Alvin meletakkan Nadia dengan lembut diatas ranjangnya. Ia kembali keruang tengah dan mengambil ponsel Nadia lalu meletakkannya diatas nakas. Tak lupa menutup dan mengunci pintu. Alvin mengambil posisi duduk disamping Nadia. Matanya menatap lekat sosok yang tengah terlelap dengan sangat nyenyak itu. Tangan Alvin terulur untuk merapikan helaian anak rambut Nadia yang menutupi pipi pualamnya. Alvin benar-benar merasa tersihir. “Kenapa kamu selalu saja menghantui fikiran kakak, Nad,” gumamnya. Tangannya beralih membelai pipi lembut Nadia dan berakhir di bibir pink milik adiknya. Tubuh Alvin membatu. Bibir ini, satu-satunya yang pernah menyentuh pipinya. Bibir yang beberapa waktu yang lalu berhasil membuat hasrat kelelakiannya menghangat. Entah apa yang mengerakkanya. Alvin menunduk begitu s

