Kejadian Aneh, Mimpi Buruk

1200 Words
“Lepaskan aku, Robi cepat tarik aku! Makhluk ini ingin memakanku” teriak Anjas dengan kondisi mata masih tertutup, tamapknya dia sedang mengalami mimpi buruk. Robi yang sedang tertidur menjadi terbangun setelah mendengar seseorang terus-terusan berteriak memanggil namanya. Seperti layaknya seseorang yang baru bangun tidur, Robi tampak kebingungan mebcari dari mana sumber suara itu berada. Akhirnya dai menyadari bahwa itu adalah teriakan Anjas yang sedang mengigau atau sedang mimpi buruk, Robi juga tidak tahu. Robi segera mendekati Anjas, dia berniat untuk membangunkannya. “Gila, dia sampai basah kuyup begini” ucap Robi yang melihat baju yang Anjas kenakan sudah basah kuyup denagn keringat semua. Robi hendak menyentuh tanagnnya agar dia bisa terbangun, namun tiba-tiba saja dia teringat oleh pepatah orang dulu jika ingin membangunkan orang yang sedang mimpi buruk, jangan menyentuhnya, cukup dengan memanggil namanya saja. Satu dua kali Robi coba memanggil nama Anjas dengan suara biasa, namun Anjas tak kunjung bangun, dan mencoba unutk ketiga kalinya tetap saja dia tidak mau bangun, justru teriakannya bertambah tidak karuan. “Kebo benar orang ini. Ini cara yang terakhir, semoga saja berhasil” ucap Robi. Dia berniat memanggil nama Anjas dengan teriakan, berharap dia akan mendengarnya dan kemudian banguun. Baru juga Robi mebuka mulutnya dan bersiap untuk teriak, Anjas sudah bangun dengan sendirinya. Dengan napas yang tampak ngos-ngosan layaknya seseorang yang baru saja menyelesaikan lari marathon 100 kilometer, dia terbangun dari tidurnya. Anjasa tampak seperti orang linglung yang sedang kebingungan dimana dia sekarang. “Syukurlah hanya mimpi” ucap Anjas sembari mengelus-elus d**a. “Tenang, kuasai dan lepasakan. Ayo ikuti aku!” ucap Robi sembari menujukan gerakan latihan pernapasan pada Anjas. Anjas hanya memandang sinis ke arah Robi yang melakukan gerakan seperti orang gila. “Kamu ngapain sih” ucap Anjas yang kemudian memukul Robi menggunakan bantal agar dia menghentikan kelakuan konyolnya. Robi hanya tertawa karena merasa puas berhasil menggoda Anjas yang baru saja terbangun dari tidurnya. “Kamu yang apaan, tengah malam begini teriak-teriak macam orang gila saja kamu” “Aku barusan tadi mimpi buruk, benar-benar mimpi yang paling seram yang pernah akau alami” ucap Anjas yang sudah mulai tenang sekarang. “Mimpi buruk apaan? Pakai teriak-teriak nama akau segala lagi. Kalu sampai tetangga dengar, mereka kira aku sedang berbuat hal yang tidak senonoh denganmu” ucap Robi. “Ini benar-benar mimpi buruk, butuk banget. Bahkan lebih buruk dari wajah kamu” Anjas masih sempat-sempatnya bercanda. “Lama-lama aku geprek juga kamu. Ayo, jadi cerita enggak ini? Kalu enggak, aku tidur lagi ini” ucap Robi. “Sebentar, sebentar. Aku atur napas dulu, supaya nanti aku bisa jelas saat menceritakannya” Robi segera memperbaiki posisi duduknya agar dia dapat mendengarkan cerita dari Anjas dengan nyaman. Anjas tampak sudah bersiap untuk menceritakan mimpi buruk yang dia alami tadi pada Robi. “Besok aja kali ya, aku jadi takut kalau cerita malam-malam begini” ucap Anjas. “Dasar jamet, bodo amat kamu mau mimpi buruk atau mimpi basah, aku tidak pedului” Robi segera beranjang dari duduknya dan ingin segera kembali tidur. Robi segera menarik selimutnya dan menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut, dia pura-pura tidak mendengar Anjas yang terus saja menggilnya, dia mengatakan akan menceritakan sekarang namun Robi sudah tidak peduli lagi, Robi sudah terlanjur kesal dengan Anjas. Anjas menjadi terjaga tidurnya sejak dari tadi malam, dia tidak bisa tidur setelah mengalami mimpi buruk itu. Dia berulang kali mencoba untuk membangunkan Robi kembali agar bisa menemaninya, namun Robi enggan untuk bangun karena dia yang sudah merasa kesal dengan Anjas . Anjas juga mencoba untuk membangunkan Aris, namun itu adalah hal yang percuma untuk di lakukan karena Aris yang tidurnya sudah sama persis dengan kebo, kan sanagt sulit sekali untk mebangunkannya. “Tok, tok, tok” terdengar dari luar ada suara orang mengetok pintu rumah Aris. Anjas yang bangun sendirian merasa takut ada orang mengetok pintu jam empat pagi. Dia mencoba mebangunkan kembali kedua temannya, namun tidak satupun dari mereka mau bangun. Aris mencoba untuk meberanikan diri untuk mengecek apakah yang mengetok pintu itu memang manusia atau tidak. Baru juga dia berjalan satu langkah, dia sudah mundur kembali karena dia sangat-sangat takut. “Cobaan apa lagi ini tuhan, baru juga tadi akau mimpi buruk. Malah sekarang setannya langsung ingin menemuiku” ucap Anjas yang tampak gemetar. Suara ketokan pintu itu tak kunjung berhenti, Anjas mencoba memaksakan dirinya untuk berani membuka pintu, kunci pintu sudah dia pegang dan tinggal memutarnya pintu akan terbuka. Namun dia kembali lagi mengurungkan niatnya, dia benar-benar tidak bisa melawan rasa ketakutan yang dia alami. Akhirnya terpikir olehnya untuk berteriak dari dalam rumah saja. “Siapa itu?” teriak Anjas dengan nada gemetar. “Ini Fano, cepat buka pintu” sahut orang dari luar yang ternyata adalah temannya sendiri-Fano. Lega rasanya hati Anjas setelah mengetahui itu adalah Fano, dia bergegas mebukakan pintu untuk Fano agar dia bisa masuk. “Lama bener buka pintu gitu aja. Hampir jadi es aku di luar tadi” ucap Fano. Anjas berpura-pura menguap, seolah-olah dia baru saja bangun tidur agar Fano tidak tahu jika sebenarnya dia sudah dari tadi ada di depan pintu, namun karen takut, dia tidak berani unutk mebukakannya. “Baru bangun ini aku” ucap Anjas dengan menyipit-menyipitkan matannya layaknya seseorang yang baru bangun tidur. “Di aman Aris dan Anjas?” “Mereka masih tidur. Kamu juga, jam segini sudah kesini mau ngapain?” tanya Anjas. “Sengaja, biar enggak kalian tinggal” jawab Fano. Melihat jam yang masih jam 5 pagi, Fano hendak membaringkan badannya di sofa. Masih lumayan ada waktu untuk tidur samapi nanti waktunya berangkat. Namun Anjas yang melihat Fano akan tidur segera mencoba untuk menghentikannya. “Kamu mau ngapain?” tanya Anjas “Tidurlah, mau ngapain lagi, kan juga masih jam segini” jawab Fano. “Jangan tidur, ngapain sih tidur lagi” “Kalu enggak tidur mau ngapain dodol, masih lumayan ini samapi jam sembilan” ucap Fano yang sudah mulai memejamkan mata. Anjas merasa tidak bisa jika kembali bangun sendirian seperti ini lagi, tadinya dia sudah merasa senang ketika Fano datang, berarti dia punya teman. Namun sekarang justru dia juga ingin tidur, Anjas tidak akan mebiarkan hal itu terjadi. “Ayo main PS, aku sudah jago ini” ucap Anjas yang berusaha agar Fano tidak tidur. “No, Fano. Ayo main PS kita, aku benar-benar sudah jago ini. Atau mau taruhan, satu gol lima ribu?” Anjas tetap berusaha agar Fano tidak tidur kembali. Namun tampaknya usaha dia juga sia-sia, terdengar Fano sudah mulai mendengkur yang artinya dia sudah tidur juga. Anjas bingung harus melakukan hal apa di jam empat pagi, dia akhirnya memutuskan untuk ikut mebaringkan badannya di tempat ia tidur tadi. ‘Bodo amat lah, yang penting pejamkan mata, siapa tahu nanti tiba-tiba tertidur” gumam Anjas. Baru juga dia merasakan nikmatnya bisa tidur kembali, tiba-tiba dia mendengar suara orang mengetuk pintu rumah lagi, namun kalai ini berbeda, dia mengetuk pintu sembari memanggil-manggil nama Anjas.,terdengar suaranya seperti suara ibunya Anjas. “Ngapain malam-malam begini mama datang ke sini?” gumam Anjas yang kemudian bergegas untuk mebukakan pintu. Namun alangkah terkejutnya Anjas ketika orang yang dia kira adalah ibunya, ternyata adalah makhluk yang tadi ada di dalam mimpinya, dia berbadan manusia namun bertubuh ular. Meliahat makhluk seperti itu mebuat Anjas berteriak sejadi-jadinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD