My Crazy Fear - 14

2132 Words
Beberapa menit menunggu, para penonton kebingungan karena para peserta yang akan bertanding di lapangan, sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya di sana, sehingga kegaduhan mulai terjadi di seluruh penjuru arena karena semua orang bertanya-tanya tentang keberadaan peserta-peserta yang akan mengisi pertandingan terakhir di babak pertama ini. Suara-suara ‘boooooo’ terdengar begitu jelas di setiap bangku penonton, menandakan bahwa mereka semua mulai kecewa dengan jalannya pertandingan. Jika tidak ada yang bertarung di lapangan, lantas untuk apa mereka diundang kemari? Buang-buang waktu saja, begitulah pemikiran-pemikiran dari para penonton. Tentunya itu wajar saja, sebab Nico Walcott dan Noami Habibah Qolby, saat ini tampak masih duduk diam di bangkunya masing-masing, tanpa sedikitpun beranjak untuk pergi ke lapangan, mengisi dan memulai pertandingan melawan mentornya. Kendati demikian, mereka malah terkesan enggan untuk meninggalkan bangkunya, seakan-akan seperti bocah berumur lima tahun yang tidak mau tempat duduk favoritnya ditempati oleh orang lain sehingga dia memaksakan diri untuk terus duduk di sana, dan itu cukup menyebalkan. Tapi ketahuilah, alasan Nico dan Naomi bersikap begitu, bukan karena bangku yang mereka duduki adalah kursi favorit mereka, melainkan ada masalah lain yang menyebabkan mereka malas untuk berdiri dan berjalan beriringan menuju lapangan, dan masalah di antara mereka berdua, memang sedang panas-panasnya saat ini. Tidak mempedulikan sorakan-sorakan para penonton di sekitar, yang mencaci dan menghujat mereka, Nico dan Naomi masih tetap kekeh untuk tidak pergi dari kursinya masing-masing. Lantas, sebenarnya apa penyebab mereka bisa menjadi seperti itu, kalau memang bukan karena tentang ‘kursi favorit’? “Aku sudah mengatakannya berkali-kali padamu, aku tidak ingin kau berjalan di sampingku, jika kau mau ke lapangan, maka pergilah lebih dulu, aku akan ke sana jika kau sudah berada di sana,” desis Nico dengan menekan kaca mata bulatnya yang mengkilat terkena sinar mentari, lelaki berambut putih seputih salju itu, yang memiliki bibir tipis dan hidung yang mancung, tampak memasang raut sebal sampai kedua sudut mulutnya ditekuk ke bawah, menandakkan dirinya sedang sangat sebal pada sesuatu atau seseorang. Sebaliknya, di samping Nico, Naomi, yang merupakan perwujudan dari seorang gadis ramping berwajah anggun yang mengenakan kerudung kuning dan pakaian gamis berwarna serupa seperti kerudungnya, tampak menggeleng-gelengkan kepalanya. Gadis itu terlihat tidak setuju dengan ungkapan Nico, ekspresinya menunjukkan kalau dia tidak mau menuruti kemauan pasangan bertarungnya itu. “Tidak, saya tidak bisa datang ke lapangan sendirian, saya harus berjalan dengan Anda, maksud saya, kita ini secara teknis adalah pasangan di dalam pertandingan ini, yang artinya, kita harus berjalan beriringan dan muncul di hadapan para penonton secara bersamaan! Layaknya Colin dan Lizzie, Isabella dan Jeddy, Cherry dan Abbas, juga Koko dan Victor!? Mengapa Anda begitu keras kepala menolak berjalan berdampingan dengan saya? Sebenarnya apa yang telah saya lakukan sehingga Anda terlihat begitu membenci saya!?” Mendengar itu, secara refleks Nico langsung menoleh dengan menampilkan tatapan matanya yang cukup tajam dan menindas, seperti seseorang yang sedang mengancam. “Justru seharusnya aku yang bertanya begitu padamu, Naomi Habibah Qolby. Mengapa kau sangat ngotot ingin berjalan berdampingan denganku, hm? Kau pikir hanya karena kita di sini terpilih menjadi pasangan, maka aku akan sudi berjalan berdampingan denganmu layaknya kekasih? Kau terlalu berharap,” Seketika, Nico langsung beranjak dari bangkunya, berdiri di samping Naomi dengan menghembuskan napasnya. “Kalau kau tidak mau, maka akulah yang akan pergi ke lapangan duluan. Tapi ingatlah, kau boleh ke lapangan, jika aku sudah berada di sana. Jika aku belum di tengah-tengah lapangan, bahkan hanya selangkah saja, kau tidak boleh bergerak! Ingat itu!” Jantung Naomi jadi berdetuk sangat kencang, benar-benar menguras emosi saat berdebat dengan Nico, meski itu hanya memperdebatkan masalah yang cukup sepele, tapi rasanya seperti berperang dingin melawan sesuatu yang sangat besar. Naomi tidak mengerti mengapa Nico jadi bersikap dingin padanya, padahal sebelum kelompoknya ke tantangan pertarungan ini, hubungannya dengan lelaki jenius itu baik-baik saja, tidak ada bentrok sedikit pun sampai membuat mereka merenggang atau tidak lagi berbicara. Lantas kenapa Nico jadi berubah seperti itu? Bahkan ketika Nico sudah mulai meninggalkan bangkunya dan berjalan menuruni tangga untuk melangkah dan bergerak menuju tengah lapangan, Naomi hanya mengamati kepergian lelaki berambut putih itu dalam keheningan, walau situasi di sekitarnya sangat berisik. Menggeleng-gelengkan kepalanya, Naomi hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar apa pun yang terjadi kelak di pertarungan dirinya dengan Nico, tidak membuat mereka berdua terluka parah, mengingat lawan mereka adalah seorang Paul Cozelario yang sangat buas. Membahas soal Paul, entah kentapa Naomi mendadak jadi cemas, dua tangannya jadi meremas kain gamis di bagian lutut-lututnya, gadis berkerudung itu menundukkan kepalanya, agak sedikit meringis gelisah. Naomi sekarang sedang mencoba untuk berpikir bagaimana caranya agar dirinya dengan Nico bisa memenangkan pertarungan, karena jika pasangannya tidak mau melakukan kerja sama, itu artinya Noami harus berjuang sendirian. Maksud dari ‘berjuang sendirian’ di sini adalah, Naomi dan Nico sama-sama melakukan itu, yang artinya, mereka berjuang secara masing-masing dalam mengalahkan Sang Mentor, tanpa berupaya untuk bekerja sama dan membuat sebuah rencana. Memang terdengar janggal dan naif, tapi begitulah kenyataanya. Naomi dan Nico dari awal terpilihnya mereka menjadi pasangannya, kesannya terasa seperti ujung yang magnet yang saling bertolak belakang, tidak mau menerima satu sama lain, walau faktanya, hanya Nico lah yang di sini yang sangat menolak kehadiran pasangannya. Itulah mengapa Naomi harus bisa mencari cara sendiri agar dia tidak membebani Nico dan bisa membantu pasangannya untuk meraih kemenangan, walaupun cara yang mereka lakukan adalah, bekerja sendiri-sendiri. Tidak saling bekerja sama, dan berpura-pura seperti seseorang yang tidak saling mengenal. Ketika sosok Nico telah muncul di tengah lapangan, sorakan-sorakan kekecewaan yang sebelumnya terawang-awang, langsung lenyap begitu saja, tergantikkan dengan gemuruh tepuk tangan menyambut kedatangan satu peserta yang berdiri di tengah lapangan. Wajah-wajah para penonton begitu antusias, mereka senang karena akhirnya bisa melihat perwujudan dari peserta selanjutnya yang akan tampil dan bertarung melawan Paul Cozelario, tapi beberapa dari penonton agak kebingungan karena yang muncul hanya satu peserta saja. Di mana satunya lagi? Apakah masih sedang bersiap-siap? Akhirnya tanda tanya besar mencuat di benak para penonton sehingga kegaduhan massal kembali tercipta. Nico yang menyadari itu hanya memasang wajah sebal dan menoleh ke tempat Noami duduk, dan ia segera mengedikkan kepala, mengisyaratkan Naomi untuk segera turun ke lapangan. Mengetahui tanda isyarat itu, Naomi menganggukkan kepala dan langsung beranjak dari kursi dan berjalan menuruni tangga di sela-sela bangku para penonton menuju tanah lapangan. Dan saat Naomi sudah berada di tengah lapangan bersama Nico, seluruh penonton tersenyum dan bergelora dengan begitu semangat, menyambut kedatangan mereka berdua secara meriah. SELANJUTNYA UNTUK VERSI BAHASA INGGRIS, TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA DAN SAMPAI JUMPA DI BAB BERIKUTNYA---------------------- A few minutes of waiting, the audience was confused because the participants who were going to compete on the field, did not show their nose there at all, so that a commotion began to occur all over the arena because everyone was wondering about the whereabouts of the participants who will fill the final match at this first half. The voices of "boooooo" were heard clearly in every seat, indicating that they were all starting to be disappointed with the progress of the match. If no one is fighting in the field, then why were they invited here? What a waste of time, were the thoughts of the audience. Of course it is only natural, because Nico Walcott and Noami Habibah Qolby, currently appear to be still sitting silently on their respective seats, without the slightest move to go to the field, fill in and start the match against their mentor. Even so, they even seemed reluctant to leave the bench, as if it were a five year old boy who didn't want his favorite seat occupied by someone else so he forced himself to continue sitting there, and it was quite annoying. But you know, the reason Nico and Naomi behaved like that, not because the bench they were sitting on was their favorite chair, but there was another problem that caused them to be lazy to stand up and walk hand in hand towards the field, and the problem between the two of them, was indeed hot when this. Despite the cheers of the surrounding audience, who chided and blasphemed them, Nico and Naomi still chuckled not to leave their respective seats. So, what is the reason they can become like that, if it is not because of the "favorite chair"? "I've said it many times to you, I don't want you to walk beside me, if you want to go to the field, then go first, I'll be there when you're there," Nico hissed, pressing his shiny round glasses. sunshine, the snow-white haired man, who had thin lips and a sharp nose, seemed to have an irritated face until the corners of his mouth were bent downward, indicating that he was very annoyed at something or someone. On the other hand, beside Nico, Naomi, who is the embodiment of a slender girl with a graceful face wearing a yellow veil and a robe that is similar in color to her scarf, is shaking her head. The girl seemed to disagree with Nico's expression, her expression showing that she didn't want to obey her fighting partner's wishes. “No, I can't come out on the pitch alone, I have to walk with you, I mean, we are technically a couple in this match, which means we have to go hand in hand and appear in front of the crowd simultaneously! Like Colin and Lizzie, Isabella and Jeddy, Cherry and Abbas, also Koko and Victor !? Why are you so stubbornly refusing to walk side by side with me? Actually what have I done to make you seem so hating me !? ” Hearing that, reflexively Nico turned his head immediately with his eyes quite sharp and oppressive, like someone who was threatening. “I should have asked you that, Naomi Habibah Qolby. Why are you so determined to walk side by side with me, hm? You think just because we are here chosen to be a couple, I will be willing to walk side by side with you like a lover? You're too hopeful, " Instantly, Nico immediately got up from his chair, standing beside Naomi with a sigh. “If you don't want to, then I will go to the field first. But remember, you can go to the field, when I'm there. If I'm not in the middle of the field, even just a step away, you can't move! Remember that!" Naomi's heart was beating very fast, it was really emotional while arguing with Nico, even though it was just debating a fairly trivial matter, but it felt like fighting coldly against something really big. Naomi doesn't understand why Nico is being so cold to her, even though before her group embarked on this battle challenge, her relationship with the genius man was fine, there was no clash that made them stretch out or no longer speak. So why did Nico change like that? Even when Nico had started to leave his seat and walked down the stairs to step and move toward the middle of the field, Naomi only watched the white-haired man leave in silence, even though the situation around him was very noisy. Shaking her head, Naomi could only pray to God that whatever happened later in her fight with Nico, it would not hurt the two of them, considering their opponent. is a very ferocious Paul Cozelario. Talking about Paul, somehow Naomi suddenly became anxious, her two hands squeezed the robe on her knees, the veiled girl lowered her head, grimacing a little uneasily. Naomi is now trying to think about how she and Nico can win the battle, because if her partner doesn't cooperate, it means Noami has to fight alone. The meaning of "fighting alone" here is, Naomi and Nico both did that, which means, they each struggled to beat the Mentor, without trying to work together and come up with a plan. It sounds awkward and naive, but that's how it is. Naomi and Nico from the start they were chosen as partners, the impression felt like opposite magnetic ends, unwilling to accept each other, despite the fact, only Nico is here who really rejects the presence of his partner. That's why Naomi must be able to find her own way so that she doesn't burden Nico and can help her partner to win, even though the way they do is, work individually. Not cooperating with each other, and pretending like someone who doesn't know each other. When Nico's figure appeared in the middle of the field, the cheers of disappointment that had previously been floating, just vanished, replaced with thunderous applause welcoming the arrival of a participant who was standing in the middle of the field. The faces of the audience were so enthusiastic, they were happy because finally they could see the manifestation of the next participant who would appear and fight against Paul Cozelario, but some of the audience was a bit confused because only one participant appeared.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD