Bab 14

1231 Words
Bella masih belum beranjak dari tempatnya berdiri saat ini. Pandangan matanya terus tertuju pada buah dan juga coklat yang tergeletak di sana, seolah benda-benda itu bisa memberikan jawaban atas kebingungannya. Kepalanya terasa begitu penuh. Ia berusaha mengingat kembali apa yang terjadi tadi pagi. Tapi seingatnya memang benar-benar tidak ada kartu nama pengirimnya. Jika memang salah kirim, tentu alamatnya bukan tertuju ke rumahnya. Menurutnya, ini aneh. Jika bukan Julian, lalu siapa yang mengirimkan semua itu padanya?? Hal itu tentu membuat dadanya mengencang. Jika bukan suaminya, lalu siapa? Dan untuk apa orang itu mengirimkan sesuatu yang begitu personal seperti buah yang ia sukai dan juga coklat favoritnya? Bella menghela napas pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Mungkin memang hanya sebuah kebetulan saja, ada orang baik yang ingin berbagi dengannya. Ia mencoba berpegang pada kemungkinan-kemungkinan yang terdengar paling masuk akal, meski hatinya tidak sepenuhnya yakin. Ia terlalu larut dalam pikirannya sendiri sampai tidak menyadari langkah Julian yang mendekat ke arahnya. Tiba-tiba saja, ia merasakan sebuah tangan menyentuh pergelangan tangannya. Hal itu membuat Bella secara refleks tersentak kaget. “Ah!” serunya kecil, refleks menarik tangannya. Wajahnya pun spontan menoleh cepat ke arah Julian, jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Julian sendiri sampai mengernyitkan dahinya bingung. Tatapannya meneliti wajah Bella yang terlihat pucat dan terkejut. “Kenapa?” tanyanya heran. “Kau kenapa kaget begitu?” Bella sontak menelan ludahnya pelan. Ia lalu menggeleng dengan cepat. “Tidak… tidak apa-apa,” jawabnya tergesa. “Aku hanya sedikit terkejut saja. Kenapa, Lian?” Julian menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah mencoba membaca sesuatu dari raut wajah istrinya. Namun akhirnya ia hanya mengangguk kecil. “Kau aneh malam ini,” gumamnya singkat, lalu berbalik dan berjalan kembali ke arah ranjang. Bella memijat jemarinya sendiri dengan pelan, mencoba menenangkan getaran halus yang masih terasa di tubuhnya. Ia merasa bersalah—bukan karena berbohong, tapi karena merasa jika reaksinya barusan yang terlalu berlebihan. Beberapa detik hening berlalu sebelum suara Julian kembali terdengar. “Oh ya,” ucapnya tiba-tiba. “Aku hampir lupa memberitahumu sesuatu.” Bella menoleh. “Soal apa?” “Michael mengundang kita,” jawab Julian sambil mengambil ponselnya. “Akhir pekan ini. Dia akan mengadakan pesta kecil-kecilan di rumahnya.” Bella sontak mengerjapkan matanya pelan. “Mengundang kita?” tanyanya. “Iya. Kau harus ikut denganku,” lanjut Julian tanpa ragu. Nadanya terdengar seperti sebuah keputusan, bukan pertanyaan. Bella terdiam sejenak. “Pesta kecil… untuk apa?” tanyanya kemudian, penasaran. “Untuk merayakan status barunya,” jawab Julian ringan. “Status baru?” Bella mengernyit. “Maksudnya?” Julian meliriknya singkat. “Ya status apa lagi? Sekarang kan dia sudah resmi menjadi duda.” Bella sontak terdiam. Alisnya terangkat sebelah, ekspresinya jelas menunjukkan keterkejutannya. “Merayakan status barunya yang menjadi duda?” ulangnya pelan, seolah memastikan ia tidak salah dengar. “Iya,” sahut Julian santai. “Kenapa?” Bella menggeleng kecil, masih terasa aneh di telinganya. “Aneh! Baru kali ini aku mendengar ada orang yang mengadakan pesta hanya untuk merayakan statusnya yang baru saja menjadi duda.” Julian terkekeh kecil. “Itulah Michael. Kau tahu sendiri, dia memang sedikit… berbeda dari yang lain.” Bella tidak ikut tertawa. Pikirannya justru kembali melayang—pada paket pagi tadi, pada perhatian yang terasa ganjil, pada nama Michael yang kini disebut lagi di hadapannya. Entah kenapa, ada perasaan tidak nyaman yang perlahan merayap di dadanya. Namun ia hanya mengangguk pelan. “Kalau begitu… ya sudah,” ujarnya akhirnya. “Kalau itu maumu.” Julian mengangguk puas. “Bagus. Kita akan menginap di sana juga, sepertinya.” Mendengar itu, Bella sontak mengerutkan keningnya. “Menginap di sana? Untuk apa juga kita menginap di sana? Setelah acaranya selesai, ya kita langsung pulang saja, Lian." “Kau dengar tidak kata terakhir yang aku ucapkan tadi? Aku bilang sepertinya kan? Jadi belum tentu juga akan menginap.” sahut Julian dengan nada bicara sedikit kesal. “Terserahlah. Tapi pokoknya aku tidak mau kita menginap di sana. Jika acaranya sudah selesai, kita pulang. Atau jika memang kau mau menginap di sana, lebih baik sekalian saja aku tidak ikut. Aku—” “Kau mau mempermalukan aku?” sela Julian dengan cepat. “Siapa yang mau mempermalukan dirimu Julian? Memangnya salah jika aku bicara begitu? Aku rasa tidak ada yang salah dengan ucapanku barusan kan?" tanya Arabella dengan wajah bingungnya. “Dengan kau tidak ikut datang bersamaku, itu namanya kau mau mempermalukan aku!” “Astaga ya tuhan...” Arabella sampai mengusap wajahnya dengan frustasi. Dadanya naik turun, napasnya terasa lebih berat dari biasanya. Ia tidak mengerti sejak kapan percakapan sederhana selalu berubah menjadi perdebatan yang melelahkan seperti ini. “Aku hanya mengatakan jika aku tidak nyaman menginap di sana, Lian,” ucap Bella akhirnya, berusaha menurunkan nada suaranya. “Kenapa semuanya harus kau artikan seolah aku ingin menjatuhkanmu?” Julian berdiri dari tepi ranjang. Ia berdiri tegak di sana dengan sorot mata yang sangat tajam menatap Bella. “Karena kau selalu begitu. Sedikit-sedikit merasa tidak nyaman, sedikit-sedikit merasa tidak aman. Padahal ini hanya pesta kecil di rumah temanku sendiri.” “Temanmu,” ulang Bella pelan. “Bukan temanku, Lian.” “Itu tidak penting,” sahut Julian cepat. “Yang penting kau istriku. Kau harus tahu bagaimana caranya bersikap.” Lagi-lagi ucapan Julian kembali menusuk telinga Bella. Ia menelan ludah, berusaha untuk menahan emosi yang mulai menggelegak. “Aku tidak menolak untuk ikut,” kata Bella, suaranya sedikit bergetar. “Aku hanya tidak ingin menginap. Itu saja. Apa itu permintaan yang terlalu berlebihan untuk seorang istri?” Julian menghela napas keras, jelas tidak sabar. “Kau terlalu banyak berpikir. Menginap satu malam saja tidak akan membunuhmu.” Bella sontak terdiam. Pandangannya beralih ke arah jendela kamar, ke pantulan bayangannya sendiri di kaca. Ia terlihat lelah. Bukan secara fisik, tapi batin. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan, namun semuanya seakan tertahan di tenggorokan. “Sampai kapan kita akan terus berdebat begini,” ucap Bella akhirnya, lebih lirih. “Aku hanya ingin kita kembali seperti pasangan suami istri lainnya yang normal. Yang penuh kasih, canda tawa dan yang tidak sedikit-sedikit berakhir berdebat begini.” Julian tertawa kecil, namun terdengar hambar. “Kau terlalu mendramatisir hal-hal kecil seperti ini.” Ucapan itu membuat hati Bella kembali mengencang. Ia menatap Julian, mencoba menemukan sisa kehangatan di wajah pria itu. Namun yang ia temukan hanyalah kejengkelan dan jarak yang semakin nyata. “Baik,” kata Bella pelan, ia menyerah. “Lakukan saja apa yang menurutmu benar.” Julian tidak menyahut. Ia hanya meraih ponselnya, lalu duduk kembali di ranjang, seolah percakapan di antara mereka berdua sudah selesai. Bella berdiri beberapa detik lebih lama, lalu berbalik melangkah menuju pintu kamar. Tangannya sempat berhenti di gagang pintu, terlihat sedikit ragu. Ia ingin berkata sesuatu lagi. Ingin bertanya. Ingin memastikan sesuatu juga. Namun ia tahu jawabannya tidak akan berbeda. Malam itu, Bella melangkah keluar kamar dengan hati yang semakin berat. Ia menuju dapur tanpa menyalakan lampu utama, dan hanya ditemani oleh cahaya redup dari lampu kecil di sudut ruangan. Ia duduk di kursi makan, menatap kosong ke arah meja. Pikirannya kembali dipenuhi pertanyaan yang belum terjawab. Tentang Julian yang semakin jauh. Tentang rumah tangganya yang terasa semakin kosong. Dan banyak hal lainnya. Bella memejamkan matanya, dan menarik napas panjang. Ia tidak tahu bahwa ketidaknyamanan yang ia rasakan malam ini bukan sekadar firasat kosong. Melainkan sebuah pertanda, bahwa hidupnya akan segera bergerak ke arah yang sama sekali tidak ia bayangkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD