“Lo juga kenapa harus ngomongin hal itu kemaren ?”
Tamara sedang duduk menunggui Rubi yang tengah menyeduhkan Tamara kopi dan dirinya teh hangat . Makan malam mereka semalam membuat Rubi dan Tamara lebih dekat .
“Ya emangnya salah ? Gue juga ga keberatan kalo lo jadi adek gue .”
Tamara mendengus , “lo ga tau aja gue telat setaun pas daftar sekolah kedokteran .” Ucap Tamara polos .
“Jadi lo kakak gue , dong ?”
Anggukan Tamara membuat Rubi mendengus , “ah , gue ga mau punya kakak lagi .”
Rubi meletakkan kopi Tamara di meja di depan Tamara kemudian dia duduk di depan Tamara sambil menyeruput the hangatnya .
“Tenang aja , gue akan jadi kakak yang baik buat lo . Adek manis .” Kata Tamara lalu mengusap puncak kepala Rubi .
Rubi berontak , “sialan lo . Males ah gue .”
Tamara terkekeh lalu mengikuti Rubi yang menuju ruangan bersama . Tamara masih mengolok – oloknya meski mereka sudah sampai di ruangan itu .
“Lo ah . Nyebelin .”
Tamara diam . Menutup pintu dan mengambil ponselnya yang sempat bergetar . Ternyata ada pesan singkat dari Derian untuknya .
‘Sibuk ?’
Dengan senyum Tamara semangat untuk membalas pesan dari Derian . Tamara hendak menjawab engga sama sekali , tapi kenyataannya sangatlah buruk .
“UGD DALAM KEADAAN GENTING .”
Baiklah .
Tamara tidak bisa membalas pesan dari Derian kali ini . Mungkin Derian akan mengerti . Sudah hampir dua tahun , Tamara di tempatkan di UGD . Dan ya , anggap saja dia sedang dalam proses menuju ruangan pribadinya sendiri .
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Rubi dan Tamara sudah ada di kantin rumah sakit . Kantin khusus untuk pegawai rumah sakit itu cukup sepi . Mungkin yang lain memilih untuk duduk atau bahkan berbaring di ruangannya . Tamara mengikuti ajakan Rubi karena Rubi mengatakan jika dia lapar . Dan tentu saja , Tamara juga merasakan hal yang sama .
Tamara juga lapar dan lelah .
Tadi , unit gawat darurat memang kacau . Tapi tidak sekacau saat ada kecelakaan beruntun di jalan dekat rumah sakit . Tadi ada bangunan yang baru akan di bangun roboh entah kenapa . Mungkin karena susunan kerangka atau apalah itu yang jadi permasalahannya , Tamara tidak mau memikirkannya .
“Lo ga ke ruang operasi ?”
Gelengan dari Tamara membuat Rubi bertanya kenapa setelahnya .
“Ada dokter Sony . Lagian , tidak cukup parah untuk bagian bedah umum . Hanya luka ringan di luar tubuh yang ga perlu masuk ke RO .”
Rubi mengangguk , “jadi lo ngambil tesis saraf ?”
Tamara duduk sambil mengangguk , “hem . Kenapa ?”
Gelengan dari Rubi membuat Tamara bingung , “lo ga suka gue nanti ngurusin tesis sama nyokap lo ?” Tanya Tamara pada Rubi .
“Enggaklah .” Kata Rubi .
Sebenarnya , Rubi sangat berterima kasih pada Tamara . Berkat dia , Rubi dan keluarganya menjadi sangat dekat sekarang . Dan Rubi tidak harus benci kepada Tamara . Ibunya hanya menjadikan Tamara sebagai anak nya sebelum Rubi . Lagi pula , ibunya Rubi hanya prihatin kepada Tamara . Tidak lebih dari itu .
Ponsel yang ada di saku celana Tamara bergetar . Ada telepon masuk .
Derian’s Calling .
“Siapa ?”
Tamara menatap Rubi , “Rian .”
Rubi mengangguk lalu tersenyum . Rian adalah panggilan Tamara untuk Derian . Biasanya orang – orang memanggilnya seperti itu . Dan tentu saja , Tamara punya panggilan tersendiri untuk Derian .
“Ri ?”
Dan itu panggilan Tamara untuk Derian .
Rubi juga tidak mengerti , kenapa harus Tamara membuatkan semua orang nama yang menurut Tamara enak untuk di panggil . Orang aneh . Batin Rubi .
“Tadi UGD riuh .”
Kata – kata Tamara masuk ke dalam telinga Rubi . Sepertinya , Rian menanyakan keadaan Tamara .
“Gue ceritain lain kali deh , abis lo pulang aja .”
Tamara kemudian mengangguk , “okay , nanti kalo udah balik gue telpon deh . Atau chat lo .”
“Kok cepet banget nelponnya . Rian sibuk ?” Tanya Rubi penasaran .
Tamara diam lalu menatap Rubi . Rubi sudah menghabiskan makanannya sedari tadi . Tapi Tamara masih menaahan Rubi di sini . Tamara kalau makan lama .
“Lo inget ga waktu kejadian ada kecelakaan beruntun ?”
Rubi mengangguk , “kenapa ?”
“Lo nyelametin gue dari ibu – ibu yang , mm gimana ya ngomongnya .”
“Yang ngaku – ngaku nyokap lo ?”
Tamara menatap Rubi . Sebenarnya , Tamara tidak ingin kejadiannya dan anggapan orang – orang seperti itu . Tapi , Tamara sudah menyebutkan kalo Tamara tidak punya orang tua kepada semua pihak yang bertanya kemana orang tua Tamara . Termasuk Rubi .
Tamara mengangguk ragu , “iya . Lo inget ?”
Lagi – lagi Rubi mengangguk , “kenapa sama itu ibu – ibu ?”
Tamara bingung . Apa Rubi bisa menjadi tempatnya bercerita ? Haruskah Rubi mengetahui masa lalunya yang cukup kelam ?
“Gini . Tapi , gue harap lo jaga ini sebagai rahasia .”
Mata Tamara menelusuri sudut – sudut ruangan ini . Kantin tengah mala mini memang sangat sepi . Tidak ada siapa – siapa di sini . Hanya ada beberapa orang yang bahkan tidak mengenal Tamara sepertinya .
“Kenapa sih ?” Rubi sepertinya memang sangat penasaran apa yang akan Tamara katakan .
“Jadi tuh , dulu gue sempet punya orang tua . Ayah dan bunda . Tapi mereka lebih memilih ninggalin gue .” Tamara menarik nafasnya . “Nanti gue ceritakan detailnya .” Kata Tamara cepat saat Rubi akan bertanya pada Tamara .
Rubi mengangguk paham .
“Pokoknya , mereka ninggalin gue hingga gue bener – bener sengsara . Ga bisa makan dan ga punya tempat tinggal .” Tamara menatap Rubi yang mendengarnya dengan sangat serius , “Derian nolongin gue pas keadaan gue ga baik waktu itu .”
Rubi hanya diam lalu mengangguk kecil , “terus ?”
“Dan setelah beberapa lama , gue jadi dokter dan ketemu nyokap gue itu .”
“Jangan bilang yang kemarin itu –“
Tamara mengangguk pelan .
“Dia bunda gue yang udah ninggalin gue waktu itu .”
“Mau apa lagi dia cari lo ?”
Tamara terkekeh begitu melihat Rubi terbawa emosi . “Gue juga ga tau . Mungkin kebetulan yang Tuhan captain buat gue .”
“Terus dia minta apa sama lo ?”
Tamara menggeleng , “ga minta apa – apa . Dia kayaknya cuman ngenalin gue sama adik gue , yang bahkan gue ga tau kapan hamil dan lahirnya .”
“Tamara ?”
Tamara kaget mendengar panggilan itu .
Kepalanya menoleh ke sumber suara yang memanggilnya tadi .
Tamara tersenyum canggung saat mengetahui siapa yang memanggilnya kali ini .