalagi liat muka kak Rio." "Ya tapi lo cerita dulu kali, Lis! Ya kali gue jadi abang gaada kerjaan cuma blubuk-blubuk doang kayak ikan." Tangannya berusaha menghentikanku. Namun entahlah, aku lumayan kuat saat sedang emosi. Kukunci pintu rapat-rapat dengan Rio yang masih mencoba membujukku dari luar. Kalau saja aku cantik, mungkin hari-hari seperti ini tak akan kulalui.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD