Bab 7

1389 Words
Bella merasa tubuhnya membeku mendengar julukan yang jarang sekali digunakan suaminya untuk menyebutnya. Arabella—nota bene adalah nama lengkapnya yang hanya keluar dari mulut Julian ketika dia benar-benar marah atau kesal. Matanya mulai terasa panas, namun dia dengan sekuat tenaga menahan air mata yang ingin mengalir. Dia menatap Julian dengan tatapan yang kini campur aduk antara kecewa dan keterkejutan. “Apa salahku, Lian?” ucapnya dengan suara yang hampir tidak terdengar, seolah setiap kata yang keluar dari mulutnya harus bersusah payah melewati gumpalan rasa sakit di tenggorokannya. “Aku hanya ingin berada bersamamu. Aku hanya ingin tahu apakah kita masih sama seperti dulu.” Julian menghela napas dengan berat, wajahnya masih menunjukkan ekspresi kesal yang jelas. Ia berbalik menghadap meja, menoleh dari pandangan Bella. “Aku tidak punya waktu untuk omong kosong seperti ini sekarang, Bella. Aku punya deadline yang harus dipenuhi. Proyek besar yang bisa menentukan masa depan perusahaan ini. Kau tidak mengerti betapa beratnya tanggung jawab yang aku pikul setiap hari.” Bella mengangguk perlahan, meskipun hatinya merasa seperti sedang hancur berkeping-keping. Dia tahu betul betapa sibuknya pekerjaan suaminya—selama bertahun-tahun menikah, dia selalu berusaha memahami dan mendukungnya dengan sepenuh hati. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada rasa tidak nyaman yang terus merayap di dalam dirinya, diperparah oleh kata-kata Michael dan tatapan singkat Karen tadi. “Baiklah,” jawab Bella pelan. Dia mengambil tas makanan yang telah dia bawa dari meja, tangan kirinya sedikit gemetar. “Aku akan pergi. Makanannya aku tinggalkan saja ya, Lian. Jangan lupa makan dengan benar ya walaupun kau sedang sibuk.” Julian hanya mengangguk tanpa melihatnya, fokus kembali pada dokumen-dokumen yang ada di mejanya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Bella berbalik dan berjalan menuju pintu. Langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya, seolah setiap inci jalan yang ditempuh membuatnya semakin lelah. Ketika tangan kirinya sudah menyentuh pegangan pintu, dia berhenti sejenak dan memutar wajah sedikit ke belakang. “Lian,” panggilnya lembut. Suaminya hanya mengangkat bahu tanpa menoleh. “Apa lagi, Bella?” “Tolong sempatkan waktu untuk beristirahat sebentar,” ucapnya dengan nada penuh perhatian. “Kesehatanmu itu sangat penting.” Julian tidak menjawab, dan dengan itu, Bella akhirnya membuka pintu dan keluar dari ruangan itu. Di luar sana, Karen masih berdiri di mejanya, tampak seperti sedang menunggu sesuatu. Ketika melihat Bella keluar dengan wajah yang pucat dan mata yang sedikit merah, sekretaris itu tampak ingin berkata sesuatu, namun kemudian hanya mengangguk singkat sebagai penghormatan. “Bu Bella mau pulang?” tanya Karen dengan suara yang lebih lembut dari biasanya. Bella mengangguk. “Ya, Karen. Tolong katakan pada Pak Julian kalau dia jangan sampai lupa makan makanan yang aku bawakan tadi.” “Tentu, Bu Bella,” jawab Karen dengan senyum yang lemah. “Semoga Anda baik-baik saja.” Bella hanya memberikan senyum balasan yang tidak bisa disembunyikan rasanya hambar, lalu melanjutkan langkahnya menuju lorong yang sama tempat dia bertemu Michael tadi. Kali ini, lorong itu terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Dengungan pendingin ruangan yang konstan seolah menjadi satu-satunya teman yang menyertainya saat ini. Pikirannya penuh dengan berbagai macam hal—kata-kata Michael, sikap Julian yang berbeda dari biasanya, tatapan Karen yang menyembunyikan sesuatu. Semua itu menyatu menjadi gumpalan kekacauan di dalam kepalanya. Ketika dia hampir sampai di pintu keluar, seseorang menyapa dari belakangnya. “Bella!” Dia berhenti dan memutar wajah. Michael berdiri beberapa langkah di belakangnya, wajahnya menunjukkan ekspresi khawatir yang jelas. Dia mendekat dengan langkah yang perlahan, seolah tidak ingin mengejutkannya. “Maaf jika aku mengganggumu lagi,” ucap Michael dengan suara yang lembut. “Tapi aku melihatmu keluar dari sana dengan wajah yang tidak baik-baik saja. Aku khawatir.” Bella menghela napas, menahan keinginannya untuk menangis di depan pria ini yang hanya dikenalinya beberapa kali saja. “Apa ada yang bisa kau lakukan, Michael? Dia adalah suamiku. Aku mencintainya. Tapi sekarang… aku tidak tahu apa yang harus aku pikirkan lagi.” Michael mengangguk perlahan, memahami perasaan yang sedang dialaminya. “Aku tahu ini sulit bagimu. Dan aku benar-benar menyesal jika kata-kataku membuatmu merasa lebih buruk dari sebelumnya. Aku tidak pernah berniat untuk merusak hubunganmu dengan Julian. Aku hanya ingin kau tahu apa yang aku lihat agar kau bisa lebih waspada saja.” “Tapi bagaimana jika yang kau lihat itu salah, Michael?” tanya Bella dengan suara yang sedikit bergetar. “Bagaimana jika aku salah mengira dan akhirnya merusak hubungan yang sudah aku bangun dengannya selama bertahun-tahun?” “Kau tidak akan pernah tahu kecuali kau mencari tahu dengan benar,” jawab Michael dengan jujur. “Tapi ingat, Bella—kebaikanmu tidak boleh menjadi alasan bagi orang lain untuk menyakiti dirimu. Kau layak mendapatkan cinta dan penghormatan yang sesungguhnya. Kau layak mendapatkan kebenaran, tidak peduli seberapa pahitnya.” Bella terdiam mendengar kata-kata itu. Ada kebenaran yang tak bisa dinafikan dalam setiap kata yang keluar dari mulut Michael. Dia tahu bahwa pria ini benar—dia memang layak mendapatkan yang terbaik. Namun hati dan pikirannya masih bingung. Bagaimana dia bisa menyelidiki hal ini tanpa menyakiti Julian? Bagaimana dia bisa mencari kebenaran tanpa merusak rumah tangganya? “Terima kasih sudah peduli padaku, Michael,” ucap Bella dengan suara yang lebih tenang. “Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang, tapi setidaknya aku tahu bahwa aku tidak sendirian dalam menghadapi hal ini.” Michael memberikan senyum yang hangat padanya. “Kau tidak akan pernah sendirian, Bella. Jika kau butuh seseorang untuk berbicara atau membutuhkan bantuan apapun, jangan ragu untuk menghubungiku ya. Aku akan selalu ada untukmu.” Bella mengangguk, rasa terima kasih yang mendalam terasa terpendam di dalam hatinya. Meskipun mereka tidak begitu akrab, kebaikan Michael membuatnya merasa sedikit lebih tenang. Setelah itu, mereka berpisah—Michael kembali ke arah ruangan di mana dia berada sebelumnya, sedangkan Bella melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar perusahaan. Ketika dia sampai di luar, sinar matahari sore yang hangat menyapa wajahnya. Udara luar terasa lebih segar dibandingkan dengan di dalam gedung yang ber-AC kencang. Dia berjalan menuju tempat parkir mobilnya, yang berada di lantai bawah gedung itu. Sepanjang jalan, dia melihat orang-orang yang sedang pulang kerja, berbicara riang dengan rekan kerja mereka atau sedang menelepon seseorang dengan wajah yang ceria. Semua itu membuatnya merasa semakin terisolasi—seolah dia hidup di dunia yang berbeda dengan orang-orang di sekelilingnya. Setelah sampai di depan mobilnya, dia membuka pintu dan masuk ke dalam. Dia duduk di sana untuk beberapa saat, hanya menatap kemudi dengan kosong. Pikirannya kembali berjalan ke arah Julian—ke saat-saat indah yang pernah mereka lalui bersama. Dari ketika mereka pertama kali bertemu. Lalu pada saat mereka mulai berkencan, ketika Julian mengajaknya menikah di tengah kebun bunga yang indah, dan ketika mereka merencanakan masa depan bersama dengan penuh harapan. Semua kenangan indah itu seolah menjadi bayangan yang semakin memudar seiring dengan perkembangan hari ini. Tanpa sadar, air mata akhirnya mengalir ke pipinya. Dia menangis dengan suara terdiam, meratapi rasa sakit yang dia rasakan—rasa sakit karena merasa bahwa hubungan yang dia sayangi mungkin tidak lagi sama seperti dulu. Rasa sakit karena tidak tahu apakah kepercayaan yang dia berikan kepada suaminya telah disalahgunakan. Rasa sakit karena tidak tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Setelah merasa cukup tenang, dia menghapus air matanya dan menyalakan mesin mobil. Dia mengemudi dengan perlahan keluar dari area parkir, lalu memasuki jalan raya yang mulai ramai dengan kendaraan. Perjalanan pulang ke rumah terasa sangat lama, meskipun jaraknya tidak terlalu jauh. Setiap kali dia melihat pasangan muda yang sedang berjalan berdampingan atau keluarga yang sedang berkumpul di pinggir jalan, hatinya merasa semakin sakit. Ketika dia sampai di rumah, suasana yang sepi langsung menyambutnya. Rumah yang biasanya terasa hangat dan nyaman kini terasa sejuk dan kosong. Dia memasuki ruang tamu dan menjatuhkan tasnya ke sofa dengan lemas. Dia melihat ke arah dinding yang dipenuhi dengan foto-foto kenangan mereka berdua—foto saat liburan ke pantai, foto saat ulang tahun Julian, dan foto saat mereka merayakan ulang tahun pernikahan. Semua itu seolah menjadi penghingga yang mengingatkannya akan apa yang mungkin akan hilang. Dia berdiri dan berjalan ke arah dapur. Perutnya mulai terasa lapar, namun dia tidak punya nafsu untuk makan apa-apa. Dia hanya mengambil segelas air putih dan meminumnya dengan pelan. Sambil berdiri di depan wastafel yang menghadap ke halaman belakang, dia melihat taman yang telah mereka rawat bersama selama bertahun-tahun. Bunga-bunga yang mereka tanam bersama masih tumbuh dengan indah, namun tanpa kehadiran Julian, taman itu terasa kurang hidup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD