Hari sudah kembali weekend, dan full sisa hari kemarin Liam sama sekali tidak masuk. Dan hal itu tentu saja membuat pekerjaan Clara semakin bertumpuk.
Jika pada saat awal Liam tidak masuk pria itu membantu mengerjakan dari rumah pekerjaan nya, maka setelah hari itu tidak lagi.
Clara juga tidak ada di hubungi oleh Liam untuk membicarakan apapun, dan Clara sendiri tidak memiliki cukup alasan untuk menghubungi Liam terlebih dahulu.
Jelas saja gengsi, meskipun Clara masih suka dengan Liam, apa lagi dengan penampilan Liam yang sekarang seperti sugar Daddy gengsi tetap nomor 1 bagi Clara.
Hari ini Clara tidak memiliki jadwal apapun dan dia bertekad untuk tidak kemana mana karena ingin beristirahat khusus hari ini.
Setelah membersihkan apartemen nya, Clara ingin makan, tapi sebelum itu terjadi bel dari luar terdengar.
Dengan langkah yang malas Clara berjalan ke luar untuk melihat siapa yang datang. Dan saat membuka pintu tentu saja Clara kaget, karena pria yang baru saja terlintas di pikiran nya sudah berada di depan unit apartemen nya dengan menggendong sang putra juga tas besar.
"Cla, aku bisa minta tolong kamu kan buat jaga Juna sebentar? Aku bener harus ngurus sesuatu dan aku nggak bisa bawa Juna" bahkan Clara belum sempat bertanya ada apa gerangan Liam datang ke apartemen nya. Tapi langsung di cecar dengan permintaan pria itu.
"Tunggu, bagaimana maksudnya kak?"
"Nanti kalo aku udah balik, bakalan aku jelasin" setelah itu Liam memindahkan Juna dari gendongan nya ke gendongan Clara dan juga menyerahkan tas penuh isi perlengkapan Juna.
"Juna, Daddy pergi dulu. Juna disini sama ante jangan nakal ya..." Setelah mendapatkan anggukan dari putra nya Liam membenarkan posisi berdirinya yang awal nya menunduk menjadi berdiri dengan tegap.
"Aku titip Juna Cla, mungkin nanti malam aku baru ambil Juna" dan setelah mengatakan itu kepada Clara yang masih diam saja, Liam mencuri kesempatan dengan mengecup kening Clara dan membuat wanita itu semakin menegang dan kaget. Lalu Liam pergi begitu saj dari sana.
.
Clara sudah duduk di sofa milik nya, Juna sedang bermain dengan mainan yang dibawa Liam dari rumah di atas carpet di bawah sofa.
Dengan perlahan tangan kanan Clara memegang kening nya, dia seperti masih merasakan jejak ciuman dari Liam di kening nya.
Jujur saja jantung Clara berdetak tidak karuan sejak kejadian itu, dan semburat merah di pipinya juga membuktikan jika wanita itu sedang gugup.
"Kak Liam gila, apa apaan dia cium aku seenak nya gitu" gumam Clara pelan, dia takut Juna mendengar kalimat kasar dari nya dan mengikuti mengucapkan.
Meski di mulut menolak dengan apa yang dilakukan oleh Liam, tapi hati dan tingkah nya sama sekali tidak bisa membohongi jika Clara mendadak berbunga bunga dengan itu semua.
"Ante... Mam" Clara yang awal nya sibuk dengan pemikiran nya, langsung saja dikagetkan dan di buat sadar kembali oleh Juna yang merengek meminta makan siang nya.
Saat Clara melirik sedikit ke jam yang ada di dinding, dia baru sadar jika jam ini memang sudah jam nya Juna untuk makan.
"Ayo anak ganteng kita makan sekarang" dengan semangat Clara mengangkat Juna kedalam gendongan nya, dan semangat Clara tentu saja di sambut semangat juga oleh pria kecil itu yang merasa senang di gendongan Clara.
.
.
.
Liam mendadak harus menggantikan sang papah untuk menghadiri peresmian salah satu perusahaan kolega nya di daerah yang cukup jauh, sebenarnya tidak jauh juga karena daerah itu mampu di tempuh dengan perjalanan pesawat 2 jam.
Dan Liam tidak bisa membawa Juna karena Juna sendiri baru sembuh, disana sangat ramai. Dan Liam takut Juna akan rewel nanti nya.
Dan karena sejak semalam Juna selalu meminta untuk bertemu dengan Clara maka pagi ini dia mengantarkan sekaligus menitipkan Juna kepada Clara.
"Tuan Pramudya" sapa si pemilik acara, dan bisa Liam lihat pria paruh baya itu datang dengan wanita yang masih cukup muda di samping nya yang Liam kenal sebagai anak pria itu.
"Tuan Brian, apa kabar?" Sapa Liam basa basi.
"Baik, ah iya kenalkan ini putri ku Calista" kata tuan Brian.
"Perkenalkan aku William Pramudya" kata Liam sambil mengulurkan tangan nya yang langsung di balas jabat gadis itu.
"Calista Dionne" kata Calista dengan senyum yang menawan.
"Ah iya bagaimana dengan kabar papamu? Aku baru tadi pagi mengetahui jika dia tidak bisa datang. Sayang sekali"
"Papa baik baik saja om, cuma hari ini beliau memang tidak bisa datang. Makanya saya yang datang untuk menggantikan"
"Ah tidak papa, yang terpenting perwakilan dari Pramudya ada yang datang"
"Iya om"
"Apa kamu langsung pulang malam ini? Jika bisa apa kamu mau ikut makan malam dengan keluarga kami?"
.
.
.
Jam sudah menunjukan pukul 12 malam, Clara sebenarnya sudah tertidur bersama dengan Juna di pelukannya sejak jam 9. Namun di harus terbangun karena bel apartemen yang terus bunyi.
Dan ternyata Liam yang baru datang, meski dalam keadaan menahan ngantuk Clara masih bisa melihat raut lelah dari Liam.
"Masuk kak, kakak mau bawa pulang Juna sekarang? Nggak besok pagi aja? Ini udah malem banget, Juna juga lagi tidur nyenyak" kata Clara sambil jalan kedalam dan tentu saja di ikuti oleh Liam.
"Emang kalo aku nginep disini juga nggak masalah?" Pertanyaan Liam membuat Clara melebarkan matanya spontan.
"Ma-maksud kakak?" Clara bertanya sambil membalikan badannya, kini kedua nya saling menatap.
"Ya iya, kalau aku disini sampe besok pagi emang kamu nggak masalah? Kamu nggak takut?" Tanya Liam lagi sambil berjalan mendekati Clara.
Melihat Liam yang berjalan mendekat Clara memundurkan langkah nya dengan perlahan sampai akhirnya punggung nya menabrak pintu kamar.
Liam mengangkat kedua tangan nya dan di letakkan di pintu, tepat di samping kepala Clara untuk mengukung wanita itu.
Wajah Liam mendekat, dengan perlahan Liam memposisikan wajah nya tepat berada di perpotongan leher Clara, saking dekatnya Clara bisa merasakan hembusan nafas hangat Liam.
"Ka-kak" rasa kantuk yang awal nya sangat menguasai Clara kini hilang entah kemana karena perlakuan intim Liam.
Clara mencoba mendorong agar Liam menjauh darinya, tapi belum sempat mengeluarkan tenaga nya Liam langsung mencekal kedua tangan Clara dan angkat di posisikan di samping kepala nya.
Kini Clara bisa merasakan lidah basah Liam yang sedang menyusuri leher nya hingga kuping. Clara yang mendapat perlakuan seperti itu pun merasakan jika tubuh nya meremang.
"Bisa aku pinjam kamar mandi? Sebelum tidur aku harus membersihkan diri dulu" kalimat yang tidak Clara sangka keluar dari mulut Liam saat keadaan mereka seperti ini.
"Eh iya?" Jawab Clara ragu, otak nya belum bisa bekerja sama. Karena jika boleh jujur, Clara merasakan kembali sedikit kenikmatan yang dulu nya sering dia dapatkan dari Liam.
Dan hari ini dia mendapatkan perlakuan yang sama dengan orang yang juga.
Tbc