Beberapa hari terakhir Aryan selalu pulang terlambat ia selalu menyempatkan diri menjenguk Shilla di rumah sakit, melihat kelakuan suaminya yang sedikit berubah Mauren hanya mendiamkannya.
Keadaan Shilla yang sangat memprihatinkan membuat Aryan merasa iba hingga ia selalu mengunjunginya, Shilla tengah hamil anak Vico namun pria itu melarikan diri dan merasa anak yang dikandung Shilla bukanlah anaknya. Keadaan Shilla mulai membaik setelah mendapatkan perhatian dan kunjungan dari Aryan.
Hari ini setelah pulang bekerja Aryan memutuskan menjenguk Shilla yang masih dirawat di rumah sakit.
"Terima kasih Ar kamu selalu datang ke sini menjengukku" ucap Shilla tersenyum.
"Ya aku hanya ingin kamu dan anakmu kembali sehat" ucap Aryan.
"Andai dulu aku tidak bertindak bodoh pasti anak yang aku kandung ini adalah anakmu" ucap Shilla.
"Sudahlah Shill semuanya sudah berlalu" ucap Aryan.
"Tidak bisakah kita kembali bersama seperti dulu" ucap Shilla.
"Maaf Shill aku sudah bahagia bersama Mauren, dia juga sedang hamil sama sepertimu" ucap Aryan.
"Apa sudah tidak ada lagi tempat untukku di hatimu" ucap Shilla.
"Tempatmu sudah digantikan oleh istriku dan sekarang tempatmu sudah berpindah sebagai sahabatku tidak lebih" ucap Aryan.
Cukup lama Aryan berada di rumah sakit menemani Shilla, Shilla yang merasa Aryan masih sama seperti dulu sangat berharap bisa kembali berhubungan dengan pria itu.
Di rumah Mauren sedang duduk di depan meja makan bersama Nancy dan Chandra.
"Aryan ke mana sih pah sudah jam segini belum pulang" ucap Mauren.
Bukannya Mauren tak tau ke mana suaminya pergi selama ini namun ia hanya berbasa-basi pada mertuanya itu.
"Gak tau nak tadi sore sudah keluar dari kantor dia" ucap Chandra.
Nancy yang mengetahui ke mana anaknya pergi hanya diam saja menatap iba menatunya.
"Ya sudah kamu makan aja dulu" ucap Nancy.
"Mauren gak bisa mah, kalau gak di icipin Aryan dulu makanannya" ucap Mauren.
"Ya sudah papa hubungi Aryan dulu" ucap Chandra, ia berdiri dan mengambil iphonenya lalu mencoba menghubungi anaknya.
Sementara itu Mauren dan Nancy tengah berbincang.
"Mah kenapa ya Mauren merasa Aryan akhir-akhir ini berubah" ucap Mauren.
"Mama gak tau sayang, gimana pah Aryan dimana" ucap Nancy.
"Gak aktif mah" ucap Chandra sambil duduk.
"Ya sudah kalo gitu Mauren ke kamar aja deh, nanti makannya nunggu Aryan pulang" ucap Mauren dan ia berlalu ke kamarnya.
Nancy menatap punggung menantunya yang perlahan menghilang.
"Lihatkan pah kelakuan anakmu dia lebih mementingkan perempuan itu perempuan yang membuat malu keluarga kita, dia sama sekali gak memikirkan istrinya yang lagi hamil" ucap Nancy marah.
"Sudahlah mah paling sebentar lagi Aryan pulang" ucap Chandra.
Pukul sepuluh malam barulah Aryan menginjakkan kakinya di rumah, Nancy yang melihat putranya baru pulang sangat marah.
"Dari mana kamu Ar, dari rumah sakit jengukin Shilla, iya?" ucap Nancy marah.
"Aryan cape mah, malas buat ribut" ucap Aryan.
"Cape kamu bilang, kamu tau istrimu itu belum makan" ucap Nancy.
"Ya dibujuk dong mah" ucap Aryan santai.
"Aryan.... kamu kira mama diam aja melihat dia gak mau makan, kamu tau sendiri dia gak mau makan kalau kamu gak icipin ini kamu malah keluyuran gak jelas" ucap Nancy.
"Mah sudah ini sudah malam jangan ribut" tegur Chandra.
Aryan masuk kamarnya dan melihat Mauren sudah tertidur lelap.
"Maaf sayang" ucap Aryan dikecupnya pipi Mauren, ia melihat jejak air mata di pipi istrinya tersebut.
Tengah malam Mauren membuka matanya ia merasa lapar, ia merasakan beban berat yang menimpa perutnya. Aryan memeluknya dari belakang, perlahan dilepaskannya pelukan suaminya itu dan ia segera keluar dari kamar menuju ke dapur mencari makanan.
Mauren menghangatkan makanan yang ada di lemari dan ia makan seorang diri.
Baru saja menyuapkan makanannya ia kemudian berlari ke kamar mandi memuntahkan makanan yang dimakannya, ia merasa makanan yang dimakannya tak seenak kalau sudah dicicipi suaminya.
"Kenapa sih de kamu terlalu bergantung sama daddy kamu, mami kan lapar..." ucap Mauren mengusap perutnya.
Aryan terbangun merasakan Mauren tak ada disampingnya. Ia segera turun dan dilihatnya perempuan itu sedang mengaduk-aduk makanannya.
"Sayang... ko kamu ninggalin aku sih" ucap Aryan namun Mauren hanya diam tak menjawab, ia kesal pada suaminya yang melupakan dirinya dan lebih memilih bersama Shilla.
"Sayang... ko diam aja sih" ucap Aryan dan Mauren kembali diam masih mengaduk makanannya.
"Ko makanannya gak dimakan sayang" tanya Aryan.
"Aku ngantuk" ucap Mauren ia berdiri meninggalkan Aryan.
"Sayang hei... sayang kamu kenapa sih" ucap Aryan yang menyusul ke kamar.
"Aku gapapa" ucap Mauren ia segera berbaring memunggungi sang suami.
"Kamu marah aku pulang telat" ucap Aryan sambil memeluk Mauren.
"Lepas Ar..." ucap Mauren, ia menyingkirkan tangan Aryan yang memeluknya.
"Maaf sayang, aku janji besok gak pulang telat lagi" ucap Aryan.
"Gak usah berjanji kalau kamu gak bisa menepatinya Ar" ucap Mauren.
"Aku gak suka kamu manggil namaku" ucap Aryan.
"Aku ngantuk" ucap Mauren.
---
Pagi hari Mauren terbangun dan ia segera menyiapkan pakaian kerja untuk Aryan dan seperti biasa ia tak mandi jika hanya di rumah.
"Pagi mah..." ucap Mauren menghampiri mertuanya.
"Pagi sayang, Aryan mana" tanya Nancy.
"Masih tidur mah" sahut Mauren.
Mauren membantu mertuanya menyiapkan sarapan dan tak lama Aryan juga Chandra masuk ke ruang makan.
"Kamu kenapa gak bangunin aku" ucap Aryan.
"Kamu bisa bangun sendiri kan" ucap Mauren sambil mengoles rotinya.
"Ar papa duluan ya" ucap Chandra dan Aryan mengangguk.
"Hari ini jadwal aku check up, kalau mau ikut jam empat" ucap Mauren cuek.
"Iya aku usahakan pulang cepat, aku berangkat ya" ucap Aryan mengusap perut Mauren dan saat ia akan mengecup bibirnya Mauren memalingkan wajahnya.
"Ya sudah aku berangkat" ucap Aryan, ia sangat tau Mauren marah padanya.
Bersambung