★Bertemu denganmu adalah suatu kebanggaan bagiku★
"Kamu bohong ya?" Alvino berdecak. Sudah dua puluh tiga kali Ana bertanya seperti itu dan ia hanya fokus pada jalan tak berminat menjawabnya.
"Alvi kenapa bohong?"Lelaki itu masih diam membisu. Ana dibuat berdecak kembali,ia lebih baik diam.
Ting
Ana melihat layar ponselnya. Ternyata pesan dari ibunya.
From; Bunda
Besok kamu fitting baju ya sama Vino
To; Bunda
Bunda, bisa gak sih pernikahannya di.batalin aja:(
From;Bunda
Loh kenapa ?
To; Bunda
Aku gak kenal Alvi Bun, dia juga orangnya dingin Tasya gak suka:(
From; Bunda
Gak bisa, kamu udah ngumumin hubungan kamu sama Vino loh ke seluruh media.
To; Bunda
Tpi Bun,.Ana gak suka sma dia
From; Bunda
Pernikahan tidak semua harus di dasari dengan cinta Tasya, ada saatnya kalian jatuh cinta
To ;Bunda
Tpi Bun ...
From ;Bunda
Jangan ragu,bunda yakin kmu sdh memilih jalan yang benar.
20:04 √√
Ana menghela nafas kasar. Apakah ia bisa mencintai Alvino dan melupakan Gio? Bisa saja sih jika ia sudah mengenal lama dengan Alvino. Tapi masalahnya dia gak kenal sama Alvino.
Meskipun mereka tetanggaan sudah lama. Namun Ana tidak pernah berkata sepatah pun pada Alvino. Bahkan menginjak halaman rumahnya juga tidak. Dan sekarang secara tiba-tiba ia akan menjadi calon hidup Alvino Bagaskara?Sungguh dramatis.Sesampainya di rumah, Ana tak berkata sepatah pun. Ia langsung melangkahkan kakinya menuju kamar yang berada di depan kamar Alvino.Laki-laki itu tak peduli ia malah asik memainkan t****k. Padahal dirinya baru saja datang.
Ana membaringkan tubuhnya di ranjang yang sudah ia rapikan beberapa jam yang lalu. Ia menatap langit-langit kamar, pikirannya mulai bercabang. Harapan ia akan menikah dan mempunyai bayi lucu bersama Gio hilang dan pudar. Melihat Gio yang terbaring lemah dan saat ia memelas menginginkan dirinya menemani Gio membuat ia sediit ragu akan pernikahaannya bersama Alvino.
Namun terlintasa sikap b******n Giodana membuat Ana memudarkan hal tersebut. Tak terasa buliran bening menetes begitu saja di pipinya.Setiap manusia itu tak lepas dari masalalunya. Jika tak ada masa lalu maka tak akan ada masa depan.Begitupun dengan Ana. Jika ia tidak mengetahui sikap b******n Gio, mungkin selamanya ia akan menetapkan hati pada Gio.
Semoga apa yang ia pilih saat ini tak akan membuatnya menyesal di masa depan nanti.
∞∞
Ana menghentakan kakinya. Matanya menatap kesal pada laki-laki yang duduk di hadapannya dengan mata yang terfokus pada game yang ia mainkan.Percaya tidak percaya,sudah dua puluh kali Ana mengganti gaun pernikahan yang akan di selenggarakan beberapa hari lagi.
"Alvi ... Ih!" Geram Ana.
Alvino hanya berdehem membuat emosi Ana semakin memuncak. Ia membuka hills nya lalu ia lemparkan tepat pada kening Alvino membuatnya melepaskan ponselnya lalu memijat keningnya.
"Awshh ... Sakit b**o ..."
Alvino mendongakan kepalanya. Ia terkagum saat melihat penampilan Ana yang berbalut gaun pengantin. Satu kata untuk Ana perfect.
"Yang itu sja!"
Ana menggeram kesal. Rasanya ia ingin menguliti Alvino hidup-hidup. Ia sudah capek-capek menggabti gaun. Dan dengan entengnya, Alvino malah memilih gaun yang pertama kali ia pakai.
Daebak.
Alvino ini ternyata usil. Para pegawai di butik tersebut terkekeh. Membuat Ana malu tentunya.
Drtt...
Adind_
Vino bisa kita ketemu di Caffe?
Me:
Hmn
Setelah membalas pesan dari Adinda, Alvino memasukan ponselnya ke dalam saku celana. Ia menyuruh pada Ana untuk segera berganti dan pulang. Namun, Ana mengerutkan keningnya ketika menyadari bahwa Alvino tidak membawanya pulang melainkan membawanya menju sebuah caffe.
"Nanti lo duduknya jangan deket-deket gue!" Ana menautkan halisnya. "Kenapa? Kamu alergi aku?" Alvino tak menjawab. Ia memarkirkan mobilnya setelah terparkir ia mematikan mesin mobilnya lalu turun. Satu detik berikutnya Ana menyusul Alvino.
Alvino menyuruh Ana untuk duduk di luar ruang private yang di tempati Alvino dan Adinda. Awalnya Ana protes tapi tiba-tiba Alvino membentaknya membuat nyali gadis itu ciut seketika.
"Mas! Coffe Latte satu."
Ana mengetukan telunjuk kanannya di atas meja. Ia menqtap sekitarnya banyak pasangan yang datang. Dan ia baru menyadari hanya dirinya yang duduk seorang diri. Sungguh miris sekali.
Di sisi lain. Alvino mencoba menarik dalam-dalam udara. Ia mencoba menetralkan dirinya ketika melihat gadis yang sedang menangis sesegukan.
"Aku ... Hamil Vin!" Alvino membuka matnya. Mata coklatnya mentap mata hazel Adinda mencoba mencari kebohongan. Namun sayang, hasilnya nihil.
"Kamu bohong?"
Adinda menggeleng,"Nggak!"
Seolah masih tak percaya, Alvino menatap tajam Adinda. Pasalnya ia takut jika wanita di hadapannya ini mengaku hamil anaknya."Kamu bohong!"
Tangis Adinda semakin pecah. Bahkan Ana yang berda di luar mengalihkan pandangannya melihat dari celah kaca sempit yang menghubungkan ruang umum dan ruang private.Entah mengapa hatinya terasa ngilu melihat sedang memeluk wanita yang ia sendiri tak tahu itu siapa karena wanita tersebut membelakangi dirinya.
Bukan ... Ana bukan cemburu pada Alvino. Namun ia merasa tidak dihargai dirinya yang sebentar lagi akan menyandang sebagai istri Alvino Bagaskra.
"Hei ..."
Gadis itu tersentak lalu mendongakan kepalanya mentap kesal pria yang menghalangi pandangannya.
"Tayo ..."
Ana mendengus kesal,"Minggir !"
Pria tersebut mencodongkan tubuhnya mendekati Ana." Dilarang melihat orang yang lagi pacaran!"
"Sebutin Undang-Undang ke berapa,pasal berapanya dan ayat berapa?"
Laki-laki itu terkekeh,"Lo lulusan sarjana hukum ya?"
Ana mendelik kesal,"Kepo kaya monyet!"
Pria tersebut menutup mulutnya yang membulat dan pura-pura terkejut."Woo ... cewek kok kasar"
Ana memencet hidungnya lalu berkata, "Gak denger pakek hetset"
Tak kuasa menahan tawa,akhirnya pria tersebut tertawa lepas sambil memegangi perutnya karena taking lucunya melihat kelakuan Ana.
Usai puas tertawa,pria tersebut duduk di hadapan Ana tanpa seizinnya.
"Kenalin nama gue Dirga Ferdo!"
"Gak nanya!"
"Lo lucu ya,"
"Gak!" Ana masih menatap Alvino yang kini tengah mencium kening wanita tersebut. Dirga yang penasaran lalu mengikuti arah pandang Ana.
"Oh .. Alvino sama Dinda. Maklum mereka kayak gitu namanya juga orang pacaran. Eh tapi denget-denger si Dinda hamil!"
Deg
"Ha .. hamil?"
Dirga mengangguk mantap."Yap, anda betul sekali!"
"Bohong ah!"
"Nggak kok,Dinda hamil anaknya Alvino!"
Ana menggeleng."Nggak bohong!"
"Gue gak bohong, dua rius malah!" Dirga mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.
“Perlu anda ketahui Tuan Ferdo, sesungguhnya orang yang berbohong dan memfitnah orang itu akan masuk neraka!” Ana bangkit dari duduknya,ia menyambar tasnya lalu memesan taksi meninggalkan Dirga yang kini bertanya-tanya. Maklum Dirga orangnya gak updet.
"Bunda ..."
"Loh, kenapa sayang?"Adera terkejut saat melihat putrinya yang tiba-tiba masuk dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku gak mau nikah sama Alvi"
"Loh ... Kenapa? Lagi berantem?" wanita paruh baya itu membersihkan tangannya yang kotor karena tepung terigu.
"Bunda ... Aku ... Aku ragu Bunda!" Ana menghampiri ibunya yang berada di dapur dan memeluknya dari samping.
"Ragu kenapa hmm?" Adere mengusap sayang rambut putrinya setelah mengeringkan tangannya.
"Aku ragu, Alvino bakal sayang sama aku!"
"Loh ... kok bisa berfikir kaya gitu? Denger ya, Allah itu maha membolak-balikkan hati setiap hambaNya. Bunda yakin Alvino bisa sayang sama kamu."
"Kenapa Bunda maksa aku nikah sama Alvi? Kan aku udah bilang kalau ..."
"Ana, andai kamu mengungkapkan bahwa pertunangan kalian palsu. Kamu bakal di hujat sama fans fanatiknya Vino."
"Tapi Bun, pacar Alvi ..."