RUBI PENDENGAR FAKTA

1110 Words
“Lo juga kenapa harus ngomongin hal itu kemaren ?” Tamara sedang duduk menunggui Rubi yang tengah menyeduhkan Tamara kopi dan dirinya teh hangat . Makan malam mereka semalam membuat Rubi dan Tamara lebih dekat . “Ya emangnya salah ? Gue juga ga keberatan kalo lo jadi adek gue .” Tamara mendengus , “lo ga tau aja gue telat setaun pas daftar sekolah kedokteran .” Ucap Tamara polos . “Jadi lo kakak gue , dong ?” Anggukan Tamara membuat Rubi mendengus , “ah , gue ga mau punya kakak lagi .” Rubi meletakkan kopi Tamara di meja di depan Tamara kemudian dia duduk di depan Tamara sambil menyeruput the hangatnya . “Tenang aja , gue akan jadi kakak yang baik buat lo . Adek manis .” Kata Tamara lalu mengusap puncak kepala Rubi . Rubi berontak , “sialan lo . Males ah gue .” Tamara terkekeh lalu mengikuti Rubi yang menuju ruangan bersama . Tamara masih mengolok – oloknya meski mereka sudah sampai di ruangan itu . “Lo ah . Nyebelin .” Tamara diam . Menutup pintu dan mengambil ponselnya yang sempat bergetar . Ternyata ada pesan singkat dari Derian untuknya . ‘Sibuk ?’ Dengan senyum Tamara semangat untuk membalas pesan dari Derian . Tamara hendak menjawab engga sama sekali , tapi kenyataannya sangatlah buruk . “UGD DALAM KEADAAN GENTING .” Baiklah . Tamara tidak bisa membalas pesan dari Derian kali ini . Mungkin Derian akan mengerti . Sudah hampir dua tahun , Tamara di tempatkan di UGD . Dan ya , anggap saja dia sedang dalam proses menuju ruangan pribadinya sendiri . * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Rubi dan Tamara sudah ada di kantin rumah sakit . Kantin khusus untuk pegawai rumah sakit itu cukup sepi . Mungkin yang lain memilih untuk duduk atau bahkan berbaring di ruangannya . Tamara mengikuti ajakan Rubi karena Rubi mengatakan jika dia lapar . Dan tentu saja , Tamara juga merasakan hal yang sama . Tamara juga lapar dan lelah . Tadi , unit gawat darurat memang kacau . Tapi tidak sekacau saat ada kecelakaan beruntun di jalan dekat rumah sakit . Tadi ada bangunan yang baru akan di bangun roboh entah kenapa . Mungkin karena susunan kerangka atau apalah itu yang jadi permasalahannya , Tamara tidak mau memikirkannya . “Lo ga ke ruang operasi ?” Gelengan dari Tamara membuat Rubi bertanya kenapa setelahnya . “Ada dokter Sony . Lagian , tidak cukup parah untuk bagian bedah umum . Hanya luka ringan di luar tubuh yang ga perlu masuk ke RO .” Rubi mengangguk , “jadi lo ngambil tesis saraf ?” Tamara duduk sambil mengangguk , “hem . Kenapa ?” Gelengan dari Rubi membuat Tamara bingung , “lo ga suka gue nanti ngurusin tesis sama nyokap lo ?” Tanya Tamara pada Rubi . “Enggaklah .” Kata Rubi . Sebenarnya , Rubi sangat berterima kasih pada Tamara . Berkat dia , Rubi dan keluarganya menjadi sangat dekat sekarang . Dan Rubi tidak harus benci kepada Tamara . Ibunya hanya menjadikan Tamara sebagai anak nya sebelum Rubi . Lagi pula , ibunya Rubi hanya prihatin kepada Tamara . Tidak lebih dari itu . Ponsel yang ada di saku celana Tamara bergetar . Ada telepon masuk . Derian’s Calling . “Siapa ?” Tamara menatap Rubi , “Rian .” Rubi mengangguk lalu tersenyum . Rian adalah panggilan Tamara untuk Derian . Biasanya orang – orang memanggilnya seperti itu . Dan tentu saja , Tamara punya panggilan tersendiri untuk Derian . “Ri ?” Dan itu panggilan Tamara untuk Derian . Rubi juga tidak mengerti , kenapa harus Tamara membuatkan semua orang nama yang menurut Tamara enak untuk di panggil . Orang aneh . Batin Rubi . “Tadi UGD riuh .” Kata – kata Tamara masuk ke dalam telinga Rubi . Sepertinya , Rian menanyakan keadaan Tamara . “Gue ceritain lain kali deh , abis lo pulang aja .” Tamara kemudian mengangguk , “okay , nanti kalo udah balik gue telpon deh . Atau chat lo .” “Kok cepet banget nelponnya . Rian sibuk ?” Tanya Rubi penasaran . Tamara diam lalu menatap Rubi . Rubi sudah menghabiskan makanannya sedari tadi . Tapi Tamara masih menaahan Rubi di sini . Tamara kalau makan lama . “Lo inget ga waktu kejadian ada kecelakaan beruntun ?” Rubi mengangguk , “kenapa ?” “Lo nyelametin gue dari ibu – ibu yang , mm gimana ya ngomongnya .” “Yang ngaku – ngaku nyokap lo ?” Tamara menatap Rubi . Sebenarnya , Tamara tidak ingin kejadiannya dan anggapan orang – orang seperti itu . Tapi , Tamara sudah menyebutkan kalo Tamara tidak punya orang tua kepada semua pihak yang bertanya kemana orang tua Tamara . Termasuk Rubi . Tamara mengangguk ragu , “iya . Lo inget ?” Lagi – lagi Rubi mengangguk , “kenapa sama itu ibu – ibu ?” Tamara bingung . Apa Rubi bisa menjadi tempatnya bercerita ? Haruskah Rubi mengetahui masa lalunya yang cukup kelam ? “Gini . Tapi , gue harap lo jaga ini sebagai rahasia .” Mata Tamara menelusuri sudut – sudut ruangan ini . Kantin tengah mala mini memang sangat sepi . Tidak ada siapa – siapa di sini . Hanya ada beberapa orang yang bahkan tidak mengenal Tamara sepertinya . “Kenapa sih ?” Rubi sepertinya memang sangat penasaran apa yang akan Tamara katakan . “Jadi tuh , dulu gue sempet punya orang tua . Ayah dan bunda . Tapi mereka lebih memilih ninggalin gue .” Tamara menarik nafasnya . “Nanti gue ceritakan detailnya .” Kata Tamara cepat saat Rubi akan bertanya pada Tamara . Rubi mengangguk paham . “Pokoknya , mereka ninggalin gue hingga gue bener – bener sengsara . Ga bisa makan dan ga punya tempat tinggal .” Tamara menatap Rubi yang mendengarnya dengan sangat serius , “Derian nolongin gue pas keadaan gue ga baik waktu itu .” Rubi hanya diam lalu mengangguk kecil , “terus ?” “Dan setelah beberapa lama , gue jadi dokter dan ketemu nyokap gue itu .” “Jangan bilang yang kemarin itu –“ Tamara mengangguk pelan . “Dia bunda gue yang udah ninggalin gue waktu itu .” “Mau apa lagi dia cari lo ?” Tamara terkekeh begitu melihat Rubi terbawa emosi . “Gue juga ga tau . Mungkin kebetulan yang Tuhan captain buat gue .” “Terus dia minta apa sama lo ?” Tamara menggeleng , “ga minta apa – apa . Dia kayaknya cuman ngenalin gue sama adik gue , yang bahkan gue ga tau kapan hamil dan lahirnya .” “Tamara ?” Tamara kaget mendengar panggilan itu . Kepalanya menoleh ke sumber suara yang memanggilnya tadi . Tamara tersenyum canggung saat mengetahui siapa yang memanggilnya kali ini .  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD