"Tumben nggak di jemput?" Suara Satria membuat Alana menoleh ke belakang. Payung yang sejak tadi di genggamnya tak jadi di buka. Lagi pula hujannya tidak deras, dan Alana tidak membutuhkan payung, yang gadis itu butuhkan adalah kehadiran Devan. "Mau kuantar?" tanya Satria saat Alana hanya menanggapi sapaannya dengan senyum tipis. "Nggak usah, Mas. Aku bisa pulang sendiri," tolak Alana. "Masih hujan. Jangan nekat, nanti kamu sakit," cegah Satria saat Alana hendak melangkah keluar dari kedai. "Nggak deras kok, cuma gerimis." "Setidaknya, pakailah payungmu," kata Satria merasa khawatir. "Sini payungnya, aku bisa memegangnya untukmu, dan kamu bisa berjalan di antara rintik hujan tanpa harus memegang payung," lanjutnya sambil meraih payung dari tangan Alana. Akhirnya Alan

