Setelah makan siang, ponsel Lady bergetar. Terdapat sebuah panggilan dari kantor, tepatnya dari sekretaris Pak Burhan, kepala departemennya, memintanya untuk segera datang.
"Ada apa?" Narren segera melempar pertanyaan ketika melihat gurat masam dari wajah istrinya.
"Aku harus ke kantor sebentar," pamit Lady sambil bersiap ke kamar untuk berganti pakaian dan mengambil tasnya.
"Perlu aku antar?"
"Enggak usah. Kamu di sini saja, istirahat. Aku nggak akan lama," tolak Lady halus. Ia belum siap membiarkan orang-orang tahu soal Narren. Pasti akan jadi gosip besar jika mereka tahu Lady tiba-tiba sudah menikah dengan pemuda itu, hanya beberapa hari setelah pernikahan dengan sang tunangan batal.
Sesampainya di kantor, suasana masih sepi karena jam makan siang. Lady melangkah cepat menuju kubikelnya. Namun ia langsung dihadang oleh Tika, rekan kerja sekaligus teman dekatnya.
"Lady! Ya ampun, akhirnya kamu muncul juga!" Tika setengah berteriak, menarik lengan Lady menuju sudut koridor yang agak sepi.
Lady menghela napas, mencoba mengatur detak jantungnya. "Ada apa sih, Tik? Aku dipanggil Pak Burhan, katanya ada urusan penting."
Tika menatap Lady dengan tatapan prihatin. "Kamu sudah tahu belum? Pak Burhan tadi pagi baru saja menandatangani berkas pengunduran diri kamu yang kamu ajukan satu setengah bulan lalu itu."
Jantung Lady serasa berhenti berdetak. "Apa? Tapi... tapi kan aku belum kasih konfirmasi akhir."
"Masalahnya, Lady... kamu tahu kan posisi kamu itu krusial? Gosipnya, HRD sudah dapat pengganti kamu. Katanya besok orangnya sudah mulai training. Jadi, kemungkinan besar pengunduran diri kamu bakal langsung di-acc tanpa nego."
Lady merasa dunianya seolah berputar. Seluruh persendiannya mendadak lemas. "Besok? Kok cepat banget? Mereka nggak tanya aku dulu?"
"Ya kamu kan sudah tanda tangan surat itu sebulan yang lalu!" seru Tika gemas.
"Dulu kan kamu bilang Harris yang minta kamu berhenti kerja setelah nikah supaya bisa fokus jadi ibu rumah tangga. Makanya kamu buru-buru ajukan resign supaya bisa keluar tepat waktu setelah bulan madu. Sekarang... yah, kondisinya kan berubah. Tapi perusahaan mana mau tahu soal urusan pribadi kamu?"
Lady memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. "Sial. Ini benar-benar kacau."
"Kenapa? Bukannya kamu memang mau berhenti?" tanya Tika bingung.
Lady merutuk dalam hati. "Tentu saja tidak! Itu dulu saat Harris menjanjikan nafkah bulanan. Aku kira aku cukup jadi ibu rumah tangga aja setelah nikah."
"Sekarang beda, Tik," gumam Lady frustrasi. "Aku butuh pekerjaan ini. Aku baru saja... ah, pokoknya aku harus bicara sama Pak Burhan."
"Semoga beruntung ya, Lady. Tapi aku dengar kontrak sama orang baru itu sudah diteken tadi siang. Susah kayaknya kalau mau ditarik lagi," pungkas Tika sebelum berlalu.
Lady berjalan menuju ruang kerja Pak Burhan dengan langkah berat. "Tagihan listrik dan wifi bulan depan, biaya asuransi, dan... Narren. Duh... gimana ini?"
"Gila! Aku baru saja memungut pria dari jalanan, menikahinya, dan menjanjikan akan menanggung hidupnya sebagai kompensasi karena dia mau jadi suamiku. Sekarang, kalau aku pengangguran, kami mau makan apa? Makan cinta? Yang benar saja!"
Lady mengetuk pintu ruangan Pak Burhan dengan tangan gemetar.
"Masuk," suara berat dari dalam menyahut.
Pak Burhan, pria paruh baya dengan kacamata yang bertengger di ujung hidung, menatap Lady dari balik tumpukan dokumen. Ia menghela napas panjang, seolah sudah menduga kedatangan Lady.
"Duduk, Lady," ucapnya formal.
Lady duduk di kursi di depan meja besar itu, tangannya bertaut erat di pangkuannya. "Pak, saya dengar soal pengunduran diri saya..."
Pak Burhan mengangguk, ia menggeser sebuah map berwarna biru ke arah Lady. "Iya. Saya baru saja menyelesaikannya dengan bagian personalia. Mengingat surat yang kamu ajukan satu setengah bulan lalu mencantumkan tanggal efektif besok, maka per hari ini, tugas-tugas kamu sudah dialihkan. Besok kamu diperbolehkan mengemasi barang-barangmu."
"Pak, tunggu dulu," potong Lady cepat, suaranya naik satu nada karena panik. "Maksud kedatangan saya ke sini sebenarnya... saya ingin mencabut surat pengunduran diri itu. Ada perubahan rencana dalam hidup pribadi saya. Saya ingin tetap bekerja di sini. Saya masih sangat kompeten, Bapak tahu itu."
Pak Burhan menatap Lady dengan tatapan iba. "Lady, kamu adalah salah satu supervisor terbaik yang kami punya. Tapi kamu harus paham prosedur perusahaan. Begitu surat pengunduran diri diajukan dan diproses hingga ke level direksi, itu sudah dianggap final. Apalagi, kami sudah melakukan rekrutmen. Pekerja baru itu sudah menandatangani kontrak. Kami tidak bisa membatalkan kontrak itu begitu saja hanya karena kamu berubah pikiran."
"Tapi Pak, saya benar-benar butuh pekerjaan ini. Saya bisa bekerja lebih keras dari biasanya. Saya bisa pegang proyek tambahan kalau perlu," mohon Lady.
"Maaf, Lady. Keputusan ini sudah mutlak. Manajemen juga mempertimbangkan stabilitas emosional karyawan. Kami sudaj dengar berita tentang pernikahanmu yang batal. Beberapa orang mulai membicarakannya. Perusahaan merasa mungkin ini saat yang tepat untuk kamu beristirahat dan menata hidupmu kembali di tempat lain."
Lady terpaku. Ia tak menyangka jika berita itu akan berdampak sebesar ini ke dunia kerjanya.
"Tapi saya profesional, Pak! Urusan pribadi saya tidak akan mengganggu kerja saya!"
"Keputusan tetap tidak bisa diubah, Lady. Besok adalah hari terakhirmu. Silakan selesaikan serah terima pekerjaan dengan asistenku sore ini."
Lady keluar dari ruangan itu dengan pandangan kosong. Ia berjalan melewati deretan kubikel rekan-rekannya yang menatapnya dengan berbagai ekspresi.
"Gimana, Lady? Di-acc?" Tika mencegatnya lagi di depan mesin kopi.
Lady hanya mengangguk lemah. "Iya. Besok hari terakhirku."
"Aduh, sabar ya. Kamu kan pinter, pasti cepat dapat kerja lagi di tempat lain," hibur Tika.
"Iya, semoga," sahut Lady pendek.
Ia segera merapikan beberapa dokumen di mejanya. Namun pikirannya melayang jauh. "Gimana aku mau jelasin ke Narren?" batinnya miris.
"Aku baru saja pamer di depannya kalau aku adalah wanita mandiri yang mapan dan bisa menjamin hidupnya selama dia bersamaku. Sekarang? Aku cuma wanita pengangguran dengan sisa tabungan yang mungkin hanya cukup untuk hidup kami dua bulan ke depan. Ah sial... tabunganku juga benar-benar ludes karena pernikahan itu."
Lady berjalan menuju parkiran dengan bahu merosot. Ia masih tidak tahu harus bagaimana untuk ke depannya. Apabila Narren tahu Lady sekarang seorang pengangguran, apa pria itu akan meninggalkannya?
Ia melajukan mobilnya kembali ke apartemen dengan perasaan kalut. Di sepanjang jalan, ia terus bergumam sendiri, menyumpahi nasib sial yang terus-terusan mengejarnya.
"Kenapa hidupku jadi seberantakan ini sih? Aku pikir batal nikah dengan Harris merupakan puncak penderitaanku. Ternyata, masih banyak duri-duri lain dalam hidupku."
Ia membayangkan wajah Narren yang tampan itu. "Cowok itu pasti bakal ngetawain aku. Atau lebih buruk lagi, dia bakal ninggalin aku karena ternyata aku nggak sekaya yang dia kira. Duh, tapi dia kan sudah janji mau jagain aku? Tapi mau jagain pakai apa kalau buat makan saja susah?"
Isak tangis kecil mulai terdengar di dalam mobil. Lady merasa sangat lelah. Ia ingin sekali sampai di rumah, mencurahkan segala keluh kesahnya pada seseorang.
Sesampainya di lobi apartemen, ia berjalan gontai menuju lift. Ia membayangkan Narren akan menyambutnya di depan pintu dengan senyum tipisnya.
"Narren... aku pulang," ucap Lady lirih saat ia membuka pintu unit apartemennya.
Hening.
Lady mengernyitkan dahi. Ia melangkah masuk lebih dalam. Ruang tamu kosong. Dapur bersih, sisa-sisa makan siang tadi sudah dirapikan dengan sempurna. Ia memeriksa kamarnya, tapi kosong.
"Narren?" Lady memanggil lebih keras.
Tetap tidak ada jawaban.
Ia memeriksa kamar mandi, nihil. Lady duduk di sofa ruang tamu, menatap sekeliling ruangan yang mendadak terasa sangat luas dan sepi. Ia merogoh ponselnya, hendak menelpon Narren. Namun ia menjadi ragu. "Memang aku siap ceritain ke dia soal kejadian hari ini? Dia pasti bakalan kecewa banget sama aku."
Lady menyandarkan punggungnya di sofa, memejamkan mata rapat-rapat. Air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya.
"Kamu ke mana, sih?" bisiknya pilu.
"Jangan bilang kamu juga pergi ninggalin aku? Apa harus secepat ini?"
Rasa sepi itu menghimpitnya. Kehilangan pekerjaan adalah pukulan telak bagi harga diri Lady. Namun mendapati apartemen ini kosong tanpa kehadiran pria yang akhir-akhir ini selalu bisa menenangkannya dan membuatnya merasa aman terasa jauh lebih menyakitkan.
"Aku benar-benar sendirian sekarang," tangis Lady pecah di tengah keheningan. Ia meringkuk di atas sofa, memeluk bantal erat-erat, meratapi nasibnya yang kini benar-benar berada di ujung tanduk.