Teringat

1038 Words
"Da....da...." Liam mengerjapkan mata nya kaget, ingatan nya yang sempat kembali ke masa lalu kini kembali lagi ke masa sekarang setelah panggilan dari sang putra yang menyadarkannya. Gila, ini benar benar gila. Bagaimana mungkin bisa ingatan Liam kembali ke masa e****s itu, kenangan yang tidak akan mungkin pernah Liam lupakan seumur hidup nya. Dimana dia pertama kali melakukan hubungan seksual dengan murid nya sendiri. "Ya sayang?" Liam menggendong Juna yang ada di kursi khusus milik anak itu di meja makan, kedua nya baru saja selesai makan malam. Rumah ini sangat sepi saat hanya ada mereka, tapi Liam terbiasa dengan itu. Karena sejak dulu dia memang lebih suka ketenangan. "Bo..bo" "Baiklah ayo kita tidur sekarang" kata Liam lalu melangkahkan kaki nya menuju lantai 2 dimana kamar nya dan juga Juna berada. Sepanjang perjalanan menuju kamar nya, ingatan Liam kembali ke sore hari tadi. Dimana Liam dengan lepas kendali mengatakan pada Clara untuk tidak lagi membicarakan pria lain jika mereka sedang bersama. Sekarang Liam mulai berfikir, memang nya dia siapa dengan berani melarang Clara? Kekasih juga bukan, hanya bagian dari masa lalu yang mungkin saja ingin Clara lupakan... Liam tidak bodoh, jelas dia tau jika Clara sangat kecewa kepadanya, dimana dulu mereka bersama saling berbagi kehangatan tapi Liam sama sekali tidak pernah memberikan penjelasan perihal hubungan keduanya selain teman di ranjang. Bahkan dengan bodoh nya Liam meminta Clara untuk melupakan perasaan nya ketika gadis itu menyatakan perasaan. Liam sedang merasakan karma sekarang, dia memiliki perasaan untuk Clara tapi dia tau jika Clara sudah tidak memiliki itu lagi. . . . Clara baru saja selesai mandi, dengan Bathrobe yang masih berada di tubuh nya Clara berjalan menuju meja rias untuk menyisir rambutnya dan memakai beberapa cream di wajah nya. Saat ingin mengambil Cream wajah gerakan tangan Clara terhenti. Tangan gadis itu menyentuh tangan kanan nya, ingatan Clara kembali di siang hari tadi dimana dirinya dan Liam melakukan skinsip setelah sekian lama. Dan saar mengingat kejadian itu kembali jantung Clara terasa berdebar debar. "Gila, apa apaan ini..." gumam Clara sambil memegang d**a nya perlahan "Enggak, lo nggak boleh suka lagi sama dia Cla. Dia udah punya anak istri" kata Clara kepada dirinya sendiri. Sesuka dan secinta apapun Clara dengan Liam, dia tidak akan menjadi wanita rendahan yang akan mendekati pria beristri. Menghela nafas nya pelan agar menormalkan detak jantung nya, setelah itu Clara melanjutkan lagi kegiatan nya sebelum tidur malam. . Setelah selesai dengan urusan kewanitaan nya dan melepas bathrobe nya mengganti dengan gaun malam, Clara merebahkan tubuh nya di atas kasur milik nya. Menatap langit-langit kamar, banyak yang dia pikirkan hari ini. Mulai dari Liam bahkan sampai keluarga nya sendiri. Bohong jika sentuhan Liam di kantor tidak mengingatkan Clara akan kenangan 5 tahun yang lalu dimana dia melepaskan kegadisannya kepada pria itu. Momen itu sampai kapan pun tidak akan pernah dilupakan oleh Clara, menyesal? Ya Clara menyesal dengan mudah nya dulu dia melepaskan itu kepada pria yang bahkan tidak memiliki ikatan khusus dengan nya. Bermula dari dirinya yang merasa kesepian karena orang tua yang sibuk dengan urusan masing masing sampai dia dekat dengan Liam lebih dari yang seharus nya. "Lo b**o Cla" runtuk Clara pada dirinya sendiri, seharian ini tidak berhenti-henti nya Clara meruntuki dirinya sendiri kala memikirkan Liam. "Tapi mau nyesel juga percuma, nggak akan balikin tuh perawan ke gw" kata Clara lalu memutuskan untuk tidur dan tidak memikirkan apapun lagi. . . . "Mas, kenapa nggak kamu akan yang ngomong ke Clara buat tinggal sama kita?" Retta mencoba bicara pada sang suami agar mau membawa anak pria itu untuk tinggal bersama dengan mereka. "Sayang, Clara itu anak nya susah di atur. Bukti nya kami sama Devian aja udah kesana dia malah marah marah. Emang anak nggak tau sopan santun" kata Wijaya pada istrinya. Wijaya agak malas sebenarnya jika membahas anak nya dengan mantan istrinya itu, baginya Clara hanya pembuat masalah yang akan selalu menyusahkan nya. "Itu karena diantara kalian ada masalah mas, coba kamu ngomong baik-baik bagaimana juga kalian ayah sama anak" kata Retta lagi. Retta benar-benar ingin Clara tinggal bersama mereka, Clara sudah sejak lama ingin anak perempuan sampai akhirnya dia menikah dengan Wijaya yang memiliki anak perempuan. Tapi tau masalah suami dan anak tirinya itu membuat Retta sulit mendapatkan keinginan nya. Retta bahkan sudah berusaha membujuk pasangan ayah dan anak itu, tapi dua dua nya sama sama keras kepala. "Biarin dia pilih jalan nya sendiri. Kalo udah nggak sanggup juga bakalan balik lagi ke orang tua" kata tuan Wijaya lalu menutup buku yang sedang di bacanya dan melangkahkan kaki nya menuju kamar mereka. Retta sangat yakin jika yang ditunggu sang suami adalah Clara uang mengemis untuk kembali, hal itu tidak akan terjadi. Retta bisa melihat raut tegas dan penuh percaya diri pada Clara, dan Retta yakin Clara tidak akan merendahkan dirinya hanya untuk kembali kepada orangtua nya yang menjadi sumber masalah terbesar di hidup nya. Setelah itu Retta memutuskan untuk menyusul sang suami, karena ini juga sudah malam dia akan beristirahat. Sementara itu tanpa kedua orangtua itu sadari Devian dan Devan tidak sengaja mendengar percakapan mereka. "Emang apa kata Clara waktu Lo sama mamah minta dia tinggal sama kita?" Tanya Devan "Clara nggak mau, kayak nya sih masalah dia sama papah besar banget makanya dia marah waktu gw sama mamah minta dia tinggal bareng" Devian sangka Devan sang kembaran akan satu pemikiran dengan nya dan berusaha membujuk Clara untuk tinggal bersama dengan mereka. Namun jawaban dari Devan membuat Devian bungkam. "Udah lah jangan ikut campur sama urusan papah sama Clara, yang ada malah Lo sendiri yang susah. Selama kenal sama Clara gw tau kalo Clara itu nggak akan marah sama orang kalo nggak ada penyebabnya. Dan kita baru jadi saudara Clara jadi jangan ikut campur atau Clara bakalan benci sama kita" kata Devan. "Lo bener bang, kayak nya Clara emang udah benci deh sama gw. Bukti nya Clara langsung pindah setelah gw sama mamah datengin dia" perkataan Devian ini membuat Devan menatap Devian dengan mata melotot. "Lo jangan bercanda ya..." Ancam Devan, bagaimana pun juga dia masih memiliki rasa dengan Clara, jika tidak bisa melihat gadis itu lagi maka Devan akan gila mungkin. "Gw nggak bercanda, beberapa hari yang lalu Vani pagi pagi nelfon gw sambil nangis dan bilang kalo Clara kecewa dan mutusin buat pindah" Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD